Niat Puasa Syawal serta Hukum Menggabungkannya dengan Puasa Senin-Kamis

Niat Puasa Syawal serta Hukum Menggabungkannya dengan Puasa Senin-Kamis

Puspita Dian Sukmawati Zuhri - detikSulsel
Selasa, 07 Apr 2026 20:30 WIB
Ilustrasi bacaan niat puasa Syawal serta hukum menggabungkannya dengan puasa Senin Kamis
Ilustrasi (Foto: Fuad Hasyim/BeritaKlik)
Makassar -

Puasa Syawal adalah salah satu ibadah sunnah bagi umat Islam. Ibadah tersebut dilakukan pada bulan Syawal setelah Lebaran Idul Fitri sebanyak 6 hari.

Mengutip buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ust Abdul Faqih Ahmad Abdul Wahid, puasa Syawal dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena memiliki sejumlah keutamaan. Salah satu keutamaan mengerjakan puasa Syawal adalah mendapatkan pahala puasa setahun penuh.

"Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa setahun penuh." (HR. Bukhari dan Muslim)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi detikers yang ingin mengamalkan puasa Syawal, berikut detikSulsel sajikan informasi mengenai bacaan niat puasa Syawal. Artikel ini juga menyajikan hukum menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin Kamis.

ADVERTISEMENT

Niat Puasa Syawal

Melansir laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), puasa Syawal boleh dilaksanakan selama enam hari berturut-turut maupun secara terpisah di sepanjang bulan tersebut. Selain itu, umat Islam juga boleh melakukan puasa Syawal saat itu juga asalkan belum makan dan minum hingga siang hari.

Berikut bacaan niat puasa Syawal sesuai metode pelaksanaannya:

1. Niat Puasa Syawal 6 Hari Berurutan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala."

2. Niat Puasa Syawal Tidak Dilakukan Berurutan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT."

3. Niat Puasa Syawal Siang Hari

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لللهِ تعالى

Arab Latin: Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an adaa'i sunnatis Syawwaal lillaahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT."

Hukum Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Puasa Senin-Kamis

Hal ini kerap dipertanyakan oleh umat Islam yang berencana menjalankan puasa Syawal dan puasa Senin Kamis secara bersamaan. Mengutip laman resmi Baznas, niat puasa Syawal dan puasa Senin Kamis boleh digabungkan dalam pandangan fikih.

Para ulama dari mazhab Syafi'i dan Hanafi menyatakan bahwa menggabungkan dua niat puasa sunah dalam satu waktu pengerjaan hukumnya tetap sah. Hal ini diperbolehkan selama tata cara pelaksanaannya tetap mengikuti seluruh syarat sah yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Dengan demikian, penggabungan niat puasa Syawal dan puasa Senin Kamis tidak bertentangan dengan syariat sebab kedua puasa tersebut bersifat sunnah. Hadis yang mendasari puasa Syawal digabung dengan puasa Senin Kamis adalah sebagai berikut:

Amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya" (HR Bukhari dan Muslim).

Terdapat juga pendapat yang menyarankan bahwa jika kedua niat puasa tersebut digabungkan, niat puasa Syawal dijadikan niat utama, sedangkan puasa Senin Kamis dijadikan tambahan untuk menghindari keraguan pelaksanaan ibadah. Meskipun demikian, selama tidak ada unsur yang membatalkan puasa, mayoritas ulama memperbolehkan penggabungan niat puasa Syawal dan Senin Kamis.

Lebih Baik Puasa Syawal Dulu atau Bayar Utang Puasa?

Melansir laman resmi Majelis Ulama Indonesia, umat Islam dianjurkan untuk melunasi utang puasa Ramadhan terlebih dahulu sebelum mengerjakan puasa Syawal. Prioritas ini ditetapkan karena menunaikan puasa qadha hukumnya wajib, sementara puasa Syawal berstatus sebagai ibadah sunah.

Bagi umat Islam yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan atau uzur syar'i, hukumnya haram melakukan puasa Syawal sebelum seluruh utang puasanya terlunasi. Sementara itu, bagi yang tidak berpuasa karena uzur yang sah, mengerjakan puasa Syawal sebelum membayar utang puasa hukumnya adalah makruh.

Hal demikian sebagaimana diterangkan Syamsuddin Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj pada jilid ketiga sebagai berikut.

وَقَضِيَّةُ كَلَامِ التَّنْبِيهِ وَكَثِيرِينَ أَنَّ مَنْ لَمْ يَصُمْ رَمَضَانَ لِعُذْرٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ صِبًا أَوْ جُنُونٍ أَوْ كُفْرٍ لَا يُسَنُّ لَهُ صَوْمُ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ . قَالَ أَبُو زُرْعَةَ : وَلَيْسَ كَذَلِكَ : أَيْ بَلْ يُحَصِّلُ أَصْلَ سُنَّةِ الصَّوْمِ وَإِنْ لَمْ يُحَصِّلْ الثَّوَابَ الْمَذْكُورَ لِتَرَتُّبِهِ فِي الْخَبَرِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ . وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ تَعَدِّيًا حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا. وَقَضِيَّةُ قَوْلِ الْمَحَامِلِيِّ تَبَعًا لِشَيْخِهِ الْجُرْجَانِيِّ ( يُكْرَهُ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ أَنْ يَتَطَوَّعَ بِالصَّوْمِ كَرَاهَةُ صَوْمِهَا لِمَنْ أَفْطَرَهُ بِعُذْرٍ

Artinya: "Masalah di Tanbih dan banyak ulama menyebutkan bahwa orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur, perjalanan, masih anak-anak, masih kufur, tidak dianjurkan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Abu Zur'ah berkata, tidak begitu juga. Ia tetap dapat pahala sunnah puasa Syawal meski tidak mendapatkan pahala yang dimaksud karena efeknya setelah Ramadhan sebagaimana tersebut di hadits. Tetapi jika ia sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa uzur, maka haram baginya puasa sunnah. Masalah yang disebutkan Al-Mahamili mengikuti pandangan gurunya, Al-Jurjani. (Orang utang puasa Ramadhan makruh berpuasa sunnah, kemakruhan puasa sunnah bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur)."

Nah, itulah informasi mengenai bacaan niat puasa Syawal serta hukum menggabungkannya dengan puasa Senin Kamis. Semoga membantu detikers!




(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads