11 Contoh Ceramah Peringatan Muharram Tahun Baru Islam 2026 Singkat-Terbaru

11 Contoh Ceramah Peringatan Muharram Tahun Baru Islam 2026 Singkat-Terbaru

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Minggu, 14 Jun 2026 19:10 WIB
Ilustrasi Ceramah Agama.
Ilustrasi ceramah agama (Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash)
Makassar -

Muharram merupakan salah satu bulan istimewa dalam Islam karena menandai dimulainya Tahun Baru Hijriah. Momentum ini sering diperingati dengan berbagai kegiatan keagamaan baik di masjid, musala, sekolah, pesantren, hingga lingkungan masyarakat.

Salah satu agenda yang kerap menjadi bagian dari peringatan Muharram adalah penyampaian ceramah atau tausiyah yang berisi pesan-pesan keislaman, motivasi hijrah, dan ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Tema ceramah Muharram yang dapat dibawakan dapat bervariasi, mulai dari makna hijrah, pentingnya muhasabah diri, keutamaan bulan Muharram, hingga ajakan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih baik.

Nah, bagi detikers yang sedang mencari referensi materi ceramah untuk peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah atau Muharram 2026, berikut contoh ceramah Muharram singkat dan terbaru yang dapat dijadikan bahan kajian maupun referensi dalam menyampaikan ceramah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simak selengkapnya berikut ini!

Kumpulan Ceramah Peringatan Muharram Tahun Baru Islam

1. Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriah

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

ADVERTISEMENT

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta'ala berikut.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, "Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab."

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

"Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya'ban."

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo'dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah mengatakan, "Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan."

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, "Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya."

Ibnu 'Abbas mengatakan, "Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak."

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam."

Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.

Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, "Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah 'Allah' untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut 'Baitullah' (rumah Allah) atau 'Alullah' (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu' (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Muharram. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun."

Al Hafizh Abul Fadhl Al 'Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, "Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?"

Beliau rahimahullah menjawab, "Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta'ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram).

Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al 'Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali mengutarakan sebuah kalimat,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

"Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya."[9] Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid'ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah

Amalan Pertama: Puasa awal dan akhir tahun

Sebagian orang ada yang mengkhususkan puasa dalam di akhir bulan Dzulhijah dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

"Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta'ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun."

Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:

Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu'at (181) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya -Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu'ah (96) mengatakan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
Ibnul Jauzi dalam Mawdhu'at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.[12]
Kesimpulannya hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Kedua: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah

Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama'i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, para sahabat lainnya, para tabi'in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh nasrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka"

Penutup

Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian.

Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

"Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya."

Hasan Al Bashri mengatakan, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu."

Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Sumber: Laman resmi Rumaysho

2. Dua Pelajaran Penting dari Puasa Asyura

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keutamaan istimewa. Karena kemuliaannya, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Karena itu, memasuki Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram serta puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram.

Hadirin yang berbahagia,

Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim)

Dari hadits ini, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil.

Pertama, besarnya rahmat dan ampunan Allah SWT.

Puasa yang dilakukan dengan penuh keikhlasan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Oleh karena itu, memasuki tahun baru Hijriah hendaknya menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki diri.

Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi seremoni belaka tanpa perubahan sikap dan amal. Tahun baru Islam seharusnya menjadi momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Kedua, pentingnya menjaga identitas dan jati diri seorang Muslim.

Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura, beliau menganjurkan umat Islam untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharram agar memiliki perbedaan dengan mereka.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki karakter dan identitas yang kuat. Umat Islam boleh hidup berdampingan dengan siapa saja, menghormati siapa saja, dan bekerja sama dalam kebaikan dengan siapa saja. Namun, seorang Muslim tetap harus bangga dengan ajaran agamanya dan tidak kehilangan jati dirinya.

Di era modern seperti sekarang, tantangan menjaga identitas semakin besar. Banyak budaya, gaya hidup, dan tren yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sebagai Muslim, kita perlu bijak dalam menyikapinya. Ambillah hal-hal yang baik dan bermanfaat, namun jangan sampai mengikis nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup kita.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kisah Asyura juga mengingatkan kita pada kemenangan Nabi Musa AS dan kaumnya yang diselamatkan Allah dari kezaliman Fir'aun. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada orang-orang yang beriman dan bersabar.

Karena itu, mari jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan optimisme dalam menjalani kehidupan. Semoga tahun yang baru ini menjadi tahun yang penuh keberkahan, kedamaian, dan kebaikan bagi kita semua.

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing langkah kita agar senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Laman resmi Rumaysho

3. Anjuran Puasa Muharram

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

"Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah).

Imam Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, "Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram." (Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Lalu mengapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya'ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh Imam Nawawi yakni:

  1. Mungkin saja Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.
  2. Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, "Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah)." (Lathoif Al Ma'arif, hal. 67)

Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu') ada dua macam:

  1. Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.
  2. Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

Jadi, dapat dipahami bahwa puasa sunnah mutlaq yang paling afdhol adalah puasa Muharram. Sedangkan puasa muqoyyad (yang ada kaitan dengan waktu tertentu atau berkaitan dengan puasa Ramadhan), maka yang lebih afhol adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa Syawal dari sisi ini lebih afhdol dari puasa Muharram. Puasa Syawal tersebut berkaitan dengan puasa Ramadhan. Oleh karenanya puasa tersebut seperti shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat wajib. Puasa Arafah juga bisa lebih baik dari puasa Muharram dari sisi puasa Arafah sebagai sunnah yang rutin.

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu 'Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu 'Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram (Lihat Latho-if Al Ma'arif, hal. 71). Bulan haram adalah bulan Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum muslimin dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram. Jika tidak mampu, berpuasalah sesuai kemampuannya. Namun yang lebih tepat adalah tidak berpuasa Muharram sebulan penuh. 'Aisyah radhiyallahu 'anhu berkata,

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau banyak puasa dalam sebulan selain pada bulan Sya'ban." (HR. Muslim no. 1156).

Dari sekian hari di bulan Muharram, yang lebih afdhol adalah puasa hari 'Asyura, yaitu pada 10 Muharram. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyura? Beliau menjawab, "Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu."(HR. Muslim no. 1162).

Selisihi Yahudi dengan Menambah Puasa Tasu'a (9 Muharram)

Namun dalam rangka menyelisihi Yahudi, kita diperintahkan berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu berpuasa pada hari kesembilan (tasu'a). Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan puasa hari 'Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

"Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani." Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

"Apabila tiba tahun depan -insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan." Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

"Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia." (HR. Muslim no. 1134)

Imam Asy Syafi'i dan ulama Syafi'iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan. (Lihat Syarh Muslim, 8: 12-13)

Ibnu Rajab mengatakan, "Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja." (Lihat Latho-if Al Ma'arif, hal. 99)

Apa Hikmah Menambah Puasa pada Hari Kesembilan?

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a'lam. (Lihat Syarh Muslim, 8: 12-13)

Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram karena dalam melakukan puasa 'Asyura ada dua tingkatan yaitu:

  1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
  2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. (Lihat Tajridul Ittiba', hal. 128)

Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz, mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata, "Yang lebih afdhol adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dari bulan Muharram karena mengingat hadits (Ibnu 'Abbas), "Apabila aku masih diberi kehidupan tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan." Jika ada yang berpuasa pada hari kesepuluh dan kesebelas atau berpuasa tiga hari sekaligus (9, 10 dan 11) maka itu semua baik. Semua ini dengan maksud untuk menyelisihi Yahudi." (Lihat Fatwa Syaikh Ibnu Baz di sini).

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus beramal sholih.

Sumber: Laman resmi Rumaysho

4. Muharram Bulan Sial?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sering kali ketika memasuki bulan Muharram atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Suro, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial, bulan yang harus dihindari untuk mengadakan hajatan atau kegiatan tertentu. Padahal anggapan seperti ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Sebaliknya, Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Jika bulan ini dianggap buruk atau membawa kesialan, tentu Rasulullah SAW tidak akan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di dalamnya.

Hadirin yang berbahagia,

Islam mengajarkan bahwa tidak ada waktu yang membawa sial dengan sendirinya. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Karena itu, menyandarkan kesialan kepada bulan tertentu, hari tertentu, atau tempat tertentu merupakan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

"Anak Adam menyakitiKu. Ia mencela waktu, padahal Akulah yang mengatur waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Muslim)

Karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa bulan Suro adalah bulan sial, sesungguhnya ia telah keliru memahami hakikat waktu yang diciptakan Allah.

Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa musibah dan kesulitan yang menimpa manusia bukan disebabkan oleh waktu, melainkan sering kali karena perbuatan manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya muhasabah. Ketika menghadapi kesulitan hidup, jangan buru-buru menyalahkan waktu, keadaan, atau orang lain. Justru kita perlu melihat diri sendiri, memperbaiki amal, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Momentum Tahun Baru Islam seharusnya menjadi kesempatan untuk meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan syariat. Jangan sampai kita masih mempercayai ramalan, hari sial, bulan sial, atau berbagai bentuk tahayul lainnya. Sebaliknya, mari kita isi bulan Muharram dengan amal saleh, memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Mari jadikan 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT, dan lebih kuat dalam memegang ajaran Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Laman resmi Rumaysho

5. Muharram dan Memuliakan Anak Yatim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di bulan haramnya, bulan Muharram yang mulia, di tempat rumahnya yang mulia ini.

Hadirin yang berbahagia

Di tahun yang baru ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dengan selalu berpegang teguh serta mengikuti sunnah-sunnah nabi-Nya. Salah satu bentuk sunnah yang diajarkan dan diperintahkan untuk diikuti ialah perintah memuliakan, menyantuni, menyayangi dan merawat anak yatim.

Yatim berasal dari bahasa Arab, artinya anak kecil yang kehilangan ayahnya karena meninggal. Dalam Islam, artinya pun sama dan bahkan dilengkapi dengan batasan umur bagi seseorang yang masuk dalam kategori yatim tersebut.

Anak yatim memiliki posisi yang istimewa dalam Islam. Melalui berbagai firmannya-Nya dalam Alquran, Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk memperhatikan anak yatim dengan sebaik-baiknya. Begitu istimewanya anak yatim, sampai disebutkan sebanyak 23 kali dalam Alquran yaitu 8 dalam bentuk tunggal, 14 dalam bentuk jamak dan 1 dalam bentuk Mutsanna. Misalnya Allah Ta'ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36:

وَٱعۡبُدُواْ ٱللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri".

Dari ayat ini kita lihat bagaimana perhatian Islam yang begitu besar terhadap anak yatim dimana perintah berbuat baik terhadap anak yatim jatuh pada tingkatan ketika sesudah berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada kerabat.

Anak yatim merupakan bagian dari golongan yang rentan dan memerlukan perlindungan serta kasih sayang masyarakat. Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan umat-Nya untuk memberikan perhatian khusus kepada anak yatim. Salah satu ayat yang mencerminkan hal ini adalah dalam Surat Ad-Duha, di mana Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ، وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau (Muhammad) mendesaknya, dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau (Muhammad) menghardiknya."

Ini menunjukkan bahwa Allah SWT menginginkan perlakuan baik dan penuh kasih sayang terhadap anak yatim. Nabi Muhammad SAW sendiri juga memberikan contoh teladan yang sangat baik dalam memperlakukan anak yatim.

Beliau secara konsisten mendorong umat Islam untuk memberikan perlindungan, kasih sayang, dan dukungan kepada mereka yang kehilangan orang tua. Banyak Hadits-hadits Nabi mengajarkan umatnya untuk memberikan bantuan material dan moral kepada anak yatim.

Bahkan keberadaan anak yatim dalam suatu rumah menjadi keberkahan tersendiri bagi penghuninya. Keberadaannya menjadi salah satu tanda bahwa rumah tersebut merupakan rumah terbaik dibanding dengan rumah-rumah lain yang di dalamnya tidak ada anak yatim. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh nabi dalam salah satu haditsnya, yaitu:

خَيْرُ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ وَشَرُّ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُسَاءُ اِلَيْهِ . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهُ

Artinya, "Sebaik-baiknya rumah di kalangan umat Islam adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruknya rumah di kalangan umat Islam adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk." (HR Ibnu Majah).

Tidak hanya berupa anjuran merawat dan menyantuni anak yatim saja, namun Allah SWT juga menjanjikan pahala yang sangat istimewa kepada orang-orang yang merawat anak yatim. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُما شَيْئًا

Artinya, "Aku dan orang yang merawat anak yatim seperti ini dalam surga." Kemudian nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, seraya sedikit merenggangkannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Anak yatim kehilangan ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga, sehingga perekonomiannya pun terganggu. Oleh karena itu, sebagai orang yang mampu, kita dapat menyantuni anak yatim dengan memberikan pakaian, makanan, atau sebagian harta kita yang lainnya. Karena sesungguhnya kita tidak akan merugi dengan berbagi. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَسَا يَتِيمًا مِنَ المُسْلِمِينَ كَسَاهُ اللّهُ مِنَ الحَرِيرِ الأَخْضَرِ فِي الجَنَّةِ

Artinya: "Barangsiapa yang memberi pakaian kepada seorang anak yatim dari kalangan muslimin, maka Allah akan memberinya pakaian dari sutra hijau di surga." (HR ath-Thabrani).

Dalam ajaran Islam, pemeliharaan dan pembinaan anak yatim tak terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, seperti harta, namun juga mencakup berbagai hal yang bersifat psikis. Salah satu yang terpenting adalah aspek pendidikan maka termasuk unsur penting dalam memuliakan anak yatim adalah dengan turut membiayai pendidikannya.

Pendidikan adalah salah satu hak dasar yang harus dipenuhi bagi setiap anak, termasuk anak yatim. Namun sayangnya, banyak anak yatim yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan biaya. Maka, jika kita memiliki rezeki lebih, alangkah baiknya untuk berbagi dengan membiayai pendidikan anak yatim. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَعْطَى يَتِيمًا مَالاً حَتَّى يَسْتَغْنِيَ بِهِ عَنِ النَّاسِ أَدْخَلَهُ اللّهُٰ الجَنَّةَ

Artinya: "Barangsiapa yang memberi seorang anak yatim harta sampai ia dapat mandiri dari orang lain, maka Allah akan memasukkannya ke surga." (HR Al-Baihaqi).

Seringkali kita membaca dan mendengar dalam Alquran dan Sunnah tentang orang-orang yang keras hatinya, biasanya digambarkan orang yang keras hatinya adalah yang jauh dari mengingat Allah SWT misalnya yang Allah SWT gambarkan dalam dalam surat Az zumar

أَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

"Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS az-Zumar [39]:22).

Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut pertama, bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan. Kedua, tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Alquran yang dibacakan.

Berbeda dengan kaum mukminin, hati mereka akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat Alquran atau diingatkan akan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal." [QS al-Anfal [8]:2).

Ketiga, tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan Allah Azza wa Jalla . Allah berfirman:

اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

"Dan tidakkah mereka (orang-orang munâfiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?." [QS At-Taubah [9]: 126)

Tanda hati keras yang keempat adalah tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allâh Azza wa Jalla.

Selain balasan istimewa berupa surga yang berdekatan dengan nabi di akhirat, merawat dan menyantuni anak yatim juga memiliki balasan yang sangat istimewa ketika di dunia, yaitu akan dilunakkan hatinya oleh Allah.

Hal ini sebagaimana diceritakan dalam salah satu riwayat sahabat Abu Hurairah, bahwa suatu saat ia mendengar seorang laki-laki yang mengadu kepada Rasulullah perihal hatinya yang keras, kemudian Nabi SAWmenyuruhnya untuk memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى النَّبِىِّ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ

Artinya, "Dari Abu Hurairah, bahwa terdapat seorang laki-laki mengadu kepada nabi tentang hatinya yang keras, maka nabi bersabda: Berilah makanan kepada orang miskin, dan usaplah kepala anak yatim."

Pada akhirnya mudah-mudahan Allah memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa memuliakan anak yatim sebagaimana perintah agama amin allahumma amin.

Sumber: Laman Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Oleh: KH Dr A Bahrul Hikam, Lc MA anggota Komisi Fatwa MUI Tangerang

6. Muharram, Bulan Hijrah Menuju Kepedulian Sosial

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Setiap kali memasuki bulan Muharram, umat Islam tidak hanya menyambut pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menyambut datangnya salah satu bulan yang paling dimuliakan oleh Allah SWT. Muharram menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup terus berlanjut, sementara kesempatan untuk beramal saleh semakin berkurang. Karena itu, datangnya tahun baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan." (QS. At-Taubah: 36)

Ayat ini menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT. Karena itu, bulan ini semestinya diisi dengan memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, serta meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.

Hadirin yang berbahagia,

Muharram juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, dan menata kehidupan agar lebih sesuai dengan tuntunan Islam.

Oleh sebab itu, peringatan Tahun Baru Islam tidak cukup hanya dengan mengganti kalender atau mengikuti seremonial tahunan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghadirkan semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah pada bulan Muharram. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Rasulullah SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim)

Hadirin yang dirahmati Allah,

Namun Muharram tidak hanya mengajarkan kita tentang ibadah pribadi. Bulan ini juga mengajarkan kepedulian sosial. Dalam berbagai riwayat disebutkan anjuran untuk memperluas nafkah kepada keluarga, memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, serta menyantuni anak yatim.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

"Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun." (HR. Al-Baihaqi)

Pesan hadits ini bukan sekadar tentang rezeki, tetapi juga tentang pentingnya berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar kita.

Saat ini masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi, anak yatim yang membutuhkan perhatian, serta keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas dan kepedulian sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

"Bukanlah seorang mukmin yang sempurna imannya apabila ia kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR. Al-Hakim)

Hadirin yang berbahagia,

Tahun Baru Islam hendaknya menjadi awal hijrah dalam berbagai aspek kehidupan. Hijrah dari kelalaian menuju ketaatan, dari sifat individualis menuju kepedulian, dari kebiasaan menunda kebaikan menuju semangat beramal saleh.

Mari jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, mempererat persaudaraan, membantu sesama, dan menebarkan manfaat di lingkungan sekitar. Sebab keberhasilan hijrah tidak hanya terlihat dari perubahan diri sendiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain.

Semoga Allah SWT menjadikan tahun yang baru ini sebagai tahun yang penuh keberkahan, ampunan, kesehatan, dan kemudahan bagi kita semua.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Laman Nahdlatul Ulama
Oleh: H. Moh. Zainal Abidin, Khodimul Ma'had Al-Muayyad Surakarta, Wakil Rois Syuriyah PCNU Surakarta

7. Muharram: Spirit Peningkatan Kualitas Ibadah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Hadirin yang berbahagia,

Bulan Muharram memiliki keistimewaan tersendiri karena termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Mengenai hal ini, Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Imam Al-Baghawi menjelaskan:

العَمَلُ الصَّالِحُ أَعْظَمُ أَجْرًا فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَالظُّلْمُ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ مِنَ الظُّلْمِ فِيْمَا سِوَاهُنَّ

Artinya: "Amal saleh lebih besar pahalanya pada bulan-bulan haram. Sedangkan perbuatan zalim pada bulan-bulan tersebut juga lebih besar dosanya dibandingkan bulan lainnya."

Hadirin yang dirahmati Allah,

Karena itu, Muharram merupakan waktu yang sangat tepat untuk membangkitkan semangat beribadah. Momentum tahun baru Islam hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbarui niat dan meningkatkan kualitas diri.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang mukmin harus selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dalam sebuah hadits disebutkan:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ

Artinya: "Barang siapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka." (HR. Al-Hakim)

Hadits ini mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya selalu diwarnai dengan perbaikan dan peningkatan. Jangan sampai tahun yang baru datang, tetapi kualitas ibadah, akhlak, dan kepedulian kita tetap sama seperti sebelumnya.

Hadirin yang berbahagia,

Para ulama juga mengingatkan bahwa waktu yang berlalu tanpa manfaat merupakan kerugian besar bagi manusia. Imam Ibnu Rajab rahimahullah pernah berkata:

أَلَيْسَ مِنْ الْخُسْرَانِ أَنَّ لَيَالِيَا تَمُرُّ بِلا نَفْعٍ وَتُحْسَبُ مِنْ عُمْرِي

Artinya: "Bukankah termasuk kerugian apabila malam-malam berlalu tanpa manfaat, padahal semuanya dihitung sebagai bagian dari umurku."

Ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan betapa berharganya waktu yang Allah berikan. Setiap hari yang berlalu seharusnya menjadi kesempatan untuk menambah ilmu, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan Muharram sebagai titik awal perubahan. Mari kita tingkatkan kualitas shalat, memperbanyak membaca Al-Qur'an, memperkuat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta menumbuhkan semangat bekerja dan berkarya dengan niat ibadah.

Semoga Tahun Baru Islam ini menjadi awal yang baik bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Laman resmi Nahdlatul Ulama
Oleh: Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

8. Muharram Bulan Mulia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Kemuliaannya ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Jamaah yang berbahagia,

Keutamaan Muharram juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana Rasulullah menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan betapa istimewa dan mulianya bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Selain sebagai bulan yang penuh keutamaan, Muharram juga menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Momentum ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi juga sebagai waktu untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup dan ibadah selama setahun yang telah berlalu.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kualitas ibadah kita meningkat? Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya? Ataukah justru masih terjebak dalam kebiasaan dan kesalahan yang sama?

Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya terus memperbaiki diri. Karena itu, datangnya Muharram seharusnya membangkitkan semangat baru untuk memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Jamaah sekalian,

Mari jadikan bulan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kita isi hari-hari di bulan yang mulia ini dengan amal saleh, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan besar.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan kemuliaan bulan Muharram untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Laman resmi Pondok Pesantren Al-Anwar

9. Menguatkan Sisi Kemanusiaan di Bulan Muharram

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul pada momentum yang penuh berkah ini, yaitu bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah dan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Memasuki Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Momentum ini hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.

Salah satu pesan penting yang perlu kita renungkan di bulan Muharram adalah pentingnya menjaga nilai kemanusiaan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan sebuah kalimat yang sangat terkenal:

النَّاسُ صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ، أَوْ نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ

Artinya:

"Manusia itu ada dua golongan: saudaramu dalam agama atau saudaramu dalam kemanusiaan."

Kalimat bijak ini mengajarkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi martabat manusia. Perbedaan agama, suku, ras, bahasa, maupun budaya tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan, membenci, atau menyakiti.

Hadirin yang berbahagia,

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya:

"Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehadiran Islam membawa kasih sayang, kedamaian, dan kemanfaatan bagi seluruh makhluk. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus memiliki kepedulian sosial dan sikap menghormati sesama.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ

Artinya:

"Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan bahwa kasih sayang kepada sesama manusia merupakan jalan untuk mendapatkan kasih sayang Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan kepedulian sosial. Pada bulan ini terdapat amalan-amalan yang mendorong umat Islam untuk berbagi kepada sesama, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, dan mempererat tali persaudaraan.

Di tengah kehidupan modern saat ini, banyak orang semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Sikap individualis, materialistis, dan kurang peduli terhadap lingkungan sosial semakin sering kita jumpai. Karena itu, Muharram hadir sebagai pengingat agar kita kembali kepada fitrah kemanusiaan.

Rasulullah SAW bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya:

"Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan nenek moyang kalian satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, tidak ada kelebihan non-Arab atas Arab, tidak ada kelebihan yang berkulit putih atas yang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan yang berkulit hitam atas yang berkulit putih kecuali karena ketakwaannya." (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh suku, ras, jabatan, maupun kekayaan, melainkan oleh ketakwaannya.

Hadirin yang berbahagia,

Mari kita jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai momentum hijrah menuju pribadi yang lebih peduli terhadap sesama. Hijrah dari sikap egois menuju kepedulian. Hijrah dari kebencian menuju kasih sayang. Hijrah dari sikap acuh tak acuh menuju semangat membantu dan menolong.

Semoga di bulan Muharram ini kita mampu meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

10. Muharram: Momentum Mempererat Persaudaraan Sesama Muslim

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kita telah memasuki tahun baru Hijriyah, satu momen yang tidak hanya layak untuk disambut secara seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk melakukan evaluasi dan perenungan mendalam terhadap kualitas keislaman dan kemanusiaan kita, baik secara individu maupun sebagai komunitas umat.

Salah satu nilai penting yang harus kita hidupkan kembali dalam kehidupan bermasyarakat adalah nilai ukhuwah islamiyah, yaitu rasa persaudaraan yang dilandasi oleh keimanan, bukan semata-mata kesamaan nasab, suku, daerah, atau organisasi.

Dalam kehidupan umat Islam hari ini, kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa mudahnya hubungan persaudaraan hancur hanya karena perbedaan pendapat, perbedaan mazhab, atau bahkan hanya karena isu politik dan kepentingan pribadi yang bersifat sesaat.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Artinya, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu." (QS. al Hujurat: 10)

Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Jami'ul Bayan juz 21 halaman 363 menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah tegas untuk menyadari bahwa keimananlah yang menjadi dasar utama persaudaraan di antara umat Islam. Maka, ketika dua orang atau kelompok beriman berselisih, wajib bagi yang lain untuk mendamaikan keduanya demi menjaga ikatan ukhuwah tersebut.

Jamaah, yang dimuliakan Allah,
Ukhuwah bukan hanya slogan atau simbol, tetapi ia adalah akhlak dan tindakan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan ukhuwah dalam sabdanya:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Artinya, "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan bagaimana Rasulullah tidak hanya menjelaskan ukhuwah dengan kata-kata, tetapi juga dengan isyarat menyatukan jari-jemari beliau. Ini menunjukkan bahwa hubungan ukhuwah harus kokoh, saling menopang, dan tidak boleh terputus hanya karena persoalan dunia yang fana. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (juz 1 halaman 12), Rasulullah bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Al-Bukhari)

Betapa indahnya ajaran Islam, yang menuntut kita untuk memiliki empati, menanggalkan ego, dan mengedepankan cinta kasih atas dasar iman. Imam al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin juz 2 halaman 208 menyatakan bahwa hadits yang tadi khatib baca merupakan fondasi akhlak dalam berukhuwah. Ia mengajarkan pentingnya membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, dan prasangka buruk, lalu menggantikannya dengan keikhlasan, kebaikan hati, dan kepedulian terhadap sesama.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah sikap dan nilai. Maka mari kita jadikan bulan Muharram ini sebagai titik balik untuk melakukan hijrah sosial, dari sikap saling menyalahkan menjadi saling menasihati, dari permusuhan menjadi persaudaraan, dari ujaran kebencian menjadi saling mendoakan.

Bangunlah ukhuwah dari rumah kita, dari lingkungan kita, dari masjid kita. Jangan tunggu yang lain berubah, tetapi mulailah dari diri sendiri. Ucapkan salam lebih dulu, senyum lebih dahulu, bantu lebih dulu. Sungguh, ukhuwah tidak akan pernah lahir tanpa kesungguhan dan keikhlasan.
Karena itulah Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللّٰهُ فِي حَاجَتِهِ

Artinya, "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan). Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah, jika ukhuwah Islamiyah kita tegakkan dengan sungguh-sungguh, niscaya umat ini akan kembali kuat dan disegani. Tidak ada kekuatan yang mampu menandingi umat yang bersatu hati, bersatu doa, dan bersatu tujuan.

Maka, saya mengajak diri saya pribadi dan hadirin sekalian untuk memperbaharui niat dan tekad, bahwa mulai hari ini, mulai Muharram ini, kita akan menjadi pribadi yang mempererat bukan memecah, menyambung bukan memutus, menebar salam bukan menyebar permusuhan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga ukhuwah Islamiyah, memperkuat persaudaraan, dan menjadi sumber manfaat bagi sesama.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Sumber: Laman resmi Nahdlatul Ulama
Oleh: Ustadz Dr. Fatihunnada, Lc., M.A., Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah wal 'Arabiyyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

11. Muharram Mari Berbenah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Tahun Baru Islam mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW bersama para sahabat dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa hijrah inilah yang kemudian menjadi dasar penanggalan Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.

Meskipun hijrah Rasulullah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab RA menetapkan Muharram sebagai awal tahun Hijriah. Sebab Muharram merupakan bulan dimulainya tekad dan persiapan hijrah setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada bulan Dzulhijjah.

Karena itu, setiap datang bulan Muharram, kita tidak hanya mengenang sejarah hijrah, tetapi juga merenungkan makna hijrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah kita sudah berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik? Apakah kualitas ibadah kita semakin meningkat? Ataukah masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya?

Jamaah yang berbahagia,

Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an. Nama Muharram sendiri berarti bulan yang dihormati dan dimuliakan. Sejak zaman dahulu, bulan ini telah mendapat tempat istimewa di tengah masyarakat Arab.

Banyak peristiwa besar yang dikaitkan dengan bulan Muharram. Di antaranya diterimanya taubat Nabi Adam AS, selamatnya Nabi Ibrahim AS dari api Namrud, terbebasnya Nabi Yusuf AS dari penjara, selamatnya Nabi Yunus AS dari perut ikan, sembuhnya Nabi Ayyub AS dari penyakit, hingga kemenangan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir'aun.

Semua kisah tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersabar.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di sebagian masyarakat masih terdapat anggapan bahwa bulan Muharram atau bulan Suro merupakan bulan sial. Karena keyakinan tersebut, sebagian orang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, atau kegiatan penting lainnya pada bulan ini.

Padahal dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan. Semua waktu yang Allah ciptakan adalah baik. Rasulullah SAW bersabda:

"Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah adalah pemilik dan pengatur masa."

Keyakinan bahwa suatu bulan membawa kesialan merupakan warisan tradisi jahiliyah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Yang menentukan baik dan buruk bukanlah waktu, melainkan kehendak Allah SWT.

Karena itu, mari kita tinggalkan berbagai mitos yang tidak memiliki dasar syariat dan memperkuat keyakinan bahwa seluruh waktu adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan.

Beliau bersabda:

"Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR Muslim)

Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan yang mulia ini dengan memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, memperbanyak dzikir, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jamaah sekalian,

Esensi terbesar Muharram adalah hijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kemalasan menuju semangat beribadah, dari maksiat menuju taat, dan dari kelalaian menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Tahun baru Hijriah seharusnya menjadi momen evaluasi diri. Kita bertanya kepada diri sendiri, apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin? Apakah amal ibadah kita bertambah? Apakah akhlak kita semakin baik?

Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi seremoni tanpa perubahan berarti dalam kehidupan kita.

Mari jadikan tahun baru ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, memperkuat persaudaraan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Semoga di tahun yang baru ini Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Amin ya Rabbal 'alamin.

Sumber: Suara Muhammadiyah
Oleh: Ika Sofia Rizgiani. Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)

Demikian contoh ceramah peringatan Muharram Tahun Baru Islam 2026. Semoga bermanfaat ya, detikers!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads