Rentetan Insiden Penerbangan di Papua Bikin Pilot Khawatir

Rentetan Insiden Penerbangan di Papua Bikin Pilot Khawatir

Tim detikTravel - detikSulsel
Minggu, 15 Feb 2026 11:00 WIB
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) penembakan pesawat Smart Air PK-SNR di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan
Polisi melakukan olah TKP penembakan pesawat Smart Air PK-SNR di Bandara Koroway Batu. Foto: (dok. istimewa)
Makassar -

Para pilot disebut khawatir dengan terjadinya rentetan insiden yang menimpa dunia penerbangan di Papua, khususnya yang bertugas di wilayah perintis. Penerbang senior, Daniel Putut Kuncoro Adi yang akrab disapa Capt Daniel, menegaskan pentingnya jaminan keamanan dari seluruh pemangku kepentingan.

Melansir detikTravel, Capt Daniel menilai secara regulasi seharusnya bandara dan operasional penerbangan telah melalui proses Hazard Identification dan Risk Assessment (HIRA). Perusahaan penerbangan wajib memastikan tingkat risiko sebelum membuka rute ke daerah tertentu.

Namun insiden ini, kata dia, membuat para pilot mempertanyakan kembali jaminan keamanan di lapangan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh stakeholder, termasuk pengelola bandara dan aparat keamanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengingat bandara merupakan objek vital nasional sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004, maka menurutnya pengamanannya tidak boleh dianggap remeh.

Capt Daniel juga menyoroti aspek infrastruktur bandara, terutama di wilayah perintis. Bandara idealnya dilengkapi pagar perimeter, menara pengawas, petugas aviation security, hingga fasilitas navigasi dan pemadam kebakaran sesuai standar regulasi internasional seperti Annex 14 dan CASR (Civil Aviation Safety Regulation) 139.

ADVERTISEMENT

Ia menyinggung insiden yang terjadi di Bandara Korowai Batu sebagai alarm bagi semua pihak untuk mengevaluasi kelengkapan fasilitas dan sistem pengamanan.

"Nah ini menjadi satu atensi supaya kita serius untuk membangun infrastruktur sesuai dengan regulasi, itu dulu. Pertama, karena bandara harus dilengkapi dengan perimeter, kemudian dilengkapi dengan menara pengawas, dilengkapi dengan petugas yang melakukan pengawasan terhadap menara pengawas ini. Dan tentunya ada petugas keamanan bandara atau aviation security. Nah ini kita lihat harusnya, bagaimana, terjadi enggak di bandara Korowai Batu ini," katanya.

Data Kementerian Perhubungan mencatat terdapat sekitar 94 bandara di Papua yang dikategorikan aman. Namun, masih ada pula bandara swadaya yang jumlahnya bisa mencapai ratusan dan memerlukan perhatian lebih dalam hal standarisasi dan pengamanan.

Di Papua, penerbangan perintis bukan sekadar layanan transportasi biasa. Dengan kondisi geografis yang sulit, medan berat, serta minimnya akses darat dan sungai, pesawat menjadi satu-satunya penghubung utama antarwilayah.

"Kalau tidak ada penerbangan, daerah itu akan merasa terisolasi. Karena dari sisi medan dan geografi sangat tidak memungkinkan dilakukan perjalanan darat," ungkapnya.

Karena itu, menurut Capt Daniel, keselamatan dan keamanan penerbangan di wilayah perintis bukan hanya soal industri aviasi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat di daerah terpencil.

Di Papua sudah ada beberapa kasus yang menimpa dunia penerbangan. Mulai dari penculikan pilot Susi Air, penembakan pesawat Wings Air bulan Februari 2024, penembakan terhadap pesawat Trigana Air di Yahukimo pada 2023 lalu.

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming pun membatalkan jadwal kunjungan kerjanya di Yahukimo, Papua Pegunungan secara mendadak pada Rabu (14/1/2026) karena alasan keamanan.




(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads