Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII telah menurunkan tim untuk melakukan asesmen terkait temuan batu berwajah manusia diduga kalamba atau peninggalan zaman megalitikum di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Dari hasil pemeriksaan sementara, batu yang viral di media sosial itu sudah rusak diduga akibat tambang emas ilegal di lokasi.
"Kerusakan tersebut diasumsikan bisa disebabkan oleh proses penambangan yang menggunakan alat berat, atau mungkin juga ada kemungkinan rusak secara sengaja," ujar Kepala BPK Wilayah XVIII, Andriany kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).
Andriany menjelaskan, pemicu kerusakan tersebut masih berupa asumsi dari tim di lapangan. Pihaknya masih akan melakukan pendalaman lebih lanjut terkait temuan batu tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak menutup kemungkinan pula adanya unsur kesengajaan. Informasi yang kami peroleh ada faktor kesengajaan untuk merusak kalamba bermotif wajah itu. Tapi ini masih perlu pendalaman lebih lanjut," terangnya.
"Teman-teman di lapangan juga melakukan wawancara terhadap beberapa masyarakat yang bersedia memberikan keterangan. Namun ada juga warga yang tidak bersedia diwawancarai," tambah Andriany.
Andriany melanjutkan, pihaknya juga menemukan lumpang atau perkakas batu di lokasi. Tim masih melakukan penelusuran di sekitar lokasi lain memastikan temuan benda serupa.
"Dari temuan yang berhasil didata di lokasi, ditemukan 1 buah kalamba dan 3 buah lumpang. Tim juga melakukan pencarian serta survei terhadap kemungkinan temuan lain yang tersebar di sekitar lokasi," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, batu dengan pahatan bergambar wajah manusia itu ditemukan oleh warga di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), Desa Dongi-dongi, Kecamatan Lore Utara, Poso. BPK Wilayah XVIII telah menerima informasi penemuan batu itu pada Rabu (4/3).
BPK Wilayah XVIII telah menindaklanjuti laporan itu dengan menurunkan tim arkeolog dan polisi khusus (polsus) di lokasi. Tim yang bertugas akan melakukan asesmen untuk memastikan bebatuan tersebut masuk dalam cagar budaya atau bukan.
"Hal ini penting karena bisa saja benda tersebut, walaupun bentuknya menyerupai kalamba atau beberapa peninggalan megalitik lainnya, belum tentu merupakan warisan budaya masa lalu," beber Andriany.
Saat ini BPK Wilayah XVIII masih menunggu perkembangan lebih lanjut dari tim di lapangan. Pihaknya belum mendapat informasi lain karena kendala jaringan komunikasi di lokasi penemuan batu tersebut.
"Jadi tim yang kami turunkan terdiri dari beberapa arkeolog dan juga polisi khusus. Kemarin saat mereka turun ke lapangan, saya juga secara intens memantau dan meminta informasi dari teman-teman yang berada di lokasi. Namun ternyata lokasi penemuan memiliki kendala sinyal yang cukup sulit," jelasnya.
(sar/ata)










































