Renungan Harian Katolik menjadi sarana bagi umat untuk menenangkan hati dan memperdalam iman di tengah kesibukan hidup sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci dan pesan rohani yang direnungkan, umat diajak semakin memahami kehendak Tuhan serta menjadikan firman-Nya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Renungan Harian Katolik Jumat, 22 Mei 2026 mengajak umat menyadari pentingnya mengungkapkan penyesalan dengan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan. Penyesalan yang tulus tidak berhenti pada rasa bersalah, tetapi diwujudkan melalui pertobatan, kesediaan memperbaiki diri, dan komitmen untuk tetap setia berjalan bersama-Nya.
Nah, berikut Renungan Harian Katolik Jumat, 22 Mei 2026 lengkap dengan bacaan liturgi dan refleksinya. Yuk, simak selengkapnya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Renungan Harian Katolik Hari Ini 22 Mei 2026
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Bacaan I: Kis 22:30;23:6-11
Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka.
Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."
Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu.
Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.
Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya."
Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.
Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."
Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11
Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"
Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.
Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;
sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Bacaan Injil: Yoh 17:20-26
Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;
dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."
Renungan Hari Ini: Mengungkapkan Penyesalan dengan Kasih dan Kesetiaan
Dan ia berkata kepada-Nya, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya, "Peliharalah domba-domba-Ku." (Yoh. 21:17b)
Dalam perikop itu terdapat penggambaran yang indah bagaimana Yesus memberi Petrus kesempatan untuk mengungkapkan penyesalannya melalui kasih. Penyangkalan Petrus tiga kali diimbangi dengan tiga kali pernyataan kasihnya.
Mengapa Petrus bisa berbalik? Dalam buku Burung Berkicau, Anthony de Mello mengisahkan bahwa ketika ayam berkokok, Yesus berpaling memandang Petrus dan Petrus pergi keluar, menangis tersedu-sedu, karena mendapati bahwa dalam pandangan mata Yesus tidak ada tuduhan, tidak ada tuntutan.
Mata-Nya hanya berkata, "Aku mencintaimu."
Yesus tetap mencintai meski pernah dikhianati. Pertanyaan Yesus yang sampai tiga kali memang membuat Petrus duka hati, karena ingat kalau pernah cedera janji.
Namun menyadari akan cinta Yesus, Petrus tidak bisa berkata lain kecuali menyatakan cintanya dan menyanggupi tugas yang Yesus berikan. Kita bersyukur bahwa Petrus menerima penugasan itu, sehingga dia menjadi Paus kita yang pertama.
Hal lain yang patut kita teladani dari Petrus adalah bahwa dia mampu mengampuni dirinya sendiri. Tidak semua orang bisa. Rekannya sesama Rasul bahkan menemui ajalnya karena tidak bisa menerima pengampunan dari Allah.
Merasa sedemikian besar dosanya adalah satu hal, tetapi menolak mengakui kemaharahiman Allah yang melampaui besarnya dosa adalah hal yang lain lagi. Ini mengarah ke kesombongan diri.
Pernah dalam sebuah sharing seseorang mengemukakan bahwa ayahnya mengaku dosa sampai dua puluh kali untuk kesalahan yang sama, tapi tetap saja masih merasa berdosa. Sayang sekali perasaan itu masih terus terbawa sampai dia meninggal.
Entah apa yang terjadi di pengadilan terakhirnya. Jangan-jangan Tuhan hanya mengatakan, "Kesalahan yang mana yang kamu perkarakan? Aku sudah tidak mengingatnya, sudah sekian lama Aku mengampuninya."
Mari kita hidup baik menjauhkan diri dari dosa. Tetapi ketika toh jatuh juga ke dalam dosa, mari merendahkan diri memohon pengampunan dosa dari Tuhan. Biarkan Tuhan membuat dosa kita yang tadinya merah seperti kirmizi atau kain kesumba, kembali menjadi putih seperti salju atau bulu domba.
Sumber: Renungan Tiga Titik
Oleh: Is Susetyaningtyas
Doa Penutup
Ya Allah, mampukan kami hidup baik dan menjauhkan diri dari dosa. Tetapi karena kemanusiaan kami, kami rawan terjatuh.
Ketika hal itu terjadi ya Tuhan, mampukan kami merendahkan diri memohon ampunan-Mu, dan mengakui kemahabesaran-Mu yang mengampuni dan menyelamatkan kami. Sebab Engkau telah mengirimkan Yesus, Putra-Mu, untuk menebus kami. Dialah Tuhan dan Juru Selamat kami, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Demikian renungan harian Katolik, Jumat, 22 Mei 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapannya. Semoga Tuhan selalu melindungi kita ya, detikers!
(alk/alk)










































