Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan tewas tergantung di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak SD itu diduga nekat gantung diri karena tak dibelikan buku dan pulpen.
Peristiwa tersebut terjadi di kebun milik nenek korban di Kecamatan Jerebuu pada Kamis (29/1/2026). Namun nahas saat ditemukan, nyawa korban sudah tidak bisa diselamatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polisi datang evakuasi, kondisinya sudah tidak ada napas," kata Camat Jerebuu, Bernardus H Tage, dilansir detikBali, Jumat (31/1).
Dirangkum dari detikBali, Rabu (4/2/2026), berikut 5 Fakta kasus siswi SD yang gantung diri di NTT:
1. Gantung Diri di Kebun Nenek
YBR ditemukan gantung diri pada pohon cengkih di kebun milik neneknya. Pohon cengkih tersebut hanya berjarak tiga meter dari pondok tempat tinggalnya bersama sang nenek.
"Pohon cengkih tinggi sekitar 15 meter. Ikat tali sekitar lima meter," kata Bernardus.
Bernardus mengungkap, korban selama ini tinggal bersama sang nenek di pondok tersebut. Ibu YBS tinggal terpisah di desa tetangga bersama saudara korban.
Nahasnya saat kejadian tersebut, sang nenek tidak berada di pondok. Nenek YBR yang tahu cucunya menginap di rumah sang ibu baru mengetahui kejadian tersebut setelah diberitahu warga.
"Omanya bantu pecah kemiri di rumah tetangga. Nginap di rumah tetangga. Korban ini malamnya tidur di rumah orang tuanya," jelas Bernardus.
2. Ditemukan Tetangga yang Mengikat Ternak
Korban ditemukan gantung diri oleh tetangganya saat sedang pergi mengikat hewan ternak di kebun nenek YBR. Tetangga korban kemudian menemukan YBR tergantung di pohon cengkih saat hendak ke pondok nenek korban untuk meminta dijagakan ternaknya.
Tetangga yang melihat korban kemudian melapor ke aparat setempat. Saat dievakuasi oleh aparat, korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
3. Polisi Temukan Sepucuk Surat: Mama Pelit Sekali
Polisi yang datang mengevakuasi YBR menemukan surat tulisan tangan korban. Surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa tersebut diduga ditulis tepat sebelum korban memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
"Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis," kata Kasi Humas Polres Ngada Ipda Benediktus R Pissort, Selasa (3/2).
Dalam surat tersebut, YBR menyebut ibunya pelit yang diduga sebagai ungkapan kekecewaan korban terhadap sang ibu. Selebihnya, surat tersebut berisi ungkapan perpisahan disertai gambar anak menangis.
Berikut isi surat YBR kepada sang ibu beserta artinya dalam bahasa Indonesia:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
4. Kecewa Tak Dibelikan Buku dan Pulpen
YBR nekat gantung diri diduga dipicu kekecewaan usai permintaannya tidak dipenuhi sang ibu. Ia kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Kepala Desa Naruwolo Dion Roa menjelaskan pada malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya dan sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi sang ibu karena kondisi ekonominya yang susah.
"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2).
5. Kondisi Ekonomi Keluarga Terhimpit, Biayai 5 Anak
Dion Roa mengungkap kondisi ekonomi keluarga YBR memang sulit. Sang ibu harus membiayai lima orang anak sejak berpisah dari ayah korban sejak 10 tahun lalu.
"Hidupnya (ibu korban) susah," ungkapnya.










































