Sulut dan Malut Rawan Gempa-Tsunami Sejak 1608, Ini Catatan Sejarahnya

Sulut dan Malut Rawan Gempa-Tsunami Sejak 1608, Ini Catatan Sejarahnya

Syachrul Arsyad - detikSulsel
Kamis, 02 Apr 2026 15:50 WIB
House destroyed by the passage of a hurricane in Florida.
Foto: Ilustrasi gempa. (Getty Images/CHUYN)
Jakarta -

Gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,6 mengguncang wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap Malut dan Sulut ternyata memang daerah rawan bencana gempa dan tsunami yang berdasarkan catatan sejarahnya dimulai 1608.

"Sulawesi Utara dan Maluku Utara ini memiliki potensi bencana gempa bumi dan tsunami yang cukup tinggi," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan gempa bumi dikutip melalui siaran YouTube BPNB, Kamis (2/4/2026).

Rapat tersebut dihadiri unsur BMKG, Basarnas, serta kepala daerah dan unsur forkopimda dari provinsi terdampak gempa. Suharyanto mengatakan, skala gempa di dua provinsi itu kerap terjadi gempa dengan skala tinggi.

"Dari sejak tahun 1608 sampai 2026 artinya 500 tahun ke belakang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara seringkali terjadi gempa," paparnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan skalanya rata-rata di atas 7, yang terakhir 7,6. Tetapi tahun 1998 pun pernah mengalami gempa bumi sampai skalanya 7,7 skala richter," tambah Suharyanto.

Suharyanto menegaskan catatan historis gempa itu menjadi perhatian serius. Kepala daerah bersama aparat TNI dan Polri diminta terus mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih waspada dan meningkatkan kesiapan serta kesiapsiagaan.

ADVERTISEMENT

Dia menambahkan, BNPB dan BMKG dalam 4 tahun terakhir sudah berusaha meningkatkan kemampuan peringatan dini terkait gempa bumi dan tsunami. Alat deteksi dini itu disebut masih berfungsi dengan baik.

"Sekarang baik Sulawesi Utara dan Maluku Utara masing-masing BPBD sudah dilengkapi dengan alat-alat peringatan dini yang teknologi oleh BMKG di sepanjang laut atau pantau dan BNPB sudah membangun pusat pengendalian operasi dan sirine-sirine," terang Suharyanto.

Berdasarkan data BNPB yang dipaparkan dalam rapat, berikut historis kejadian gempa dan tsunami di kawasan Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Utara.

  • Tahun 1608-1674: Tsunami regional Maluku
  • Tahun 1858-1859: Tsunami Banggai-Ternate dan Sangihe
  • Tahun 1871: Tsunami Gorontalo
  • Tahun 1936: Gempa Sangir+Tsunami Salebabu (M 8)
  • Tahun 1966-1969: Gempa Halmahera Utara-Moprotai (M 7,6-7,7)
  • Tahun 1983: Gempa Sangihe-Talaud
  • Tahun 1998: Gempa Taliabu-Maluku Utara (M 7,7)
  • Tahun 2019-2025: Gempa Laut Maluku (M 6,0-7,1)
  • Tahun 2026: Gempa regional dekat Mayau (M 7,6)

Sebelumnya diberitakan, gempa M 7,6 mengguncang wilayah Sulut hingga Malut pada Kamis (2/4) pagi tadi. Sejumlah wilayah di dua provinsi tersebut bahkan sempat dilaporkan terjadi tsunami minor di Halmahera Barat, Bitung, Sidangoli, Minahasa Utara hingga Belang.

Belakangan, BMKG mencabut peringatan dini tsunami akibat gempa M 7,6 tersebut. Ancaman tsunami yang berdampak di sejumlah wilayah dinyatakan telah berakhir.

"Peringatan dini Tsunami yang disebabkan oleh gempa Mag: 7,6, 02-Apr-26 (pukul) 05.48.16 WIB, dinyatakan telah berakhir," demikian keterangan BMKG dikutip BeritaKlik, Kamis (2/4).




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads