Bulan Syawal 2026 menjadi momen istimewa bagi umat Islam setelah melewati bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan. Pada momen ini, khutbah Jumat bulan Syawal 2026 dapat menjadi pengingat dan penguat komitmen dalam menjaga ibadah dan kebaikan yang telah dibangun selama Ramadhan.
Khutbah yang menyentuh hati dan penuh hikmah diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan spiritual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tema-tema yang diangkat dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah islamiyah, serta menumbuhkan semangat istiqamah dalam beribadah meski Ramadhan telah berlalu.
Agar mampu menggugah hati jamaah dan memberikan motivasi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik, khutbah sebaiknya disusun dengan baik. Sebagai referensi bagi khatib, di bawah ini detikSulsel menyajikan 3 materi khutbah bulan Syawal 2026 yang dapat menjadi referensi dalam menyampaikan dakwah yang menyejukkan dan membangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuk simak selengkapnya di bawah ini!
Khutbah Jumat Bulan Syawal 2026 #1: Menjaga Amalan Baik Pasca Ramadhan
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Pemurah, yang mengalirkan nikmatnya yang penuh berkah, menuntun langkah kita dengan cahaya taufik dan hidayah. Dialah yang dengan kasih sayang-Nya mempertemukan dan memisahkan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah yang menyejukkan jiwa dan menguatkan raga dalam ibadah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah dengan indah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sang pembawa cahaya kebenaran, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, marilah kita tundukkan hati dan meneguhkan langkah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi cahaya yang hidup dalam hati, yang membimbing setiap langkah kita untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan itu, hidup kita dipenuhi keberkahan, hati kita dilapangkan, dan kita termasuk hamba-hamba yang beruntung di dunia sampai akhir zaman.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Seiring berjalannya waktu, Ramadhan telah berlalu. Bulan yang penuh berkah itu meninggalkan kita, membawa kenangan ibadah yang begitu indah. Di bulan Ramadhan, semangat kita terpompa untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: apakah amal ibadah kita di bulan Ramadhan telah diterima oleh Allah SWT?
Para ulama memberikan tanda-tanda diterimanya amal kita, yakni saat kita mampu istiqamah dalam kebaikan setelahnya. Artinya, jika setelah Ramadhan kita tetap menjaga ibadah, maka itu menjadi isyarat bahwa Ramadhan telah memberikan pengaruh positif dalam kehidupan kita.
Syekh Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan dalam kitab Lathatiful Ma'arif:
مَنْ عَمِلَ طَاعَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَفَرِغَ مِنْهَا فَعَلَامَةُ قَبُوْلِهَا أَنْ يَصِلَهَا بِطَاعَةٍ أُخْرَى
Artinya: "Siapa yang melakukan suatu amal ibadah dan telah rampung melaksanakannya, maka tanda diterima amal tersebut adalah diiringi dengan amal ibadah yang lain."
Ibnu Rajab al-Hambali melanjutkan:
وَعَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ يَعْقِبَ تِلْكَ الطَاعَةَ بِمَعْصِيَةٍ مَا أَحْسَنَ اْلحَسَنَةَ بَعْدَ السَّيِّئَةِ تَمْحُوْهَا وَأَحْسَنُ مِنْهَا بَعْدَ الْحَسَنَةِ تَتْلُوْهَا
Artinya: "Sebaliknya, jika amal ibadah itu tidak diterima oleh Allah ta'âlâ, maka amal tersebut diiringi dengan kemaksiatan. Betapa baik amal ibadah yang dilakukan setelah perbuatan maksiat sehingga menghapus dosa maksiat. Lebih baik lagi jika amal ibadah tersebut diikuti oleh ibadah berikutnya."
Istiqamah bukan berarti kita harus melakukan ibadah sebanyak di bulan Ramadhan, tetapi bagaimana kita konsisten dalam ketaatan, meskipun sedikit. Allah SWT menyukai amal yang dilakukan terus-menerus, walaupun kecil. Inilah yang menjadi bukti keikhlasan kita dalam beribadah.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Pasca Ramadhan, tantangan kita justru semakin besar. Jika di bulan Ramadhan suasana sangat mendukung untuk beribadah, masjid ramai, lantunan Al-Qur'an terdengar di mana-mana, maka setelah Ramadhan, semua itu kembali seperti biasa. Tidak ada lagi suasana yang "memaksa" kita untuk taat beribadah.
Di sinilah letak ujian yang sebenarnya. Apakah kita tetap menjaga shalat berjamaah? Apakah kita masih membuka Al-Qur'an setiap hari? Apakah lisan kita tetap terjaga dari ghibah dan perkataan sia-sia? Apakah tangan kita masih ringan untuk bersedekah?
Jika jawabannya "ya", maka insyaAllah itu adalah tanda kebaikan. Namun, jika kita kembali kepada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai Ramadhan, maka itu menjadi bahan muhasabah bagi diri kita.
Istiqamah menjadi kunci keselamatan. Allah SWT menjanjikan bahwa orang-orang yang beriman dan istiqamah tidak akan merasa takut dan tidak pula bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ketenangan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), "Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS Fushshilat: 30)
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Oleh karena itu, marilah kita berusaha menjaga amalan-amalan yang telah kita lakukan selama Ramadhan. Tidak harus banyak, tetapi harus konsisten. Mari jaga sholat lima waktu kita, lanjutkan membaca Al-Qur'an meskipun hanya beberapa ayat setiap hari, biasakan bersedekah walaupun sedikit, serta perbanyak dzikir dan doa.
Selain itu, mari kita sempurnakan ibadah kita dengan melaksanakan puasa sunnah lainnya seperti enam hari di bulan Syawal. Amalan ini menjadi salah satu bentuk bukti bahwa kita ingin terus melanjutkan semangat Ramadhan dalam kehidupan kita.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ
Artinya: "Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh." (HR Muslim).
Akhirnya, marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan, tetapi lalai di bulan-bulan lainnya. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kekuatan untuk tetap istiqamah di jalan-Nya hingga akhir hayat. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Oleh: Ustadz H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung.
Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
Khutbah Jumat 2026 #3: Hakikat Kemenangan di Bulan Syawal
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَعَدَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً مُعْتَرِفِ بِالْعَجْزِ وَالإِصْرَارِ وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بالرِّسالَةِ النِّيرَةِ إِلى جَمِيعُ الخَلَائِقِ والبشر اللهُمَّ صَلِ وَسَلِمْ عَلَى نُورُ الأَنْوَارِ وسر الاسرارِ، وَتَرْيَاقِ الأَغْيَارِ وَمُفَتَاحُ بَابُ اليَسَارَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ وَعَلَى
آلِهِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ وَمَنْ تبعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ القَرارِ
امَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانِ رَحَمَكُمُ اللَّهُ أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَانِ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, tidak lupa, saya berpesan kepada kita sekalian. Marilah kita tetap dan selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua larangan-Nya, terlebih lagi setelah kita selesai melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Dimana inti tujuanya adalah membentuk manusia yang bertaqwa.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Kini kita tengah berada di bulan Syawal. Ramadhan meninggalkan kita. Tidak ada kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya, ataukah justru Allah telah memanggil kita. Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah mendapat kepastian apakah ibadah-ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Dua hal yang belum pasti inilah yang membuat sebagian besar ulama terdahulu berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga sya'ban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan berikutnya.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Secara etimologi, arti kata Syawal adalah peningkatan. Hal itu merupakan target ibadah puasa. Pasca Ramadhan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih. Sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadhan dilatih secara lahir batin. Tentunya kita tidak ingin ibadah yang kita lakukan dengan susah payah di bulan suci tidak membuahkan apa-apa yang bermanfaat untuk diri kita. Kita semua mengharapkan adanya perubahan yang signifikan, sekarang dan seterusnya. Menjadi orang-orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah SWT dan meninggalkan semua laranganNya. Bukankah kemuliaan seseorang itu tergantung pada ketaqwaannya?
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ الْقَكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)
Akan tetapi, fenomena yang kita lihat di masyarakat justru sebaliknya. Syawal, seakan-akan bulan yang ditunggu-tunggu agar terlepas dari belenggu dan bebas melakukan kegiatan apa saja seperti sedia kala. Di antara indikatornya yang sangat jelas, adanya perayaan Idul Fitri dengan pesta atau dengan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup.
Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na'udzubillah! Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Lantunan ayat suci al-Qur'an juga tidak lagi terdengar, yang ada justru umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali membudaya. Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan bersih kembali penuh noda.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Apa yang terjadi sekarang ini juga menunjukkan kepada kita, bahwa ibadah puasa yang dijalankan selama sebulan penuh jelas gagal. Karena tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat ketakwaan dan mengubah menjadi muslim sejati yang menjadi tujuan utama puasa. Padahal banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kita jadikan ukuran seberapa tinggi nilai prestasi ibadah kita. Kata para ulama keberhasilan seseorang di bulan Ramadhan itu diukur dengan amal perbuatannya setelah bulan Ramadhan. Orang yang berhasil mendapat ampunan dan mendapatkan pahala yang besar akan semakin rajin beribadah dan semakin baik akhlaknya. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan ampunan akhlak perbuatannya tidak akan berubah bahkan mengalami kerugian di bulan Ramadhan.
Banyak orang yang mengatakan, ketika kita masuk bulan Syawal berarti kita menuju kemenangan dalam melawan hawa nafsu. Kita dikatakan kembali suci. Namun, benarkah kita meraih kemenangan tersebut? Benarkah kita kembali suci setelah beribadah shaum sebulan penuh? Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali kepada diri kita, apakah selama bulan Ramadhan kita betul-betul tulus dalam beribadah, apakah puasa yang kita jalankan betul-betul atas dasar iman dan semata-mata hanya mencari ridha Allah? Jika kita tidak demikian, maka kita termasuk orang-orang yang gagal dalam meraih kemenangan bulan Ramadhan.
Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di bulan Syawal ini, marilah kita intropeksi diri dan melakukan evaluasi terhadap nilai amal ibadah, dengan tujuan agar setelah Ramadhan berlalu kita menjadi lebih baik daripada sebelum Ramadhan. Alangkah naifnya kita ini, sudah diberi kesempatan di bulan suci yang penuh ampunan dan rahmat, masih saja tidak berubah atau mungkin lebih parah. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Kegagalan masa lalu harus kita jadikan pelajaran berharga dan tidak akan kita ulangi lagi. Kita harus ingat peringatan Rasulullah dalam sabdanya:
Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.
Kemudian apa yang mesti kita lakukan untuk memulai lembaran baru di bulan Syawal ini?
Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi tersebut, dan mengingat makna bulan Syawal, maka yang harus kita adalah istiqamah yaitu menetapi agama Allah dan berjalan lurus di atas ajarannya. Sebagaimana yang diperintahkan:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud: 112)
Bentuk istiqamah dalam amal ibadah adalah dengan mengerjakannya secara terus-menerus. sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi:
إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قُلْ
Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Istiqamah berarti berpendirian teguh atas jalan yang lurus. Berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh. Tidak mudah goyah dalam keadaan bagaimanapun. Sifat yang mulia ini menjadi tuntutan Islam seperti yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.
Katakanlah (Wahai Muhammad), "Sesungguhnya Aku hanya-lah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepada Aku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan yang satu; maka hendaklah kamu teguh di atas jalan yang betul lurus (yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya). (QS. Fushilat: 6)
Istiqamah merupakan daya kekuatan yang diperlukan sepanjang hayat manusia dalam melaksanakan tuntutan Islam, mulai dari amalan hati, amalan lisan dan anggota tubuh badan. Jelasnya, segala amalan yang dapat dirumuskan dalam pengertian ibadah baik fardu ain atau fardhu kifayah keduanya memerlukan istiqomah. Istiqamah juga merupakan sikap jati diri yang teguh dan tidak berubah oleh pengaruh apapun. Sikap ini akan memotivasi seseorang untuk terus berusaha dalam mencapai kesuksesan di segala bidang. Bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan, penyelidikan, perusahaan dan perniagaan. dan lain-lain.
Istiqomah dalam meneguhkan iman dan melaksanakan kebaikan akan mendatangkan kebahgiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang dinyatakan di dalam al-Quran.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا الْهُكُمُ اللهُ واحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَلُ عَلَيْهِمْ المَلَائِكَةُ الْاتَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَابْشِرُوا بِالْجَنَّةِ التي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinan dengan berkata, "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah Malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham), "Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berduka cita, dan terimalah berita gembira bahwa kamu akan beroleh Surga yang telah dijanjikan kepada kamu." (QS. Fushilat: 30-32)
Hadirin Jama'ah Jumat rahimakumullah,
Jika demikian halnya maka amal-amal yang telah kita biasa-kan di bulan Ramadhan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Membaca al-Qur'an setiap hari, shalat malam yang sebelumnya kita lakukan dengan tarawih, di bulan Syawal ini hendaknya kita tidak meninggalkan shalat tahajud dan witirnya. Infaq dan shadaqah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan. Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadhan. kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah selama puasa Ramadhan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah (ma'iyatullah). Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, ma'iyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan seterusnya. Bukan malah menipis kemudian hilang seketika!
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah telah memberi-kan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai tolok ukur dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اتَّبَعَهُ سِنَا مِنْ شَوَالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْن
Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)
Bagaimana pelaksanaannya? Apakah puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan atau boleh tidak? Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keutamaan cara pertama atas cara kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebih utama. Jadi, tidak ada madzhab yang tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama masih di bulan Syawal. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya. Akan tetapi, hendaknya kita tidak berpuasa khusus di hari Jumat tanpa mengiringinya di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh al-Albani.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Demikianlah khutbah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga menjadi spirit bagi kita semua untuk lebih meningkatkan mutu ibadah, baik ibadah spiritual maupun ibadah sosial. Kita memohon kepada Allah, semoga keberkahan Ramadhan terus menyertai kita, meskipun kita telah meninggalkannya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمُ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْر الحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقولُ قَوْلَى هُذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرُ المُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمُؤمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحيم
Khutbah II
الحمدُ للهِ الْمُوَيدِ الصَّابِرِينَ بِعَزِيزِ نَصْرِهِ، وَمُبَتِ الشَّاكِرِينَ لِجَيدِ شُكُرهِ، وَمُوَفِقِ المُخْتَارِينَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَاسْلَمَ لا مَرْهِ فِيمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ ان محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدَّهُورِ صَلَاةَ دَائِمَةً بِلَا فَنَاءِ وَلَا فَتُشُورٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
امَّا بَعْدُ ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ أَمَرَكُمُ بام بَدَا فِيْهِ بِنَفْسِهِ ، وَتْني بِمَلَائِكَتِهِ وَآيَهُ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ ، فَقَالَ عَنْ مِنْ قَائِلِ إِنَّ
اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُونَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَعِيدِ نَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسَلِينَ وَأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ.
وَأَهْلِ طَاعَتِكَ اجمعين. اللهمَّ اغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، أَنَّكَ سَمِيعٌ قَريبٌ مُحِيبٌ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ احْفَظَ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ أَدْيَائِهِمْ وَأَخْرِجُهُمْ مِنَ السُّجُونِ إِلَى سَعَةِ أَوْطَائِهِمْ وَلَا تَجْعَلُهُمْ فِتْنَةٌ لِلظَّالِمِينَ وجهم بِرَحْمَتِكَ مِنَ القَوْمِ الْكَافِرينَ رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَابْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرَ وَالبَغْيَ يَعِظُكُمْ لَعَلَكُمْ تَذَكَّرُونَ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Sumber: Buku Khutbah Jumat Sejuta Umat oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I
Khutbah Jumat Bulan Syawal 2026 #3: Meraih Ampunan Allah SWT
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْمَحِيطٌ عِلْمُهُ بِالظَّوَاهِرِ وَمَا تكُنهُ الضَّمَائِرُ، يَعْلَمُ السِّرِّ وَاخْفَى ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاشْكُرُ عَلَى مَا أَنْعَمَ عَلَيْنَا مِنْ غَيْرُ مُنْخَصِرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَاشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ بَصِيرٌ نَظِيرُ الدَّاعِي إلى البر والهُدَى اللَّهُمَّ صَلِ وَسَلِمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ الْمُجْتَبَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاصْحَابِهِ خَيْرَ الْوَرَى صَلَاةً تَدْفَعُ بِهَا عَنَا الْآفَاتِ وَالبَلوى .
امَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أَوْصِيكُمْ وَنَفْسِي يَتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ الْأَوَانْتُمُ مُسْلِمُونَ.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan anugerahNya yang tak terhingga dan tak terhitung jumlahnya kepada kita semua. Mewujudkan rasa syukur tersebut tidak lain kecuali dengan meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT yaitu melaksanakan perintah-perintahNya dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi semua laranganNya. Karena baik menjalankan perintah terlebih meninggalkan larangan adalah penyebab terampuninya dosa. Hal itulah yang menjadi dambaan setiap muslim, terutama bagi yang telah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Kesalahan dan dosa bagi manusia adalah suatu kelaziman. Tidak ada manusia yang terlepas dari dosa, setebal apapun tingkat keimanannya, seluas apapun ilmunya dan sedalam apapun ketakwaannya kepada Allah. Selama dia adalah manusia, pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Allah memang tidak menciptakan manusia secara kodrati memang tidak sempurna dan selalu bersih dari kesalahan dan dosa, karena Allah hanya menginginkan kesempurnaan untuk diriNya. Persoalan sebenarnya bukan pada manusia yang berdosa dan bersalah, akan tetapi apa yang dilakukan setelah melakukan dosa dan kesalahan tersebut, Firman Allah Ta'ala:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُم ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُ والذُّنوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يَصِرُوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ .
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran 135)
Nabi Adam AS adalah contoh dalam hal ini, bukan pada pelanggarannya terhadap larangan Allah, akan tetapi pada apa yang dia lakukan setelah dia melakukan pelanggaran tersebut. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Adam bersama istrinya diizinkan oleh Allah tinggal di surga. Allah melarangnya mendekati satu pohon yang ada di sana, tetapi Adam melanggarnya karena bujuk rayu setan, akan tetapi setelah itu Adam menyesali dan menyadari kesalahannya serta memohon ampun kepada Allah. Allah mengampuninya dan Adam pun menjadi lebih mulia dan lebih baik dari sebelumnya. Firman Allah Ta'ala,
ثُمَّ اجْتَبَهُ رَبِّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى .
Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubat-nya dan memberinya petunjuk. (QS. Thaha: 122)
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, manakala Allah menciptakan manusia dengan segala kekurangannya, Dia juga membuka peluang seluas-luasnya bagi manusia untuk memperbaiki diri, dan peluang ini senantiasa terbuka siang malam sepanjang umur manusia, lebih-lebih ketika bulan Ramadhan. Allah selalu memanggil dan mengajak hamba-hambaNya agar memanfaatkan peluang tersebut sebaik-baiknya. Peluang tersebut adalah taubat untuk meraih ampunan Allah Ta'ala. Kita tidak boleh merasa bersih dari dosa, apalagi hidup di zaman sekarang, dimana pengaruh-pengaruh negatif begitu mudah menggelincirkan manusia ke dalam lumpur dosa. Oleh karena itu, ampunan Nya yang harus kita prioritaskan jika ingin selamat dunia akhirat. Bersimpuh dan berserah diri atas segala salah dan dosa.
Firman Allah Ta'ala,
وَانبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوالَهُ مِنْ قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ .
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS. Az-Zumar: 54)
Di dalam hadits Nabi juga dijelaskan:
يَا عِبَادِي ، إِنَّكُمْ تَخْطُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَانَا اغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي اغْفِرُ لَكُمْ
Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan siang-malam dan Aku mengampuni seluruh dosa, oleh karena itu mohonlah ampun kepadaku, niscaya Aku mengampuni kalian. (HR. Muslim dari Abu Dzar, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1828)
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Jika Allah senantiasa menyeru hambaNya untuk selalu bertaubat dan Allah berjanji memaafkan dan selalu membuka pintu taubatnya lebar-lebar, sementara kita manusia selalu berdosa, maka tidak sekedar layak, akan tetapi suatu keharusan kalau kita senantiasa mengetuk pintu tersebut dengan harapan Allah berkenan memberikan maaf Nya kepada kita semua, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Pemurah.
Sekarang bagaimana caranya agar kita dapat menggapai ampunan tersebut?
Banyak cara dan jalan menggapai ampunan Allah. Lebih dari itu, cara-cara dan jalan-jalan tersebut adalah sangat mudah, tergantung kepada kita sendiri, ingin atau tidak ingin. Di sini khatib memaparkan empat cara yang menurut pandangan khatib merupakan cara yang paling penting dan mendasar.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Cara pertama adalah taubat.
Jika Allah menghendaki, tidak ada dosa yang tidak terhapus oleh taubat, seberat dan sebesar apa pun ia, jangankan dosa-dosa kecil, dosa-dosa besar pun akan terhapus oleh taubat kecuali dosa syirik. Tengoklah kisah seorang laki-laki dari umat terdahulu, pembunuh seratus nyawa. Adakah di dunia ini pelaku dosa yang lebih besar dan lebih banyak darinya? Dosanya adalah membunuh seratus nyawa. Laki-laki tersebut dengan dosanya itu tetap meraih ampunan Allah karena taubat dan usaha kerasnya untuk memperbaiki diri yang dia buktikan dengan berhijrah ke kota lain yang bisa mendukung usahanya tersebut.
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Kemudian taubat yang bagaimana agar seseorang dapat meraih ampunan Allah? Yaitu taubat yang memenuhi lima syarat:
1) Ikhlas, maksudnya adalah hendaknya pemicu taubat adalah harapan terhadap pahala Allah dan kekhawatiran terhadap azabNya.
2) Penyesalan, buktinya adalah keinginan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
3) Meninggalkan dosa-dosa. Jika dosa karena meninggalkan suatu kewajiban maka taubatnya dengan melakukan yang mungkin dilakukan, dan jika dosa karena melakukan suatu larangan, maka dengan meninggalkannya, dan termasuk meninggalkan adalah meminta maaf kepada orang yang kita zalimi dan mengembalikan hak kepadanya, jika dosa tersebut di antara sesama.
4) Niat kuat untuk tidak mengulangi dan ini merupakan kunci diterima taubat. Seseorang bisa saja menyesal, tetapi kebanyakan gagal mewujudkan niatnya.
5). Taubat dilakukan sebelum pintunya ditutup. Kapan itu? Jika nafas seseorang telah sampai di kerongkongan dan jika Matahari terbit dari barat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.
Barangsiapa bertaubat sebelum Matahari terbit dari barat, maka Allah akan mengampuniNya. (HR. Muslim, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1920)
Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرُ.
Sesungguhnya Allah Ta'ala menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di kerongkongan. (HR. At-Tirmidzi)
Taubat yang memenuhi lima syarat inilah yang menghadirkan ampunan Allah bagi pelakunya.
Sidang Jumat Rahimakumullah,
Cara kedua yaitu perbuatan-perbuatan baik,
Perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas akan bisa menghapus dosa dan mendekatkan kepada ampunan Allah. Membersihkan diri dari dosa sama halnya dengan membersihkan rumah. Pakailah alat pembersih sesuai dengan kapasitas objek yang dibersihkan. Jika dosa kita besar tentu amal kebaikan yang mesti kita lakukan sebagai penghapusnya juga harus banyak.
Dalam hadits diterangkan:
اتق اللهَ حَيْثُمَا كُنتَ وَاتَّبِعِ السَّيِّئَةُ الْحَسَنَةَ تمحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ يَخْلُقَ حَسَن .
Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya menghapusnya. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang luhur.
(HR. Tirmidzi)
Cara meraih ampunan Allah yang ketiga adalah menjauhi dosa-dosa besar. Dosa besar adalah semua dosa yang menyebabkan hukuman dan mengundang murka Allah baik di dunia maupun di akhirat. Apabila dosa dengan kriteria seperti ini dihindari, maka hal itu menjadi penyebab diraihnya ampunan dari Allah. Firman Allah Ta'ala.
ونَ عَنْهُ نُكَفِّرْ سَيِّئَاتِكُمْ إن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ وَنَدْخِلُكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا.
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga). (QS. An-Nisa 31)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
الصَّلوةُ الخَسِ وَالْمُعَةُ إِلَى الْجَعَةِ وَرَمَضَانَ إلى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتَنِتْ الْكَبَائِرُ
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, Ramadhan ke Ramadhan adalah pelebur dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dihindari. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Tetapi yang harus diingat, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar jika dibarengi dengan tobat yang sungguh-sungguh. Hendaknya kita semua berusaha sungguh-sungguh meraih ampunan Allah demi diri kita. Ampunan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Allah berfirman:
وَلَئِنْ قَتَلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.
Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmatNya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS. Ali Imran: 157)
Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah,
Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat. Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian pada akhirnya perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya.
Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah ta'ala berfirman,
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوَآتَيْتَنِي بِقُرَابُ الْأَرْضِ خَطَايَا م لقيتني لا تُشْرِكْ فِي شَيْئًا لَا تَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مغْفِرَة.
Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepadaku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi Bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah khutbah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga menjadi spirit bagi kita semua untuk lebih meningkatkan mutu ibadah, baik ibadah spiritual maupun ibadah sosial. Kita memohon kepada Allah, semoga keberkahan Ramadhan terus menyertai kita, meskipun kita telah meninggalkannya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمُ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذَكِّرُ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرُ المُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرحيم .
Khutbah II
الحمدُ للهِ الْمُوَيدِ الصَّابِرِينَ بِعَزِيزِ نَصْرِهِ، وَمُبَتِ الشَّاكِرِينَ لِجَيدِ شُكُرهِ، وَمُوَفِقِ المُخْتَارِينَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَاسْلَمَ لا مَرْهِ فِيمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ ان محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدَّهُورِ صَلَاةَ دَائِمَةً بِلَا فَنَاءِ وَلَا فَتُشُورٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
امَّا بَعْدُ ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ أَمَرَكُمُ بام بَدَا فِيْهِ بِنَفْسِهِ ، وَتْني بِمَلَائِكَتِهِ وَآيَهُ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ ، فَقَالَ عَنْ مِنْ قَائِلِ إِنَّ
اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُونَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَعِيدِ نَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسَلِينَ وَأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ.
وَأَهْلِ طَاعَتِكَ اجمعين. اللهمَّ اغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، أَنَّكَ سَمِيعٌ قَريبٌ مُحِيبٌ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ احْفَظَ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ أَدْيَائِهِمْ وَأَخْرِجُهُمْ مِنَ السُّجُونِ إِلَى سَعَةِ أَوْطَائِهِمْ وَلَا تَجْعَلُهُمْ فِتْنَةٌ لِلظَّالِمِينَ وجهم بِرَحْمَتِكَ مِنَ القَوْمِ الْكَافِرينَ رَبَّنَا اتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَابْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرَ وَالبَغْيَ يَعِظُكُمْ لَعَلَكُمْ تَذَكَّرُونَ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Sumber: Buku Khutbah Jumat Sejuta Umat oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I
Demikian contoh teks khutbah bulan Syawal 2026 yang menyentuh hati dan penuh hikmah. Semoga bermanfaat!
(alk/alk)










































