Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Sekretaris Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) Arief Rosyid mengungkap 2 figur calon ketua, yakni Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari dan mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS) telah bertemu Ketua Umum Bahlil Lahadalia menjelang Musda Golkar Sulsel. Kendati begitu, Arief mengakui bursa pencalonan masih dinamis.
Arief mengatakan pertemuan Andi Ina dan IAS dengan Bahlil difasilitasi langsung oleh Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhiddin. Namun Arief tidak menjelaskan lebih lanjut terkait pembahasan di balik kunjungan keduanya.
"Bahwa sampai terakhir ketemu Ketum itu baru 2 figur (Ina dan IAS), kalau berikutnya ada lagi yang ketemu, ada yang mencoba difasilitasi Kak Muhiddin, itu adalah baik juga. Intinya kita ingin tidak terburu-buru semuanya, kita ingin cari yang terbaik," kata Arief kepada detikSulsel, Rabu (6/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief mengatakan, Musda Golkar sengaja tidak digelar terburu-buru agar melahirkan ketua DPD I definitif terbaik. Menurutnya, figur lain yang ingin maju masih berpeluang untuk sowan ke Bahlil.
"Intinya kita ingin tidak terburu-buru semuanya, kita ingin cari yang terbaik. Tapi kan tadi, informasi yang terakhir saya sampaikan faktanya begitu," katanya.
Arief mengungkapkan, Ketum Bahlil menginginkan konsolidasi Golkar provinsi di seluruh Indonesia berjalan maksimal. Saat ini, sisa 2 DPD I yang belum Musda yakni Sulsel dan Sumatera Selatan (Sumsel).
"Ketum Bahlil itu ingin konsolidasi organisasi, alhamdulillah dari 38 DPD Provinsi, sudah 36 (selesai Musda) tinggal Sulsel sama Sumsel. Memang khusus untuk Sulsel, kalau kita lihat sejarahnya, itu kan selalu tidak mudah," katanya.
Berdasarkan sejarah, hasil Musda Golkar Sulsel selalu berpolemik. Selain Amin Syam, seluruh ketua DPD I Golkar Sulsel yang terpilih Musda tak menyelesaikan kepengurusannya.
"Setelah Pak Amin Syam, Plt Kak Aco, terus Musda terpilih Pak SYL, belum selesai Pak SYL, Plt lagi Pak NH, setelah itu Pak Taufan Pawe tidak selesai Plt lagi Pak Muhidin," katanya.
"Jadi memang buat Sulsel, kalau saya lihat, Kak Muhiddin pingin smooth semua. Beliau setelah selesai Plt, beliau berharap nggak mau lagi Plt, sampai selesai. Itu juga diharapkan Ketum Bahlil," sambung Arief.
Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) ini membeberkan, DPP Golkar ingin figur yang disepakati di Musda nantinya diterima semua pihak. Ketua terpilih nantinya harus mengembalikan kejayaan Golkar di Sulsel.
"Kenapa Sulsel bursa pencalonan ini menjadi sangat dinamis karena kita pengen hasil yang nanti ada itu, hasil yang terbaik. Bisa diterima oleh semua dan yang paling penting konsolidasi organisasi bisa jalan untuk menyambut agenda Pileg atau pun Pemilu 2029," jelasnya.
Muhidin Minta Kader Menyatu
Sementara itu, Plt Ketua Golkar Sulsel Muhidin M Said mengakui Musda akan digelar setelah semua kubu menyatu. Dia tak ingin lahir ketua baru dan meninggalkan kubu lainnya.
"Kita mau Musda di Makassar (tidak dipindahkan ke Jakarta), semua kader Golkar bersatu dengan bagus, saling mendukung, itu yang paling bagus. Supaya Golkar bisa kembali eksis di Sulsel. Itu target kita," katanya.
Dia berharap agar kader di Sulsel bersabar menunggu kepastian pelaksanaan Musda. Saat ini, dia menjadwalkan konsolidasi di Soppeng dalam waktu dekat untuk menyolidkan kader sebelum Musda.
"Sabar aja dulu, kita cari jalan terbaik sehingga semua merasa bertanggung jawab untuk sukseskan Musda itu," katanya.
Semua figur potensial akan dilibatkan dalam penyatuan kader di Musda. Dia berharap Musda aklamasi usai disepakati satu calon.
"Nanti akhirnya kita cari asas musyawarah mufakat. Tapi melibatkan semua teman-teman, tidak ada yang ditinggal. Semua kader dan pemilik suara. Kan semua berkeinginan untuk mengabdi," jelas Muhidin.
Sementara itu, Ketua DPD II Pinrang Usman Marham menyampaikan aspirasinya jelang pelaksanaan Musda Golkar Sulsel. Dia berharap Musda XI ini akan melahirkan pemimpin yang kuat.
"Momentum ini bukan sekadar pergantian figur, tetapi penentuan arah strategis partai untuk merebut kembali dominasi politik di Sulsel pada Pemilu 2029 nantinya," katanya.
Usman menilai Sulsel memiliki posisi yang terlalu penting. Selain dikenal sebagai lumbung suara tradisional, Sulsel juga merupakan pintu gerbang kawasan Indonesia Timur.
"Sulsel ini bukan daerah biasa. Ini pintu masuk Indonesia Timur. Kalau Golkar ingin kembali berjaya secara nasional, maka Sulsel harus dipimpin oleh ketua yang kuat, definitif, dan mampu bekerja penuh," jelasnya.
Kekalahan Golkar pada Pileg 2024 Sulsel menjadi alarm serius bagi partai berlambang beringin ini. Golkar yang meraih 14 kursi gagal mempertahankan kursi Ketua DPRD Sulsel.
"Itu tidak bisa dilepaskan dari melemahnya konsolidasi internal dan kurang optimalnya orkestrasi mesin partai di lapangan. Ketum berasal dari Indonesia Timur, ini momentum. Sulsel bisa jadi jangkar utama untuk mengonsolidasikan kekuatan di kawasan timur," pungkasnya.
(sar/asm)










































