Kisah Siswa Disabilitas di Nabire Berdiri Satu Kaki Pimpin Upacara Hardiknas

Papua Tengah

Kisah Siswa Disabilitas di Nabire Berdiri Satu Kaki Pimpin Upacara Hardiknas

Nurul Hidayah - detikSulsel
Rabu, 06 Mei 2026 17:00 WIB
Siswa disabilitas, Deki Degai memimpin jalannya upacara Hardiknas di Nabire.
Foto: Siswa disabilitas, Deki Degai memimpin jalannya upacara Hardiknas di Nabire. (dok. IG Pemprov Papua Tengah)
Nabire -

Keterbatasan fisik tidak menyurutkan niat siswa disabilitas bernama Deki Degei memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Deki sukses memimpin jalannya upacara dengan badan tegak meski bertumpu pada satu kaki.

Aksi Deki yang viral di media sosial itu terjadi saat upacara Hardiknas tingkat Pemprov Papua Tengah yang digelar di Lapangan Mepa Boarding School, Nabire, Sabtu (2/5). Upacara itu turut dihadiri Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa selaku pembina upacara.

"Dia (Deki Degei) cukup percaya diri dan tegas saya lihat itu," ungkap Ketua Yayasan Mepa Boarding School, Jon Fallo kepada BeritaKlik, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deki yang merupakan siswa Kelas XI SMA Mepa Boarding School itu berdiri tegap meski tanpa bantuan tongkat. Setiap hendak memberikan instruksi dan melaporkan jalannya upacara, Deki dengan satu kaki melompat menghadap ke pembina upacara.

"Kalau berdirinya itu lumayan lama, namanya upacara kan sekitar 40-an menit pasti lewat itu dan dia selesaikan sampai selesai. Saya nggak ragu sama sekali karena dia punya kemampuan lebih dari cukup," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Deki ditunjuk memimpin upacara Hardiknas berdasarkan hasil seleksi dan berkat motivasi yang tinggi. Deki ditunjuk dinas pendidikan (disdik) setempat karena dinilai memiliki postur tubuh tegap.

"Dari dinas memang mau melibatkan siswa disabilitas. Jadi karena Deki itu yang paling besar, dia ini diminta untuk jadi pemimpin upacara," tuturnya.

Sejak terpilih dan dipercayakan memimpin upacara Hardiknas 2026, Deki rajin berlatih secara mandiri. Deki bahkan menolak berlatih menggunakan tongkat atas keinginannya sendiri dan ogah dikasihani.

"Dia dengan kondisi begitu tidak pernah minta dikasihani, apa-apa dilakukan dan dia lakukan persis seperti orang normal. Kerja praktis di sekolah bahkan di asrama semua dia lakukan seperti orang normal," tutur Jon.

Menurut Jon, siswanya itu memang sudah terbiasa beraktivitas tanpa tongkat. Deki terbiasa hidup mandiri dan tidak mau menyusahkan orang lain.

"Kita memang prihatin tapi kalau dia sendiri mengatakan dia bisa, masa kita ragu sama dia. Dan kelihatannya itu dengan kami memotivasi dia, kami dukung dia melakukan apa saja," jelasnya.

Usaha Deki membuahkan hasil karena jalannya upacara Hardiknas berlangsung lancar. Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa yang menjadi pembina upacara sampai kagum terhadap siswa disabilitas tersebut.

"Sampai beliau (Gubernur Papua Tengah) mengungkapkan kalimat bahwa, 'Keterbatasan itu tidak bisa menghentikan mimpi anak-anak itu, jadi tetaplah bermimpi berjuang setinggi Gunung Cartenz, jadilah pemimpin dengan kondisi apapun, karena semua bisa'," terangnya.

"Jadi saya pikir memang beliau cukup bangga kalau Deki bisa menyelesaikannya. Kalau kita bicara konteksnya dia sanggup melakukan itu dan kelihatan itu beliau senang lihat Deki berhasil gitu," tambah Jon.

Jon meyakini siswanya tersebut bisa sukses di masa yang akan datang. Deki tidak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

"Semua tugas yang harus dilakukan oleh siswa di asrama maupun di sekolah, dia lakukan persis seperti orang yang normal," ujarnya.

Deki memiliki karakter yang kuat untuk menempuh pendidikan meski dengan keterbatasan fisik. Tugas pihak sekolah cuma menjaga daya juang Deki agar bisa lanjut kuliah.

"Karakternya kelihatan nggak ada bikin masalah. Saya sih yakin dia ke depan jadi itu, asal kami dukung dia terus dia begitu, jadi (sukses) itu," tegas Jon.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads