Renungan harian Katolik menjadi kesempatan bagi umat untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali menata hati di hadapan Tuhan. Melalui permenungan Sabda, kita diajak untuk melihat lebih dalam kondisi batin kita: apakah selama ini kita sungguh terbuka terhadap suara Tuhan, atau justru menutup diri karena ego, luka, dan keraguan?
Renungan harian Jumat, 13 Februari 2026 mengangkat tema "Efata! Terbukalah!" yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik yang ditulis oleh F Angelina Wiraatmaja. Pada hari ini, kita diajak untuk memohon rahmat agar Tuhan menyentuh hidup kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih peka, taat, dan percaya.
Nah, secara lengkap artikel ini memuat tentang:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Bacaan dan renungan harian 13 Februari 2026 berdasarkan kalender liturgi;
- Teks mazmur tanggapan;
- Teks doa penutup;
Yuk, simak selengkapnya!
Renungan Harian Katolik Hari Ini 13 Februari 2026
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Bacaan I: 1 Raj. 11:29-32;12-19
Pada waktu itu, ketika Yerobeam keluar dari Yerusalem, nabi Ahia, orang Silo itu, mendatangi dia di jalan dengan berselubungkan kain baru. Dan hanya mereka berdua ada di padang.
Ahia memegang kain baru yang di badannya, lalu dikoyakkannya menjadi dua belas koyakan;
dan ia berkata kepada Yerobeam: "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku.
Tetapi satu suku akan tetap padanya oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem, kota yang Kupilih itu dari segala suku Israel.
Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.
Mazmur Tanggapan: Mzm 81:10-11ab,12-13,14-15
Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.
Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.
Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!
Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!
Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku.
Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya.
Bacaan Injil: Mrk. 7:31-37
Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Renungan Harian: Efata! Terbukalah!
Sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, "Efata!", artinya: Terbukalah! (Mrk.7:34)
Dalam kesibukan hidup sehari-hari, pekerjaan, bisnis, gaya hidup, dan berbagai tuntutan, sering kali Tuhan tergeser dari prioritas. Ritme hidup yang padat membuat kita kehilangan ruang untuk hening dan tidak lagi peka mendengarkan bisikan kehendak-Nya. Telinga batin pun dipenuhi kebisingan duniawi hingga kita menjadi tuli secara rohani. Karena itu, seruan Yesus, "Efata! Terbukalah!" menjadi panggilan yang relevan agar hati kita kembali terbuka untuk mendengarkan Firman, memahami kehendak Bapa, dan mewartakan kasih-Nya kepada sesama.
Bacaan di atas menunjukkan bahwa Yesus menyembuhkan di wilayah Dekapolis, daerah non-Yahudi, yang menegaskan bahwa rahmat, kasih, dan kuasa-Nya melampaui batas geografis, budaya, dan suku bangsa. Perikop ini menggambarkan keterbatasan manusia; baik secara fisik, tuli dan gagap, maupun secara rohani; terutama dalam relasi dengan Tuhan. Yesus menyembuhkan dengan cara yang sangat personal dan penuh kasih, dengan menarik orang itu ke tempat tersendiri, menyentuhnya, dan berseru "Efata!" lalu sembuhlah orang itu. Seruan Yesus, "Efata! Terbukalah!" juga menjadi undangan agar hati manusia terbuka untuk mendengar Firman, memahami kehendak Tuhan, dan mewartakan kasih-Nya.
Santo Bartolo Longo adalah contoh nyata bagaimana seruan 'Efata' bekerja dalam kehidupannya. Ia dikenal sebagai Rasul Rosario yang diangkat menjadi santo pada Oktober 2025. Ia bertobat dari imam pemuja setan dan hidup dalam kegelapan rohani yang mendalam. Hatinya tertutup bagi Tuhan, telinga batinnya terbuka bagi suara yang salah. Hidupnya diliputi kegelisahan, kehampaan, dan keputusasaan. Di titik terendah hidupnya, Tuhan menyapanya melalui Doa Rosario, dan terjadilah 'Efata' dalam hidupnya.
Hatinya terbuka untuk kembali mendengarkan Tuhan. Hidupnya dipulihkan. Mulutnya yang dahulu salah arah, kini dibuka untuk mewartakan kasih Allah. Dari seorang yang tersesat, ia berubah menjadi penyebar Rosario yang sangat berbuah, membangun karya iman dan sosial, serta membawa banyak jiwa kembali kepada Tuhan. Hidupnya menjadi kesaksian bahwa ketika hati terbuka, rahmat Tuhan bekerja melampaui masa lalu manusia.
Sudahkah hati dan telinga batin kita sungguh terbuka untuk mendengarkan suara Tuhan di tengah kesibukan hidup?
Doa Penutup
Bapa Yang Maha Pengasih, di tengah kesibukan hidup kami, bukalah telinga dan hati kami agar peka mendengarkan firman-Mu. Mampukan kami menyediakan ruang hening untuk memahami kehendak Bapa dan menjadikan hidup kami sebagai sarana pewartaan kasih-Mu bagi sesama. Kami alaskan doa ini di dalam nama Yesus Kristus Putra-Mu dan pengantara kami. Amin.
Itulah renungan harian Katolik Jumat, 13 Februari 2026. Semoga bermanfaat!
(urw/urw)
