Renungan Harian Katolik Selasa 14 April 2026: Tidak Ada yang Berkekurangan

Renungan Harian Katolik Selasa 14 April 2026: Tidak Ada yang Berkekurangan

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Selasa, 14 Apr 2026 07:00 WIB
Renungan harian Katolik Selasa, 14 APril 2026
Ilustrasi renungan harian (Foto: Pixabay)
Makassar -

Renungan Harian Katolik Selasa, 14 April 2026 mengajak umat untuk merenungkan kasih Allah yang selalu mencukupi setiap kebutuhan hidup manusia. Dalam terang Sabda Tuhan, kita diajak untuk menyadari bahwa di tengah keterbatasan dan kekurangan yang sering dirasakan, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia hadir sebagai sumber pengharapan dan pemeliharaan yang setia.

Melalui renungan hari ini, umat diajak untuk memiliki hati yang penuh syukur dan kepercayaan. Ketika manusia mau berbagi, peduli, dan hidup dalam kebersamaan, tidak ada seorang pun yang benar-benar berkekurangan. Tuhan bekerja melalui kasih dan tindakan sederhana kita untuk mencukupkan kebutuhan sesama.

Nah, berikut bacaan Kitab Suci, teks Mazmur Tanggapan, hingga renungan Katolik Senin, 14 April 2026 yang dapat membantu memperdalam iman. Yuk, simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Renungan Harian Katolik Hari Ini 14 April 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: Kis 4:32-37

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

ADVERTISEMENT

Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa

dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.

Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1ab.1c-2.5

TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang;

TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang;

takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.

Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.

Bacaan Injil: Yoh 3:7-15

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"

Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.

Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Renungan Hari Ini: Tidak Ada yang Berkekurangan

Situasi kaum beriman setelah kebangkitan Yesus memperlihatkan kehidupan yang harmonis dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Jemaat menjual harta dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul, yang kemudian membagi-bagikannya kepada setiap orang sesuai dengan yang diperlukan.

Tidak ada yang berkekurangan. Mereka sehati dan sejiwa. Tidak ada lagi yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri.

Semua adalah kepunyaan bersama. Pada zaman sekarang, terjadi pergeseran nilai secara ekstrem akibat modernisasi.

Nilai komunal yang diajarkan Yesus kepada para murid telah tergeser oleh nilai-nilai individual. Sebagian besar manusia cenderung berjuang demi mempertahankan hidup sendiri.

Jangankan bisa mengakui bahwa kepunyaannya adalah milik bersama, milik orang lain bahkan sering diklaim dan dituntut sebagai milik sendiri! Konflik ada di mana-mana.

Bukan hanya rebutan wilayah negara dan daerah, rebutan harta antaranggota keluarga pun terjadi, bahkan menjadi perkara di pengadilan sampai penghilangan nyawa.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa ketika manusia bertindak secara individual, ia cenderung mengesampingkan kepentingan komunal. Ini merupakan pengingkaran terhadap hakikat diri manusia sebagai makhluk sosial.

Sejak berada dalam kandungan, manusia tidak pernah sendirian. Ia selalu bersama dengan manusia lainnya.

Yesus juga tidak pernah berjalan atau bekerja sendirian, meskipun tentu saja la mampu menyelesaikan semuanya tanpa bantuan siapa pun. Ia selalu melibatkan para murid, berjalan bersama mereka, serta berbagi tugas.

Ia pun berpesan agar para murid pergi berdua-dua mewartakan Kabar Gembira. Bahkan misi-Nya pun bertujuan komunal, yakni penebusan dan penyelamatan seluruh umat manusia.

Individualitas penting ketika kita berusaha mengenal diri kita sendiri sebagai manusia yang memiliki karakteristik berbeda dengan yang lainnya. Manusia yang mengenali dirinya sendiri akan mampu memahami emosi dan pikirannya, tahu apa kebutuhannya, serta mampu menjadi individu yang utuh dan mandiri dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri tanpa dipengaruhi orang lain.

Namun, individualitas hanyalah satu sisi pada manusia. Di sisi lain, manusia adalah makhluk sosial. Ada ketergantungan atau ketidakterpisahan sosial.

Manusia selalu berinteraksi dengan orang lain atau melakukan kerja sama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Peran dalam kelompok juga akan menentukan identitasnya.

Ada nilai-nilai dan kepemilikan bersama, serta dukungan komunal. Hal ini penting karena dukungan komunal menguatkan manusia dari rasa kesepian dan rasa tidak berdaya.

Ajaran Yesus dan kehidupan yang dipraktikkan para rasul mengajarkan nilai-nilai kehidupan sejati. Kita tidak pernah sendirian dalam hidup ini.

Nilai itu perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang percaya bahwa tidak ada yang berkekurangan. Rasa takut akan kekurangan sering kali membuat manusia menjadi serakah dengan menimbun harta dan berusaha mengeksploitasi orang lain.

Konsep milik bersama menjadi ancaman, bukan lagi harapan akan hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Ini semua karena sisi individualitas manusia menjadi dominan dalam usaha mencapai pemenuhan kebutuhan dan keinginan diri sendiri.

Ingat hakikat iman kristiani kita: Tanpa aspek komunal, kita tidak akan bisa mengikuti jejak dan ajaran Yesus.

Mari kembali berjalan bersama Yesus. Tanggalkan monopoli, tinggalkan eksploitasi. Hidup di dunia hanya sementara. Yang Tuhan janjikan adalah kehidupan kekal bagi setiap orang yang sungguh percaya kepada-Nya.

Sumber: Buku Inspirasi Pagi (LBI)
Oleh: Budi Ingelina

Demikian bacaan dan renungan Selasa, 14 April 2026. Semoga bermanfaat, detikers!




(urw/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads