Niat Sholat Tarawih Berjamaah di Masjid, Lengkap untuk Imam dan Makmum

Niat Sholat Tarawih Berjamaah di Masjid, Lengkap untuk Imam dan Makmum

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Rabu, 18 Feb 2026 19:53 WIB
Ilustrasi bacaan niat sholat Tarawih berjamaah di masjid, lengkap untuk imam dan makmum.
Foto: Ilustrasi sholat Tarawih berjamaah di masjid. (dok. Istimewa)
Makassar -

Umat Islam sangat dianjurkan melaksanakan sholat Tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan. Pelaksanaan sholat Tarawih ini umumnya dikerjakan secara berjamaah di masjid setelah sholat Isya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan awal 1 Ramadhan jatuh pada 19 Februari 2026. Keputusan ini ditetapkan melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Dengan demikian, umat Islam yang mengikuti jadwal pemerintah, mulai mengerjakan sholat Tarawih pada malam ini, Rabu 18 Februari 2026. Sebagai panduan, berikut bacaan niat sholat Tarawih berjamaah, doa setelah sholat Tarawih, beserta ketentuan jumlah rakaatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Niat Sholat Tarawih Berjamaah di Masjid

Dilansir dari buku 'Tuntunan Lengkap 99 Salah Sunah Superkomplet' karya Ibnu Watiniyah, berikut bacaan niat sholat Tarawih berjamaah untuk imam maupun makmum:

Niat Sholat Tarawih Berjamaah sebagai Imam

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

ADVERTISEMENT

Arab Latin: Ushallii sunnatat taraawiihi rakataini mustaqbilal qiblati imaaman lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Saya niat sholat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai imam, karena Allah Taala."

Niat Sholat Tarawih Berjamaah sebagai Makmum

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا الِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Ushallii sunnatat taraawiihi rakataini mustaqbilal qiblati ma'muuman lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Saya niat sholat sunah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai makmum, karena Allah Taala."

Doa Setelah Sholat Tarawih

Umat Islam dianjurkan membaca doa setelah melaksanakan sholat Tarawih. Berikut bacaan doa setelah sholat Tarawih:

اللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِينَ . وَلقَرَائِضِكَ مُؤدِّينَ . وعلى الصلواتِ مُحَافِظِينَ . وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِينَ. وَلمَا عِنْدَكَ طَالِبِينَ وَلِعَفُوكَ رَاجِيْنَ وَبِالْهُدَى مُتمَسكِينَ. وَعَن اللَّغْوِ مُعْرِضِينَ. وَفِي الدُّنْيَا رَاهِدِينَ وفِي الْآخِرَةِ رَاغِبِينَ وَبِالْقَضاءِ رَاضِينَ . وَبِالنِّعْمَاءِ شاكرين. وعلى البلايا صابرين . وتحت لواء سيدنا مُحَمَّدِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِينَ، وَعَلَى الْحَوْض واردِينَ . وَفِي الْجَنَّةِ دَاخِلِينَ وَمِنَ النَّارِ نَاجِينَ . وَعَلَى سَرِيرَةِ الكرامة قاعِدِينَ. وَبِحُور عين متزوجينَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيبَاجٍ مُتَلَيْسِينَ . وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِينَ . وَمِنْ لَّبَن وَعَسَلٍ مُصفّين شاربين بأكواب وأباريق وكأسٍ مِنْ مَعِين . مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا. ذلك الْفَضلُ مِنَ الله وكفى باللهِ عَلِيمًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Arab Latin: Allaahummaj'alnaa bil-iimaani kaamiliin. Wa li faraa'idhika mu'addiina wa 'alash- shalawaati muhaafizhiin. Wa liz-zakaati faa'iliin. Wa limaa 'indaka thaalibiin. Wa li 'afwika raajiin. Wa bil- hudaa mutamassikiin. Wa 'anil-laghwi mu'ridhiin. Wa fid-dun- yaa zaahidiin. Wa filaakhirati raaghibiin. Wa bil-qadhaa'i raadhiin. Wa bin-na'maa'i syaakiriin. Wa 'alal-balaayaa shaabiriin. Wa tahta liwaa'i sayyidinaa Muhammadin shallallaahu 'alaihi wa sallama yaumal-qiyaamati saa'iriin. Wa 'alal-haudhi waaridiin. Wa fil-jannati daakhiliin. Wa minannaari naajiin. Wa 'alaa sariiratil-karaamati qaa'idiin. Wa bihuurin 'iinin mutazawwijiin. Wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin. Wa min tha'aamil-jannati aakiliin. Wa min labanin wa 'asalin mushaffaini syaaribiin. Bi'akwaabin wa abaariiqa wa ka'sin min ma'iin. Ma'al-ladziina an'amta 'alaihim minan-nabiyyiina wash- shiddiiqiina wasysyuhadaa'i wash- shaalihiin. Wa hasuna ulaa'ika rafiiqaa. Dzaalikal-fadhlu minallaahi wa kafaa billaahi 'aliimaa Wal-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin.

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah kami (orang-orang) yang beriman sempurna, dapat menunaikan segala fardhu, menjaga shalat, menunaikan zakat, menuntut/mencari segala kebaikan di sisi-Mu, mengharap keampunan-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-petunjuk- Mu, terlepas/terhindar dari segala penyelewengan dan zuhud di dunia dan mencintai amal untuk bekal di akhirat dan rela terhadap ketentuan-Mu dan mensyukuri segala nikmat-Mu, tabah (sabar) menerima cobaan dan semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawah naungan panji-panji junjungan kami Nabi Muhammad saw. dan melalui telaga yang sejuk, masuk ke dalam surga, terhindar dari api neraka dan duduk di tahta kehormatan, didampingi oleh bidadari surga, dan mengenakan baju-baju ke- besaran dari sutera berwarna-warni, menikmati santapan surga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih dalam gelas- gelas dan kendi-kendi yang tak kering-keringnya, bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada me- reka dari golongan para nabi, siddiqin, dan orang-orang yang syahid serta orang-orang saleh. Dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan dari Allah SWT dan kecukupan dari Allah Yang Maha Mengetahui. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ketentuan Jumlah Rakaat Sholat Tarawih

Secara umum, sholat Tarawih diyakini dapat dikerjakan sebanyak 8 atau 20 rakaat. Namun, perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat sholat Tarawih ini sering menjadi pembahasan.

Melansir laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), salah satu dalil yang kerap dijadikan rujukan pelaksanaan sholat Tarawih 8 rakaat adalah berasal dari hadits Aisyah RA. Berikut bunyi haditsnya:

"Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat shalat (malam) di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat, maka jangan engkau tanyakan tentang keindahan dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, lalu beliau sholat tiga rakaat." (HR Al Bukhari & Muslim)

Sementara jumlah 20 rakaat dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Meski demikian, Umar RA tidak pernah menyatakan bahwa jumlah tersebut menjadi satu-satunya bentuk yang harus diamalkan.

Para ulama besar seperti Asy-Syafii, Imam Ahmad, dan Imam Malik, mengakui bahwa jumlah rakaat Tarawih tidak dibatasi secara mutlak. Artinya, umat Islam diberi kelonggaran untuk memilih jumlah rakaat selama dikerjakan dengan khusyuk.

Hal ini juga dikuatkan oleh hadits dari Ummu Salamah RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika seseorang khawatir datangnya fajar, hendaklah ia sholat satu rakaat sebagai witir untuk mengganjilkan shalat yang telah dilakukan." (HR. Al Bukhari & dan Muslim).

Bahkan, Imam Ibn Abd al-Barr dalam kitabnya At Tahmid menyatakan bahwa sholat malam di bulan Ramadhan bersifat sunnah dan tidak ditentukan bilangan rakaatnya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, sholat tarawih 8 rakaat maupun 20 rakaat sama-sama memiliki dasar dalil dan telah diamalkan oleh para ulama. Karena itu, yang paling penting bukanlah jumlah rakaatnya, melainkan menjaga keikhlasan dan kekhusyukan dalam setiap rakaat yang dikerjakan.




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads