Dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) ditutup sementara imbas 50 balita hingga ibu hamil diduga mengalami keracunan menu makan bergizi gratis (MBG). Dapur itu ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
"Ditutup sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan," ujar Wakil Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Sulbar, Hasri saat dihubungi wartawan, Kamis (15/1/2026).
Hasri mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan. Selain itu, investigasi juga dilakukan dari BGN pusat terhadap dapur SPPG Tubo Sendana Onang Yayasan Kreatif Jaya Perdana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, hasil lab dan investigasi itu nantinya akan menjadi rujukan mengambil keputusan. BGN akan mempertimbangkan apakah dapur SPPG tersebut bisa berlanjut atau ditutup permanen.
"Ditutup permanan atau apa, jadi dilihat dulu investigasi (dari BGN pusat), yang memutuskan nanti dari pusat," terangnya.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan jika dapur SPPG itu sebenarnya sudah mengajukan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) sejak beroperasi awal Desember 2025. Namun proses pengajuan masih berjalan.
"Sementara pengajuan, dapur ini harus berjalan dulu, tidak keluar (SLHS) sebelum running (berjalan dapur SPPG), proses cukup lama, mungkin 1 sampai 3 bulan (keluar SLHS itu)," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, dugaan keracunan dialami para korban usai menyantap MBG yang didistribusikan di sekolah dan posyandu di Kecamatan Tubo Sendana, Majene pada Selasa (12/1). Menu MBG itu dimasak dalam dua sesi lalu didistribusikan pagi dan siang hari.
Kemudian sekitar pukul 20.30 Wita, beberapa orang mulai mengeluh sakit kepala, demam, mual, muntah hingga diare. Mereka kemudian dilarikan ke Puskesmas Sendana II dan Puskesmas Salutambung.
"Dugaan keracunan pangan MBG di wilayah kerja Puskesmas Sendana II Kabupaten Majene yang melibatkan 50 orang," ujar Kadinkes-P2KB Sulawesi Barat Nursyamsi Rahim dalam keterangannya, Selasa (13/1).
Berdasarkan data Dinkes Sulbar, para korban mayoritas balita berjumlah 21 orang, siswa 18 orang, guru dan staf 6 orang. Kemudian ibu hamil 3 orang dan ibu menyusui 2 orang.
(hsr/asm)










































