Wali Kota Palu Hadianto Rasyid belum memastikan jumlah dan lokasi pengungsi korban gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7 di Palu, Sulawesi Tengah. Kendati begitu, Hadianto mengakui sejumlah warga masih takut pulang ke rumah karena trauma imbas bencana gempa M 7,5 yang pernah melanda 2018 silam.
"Memang ada beberapa warga kita yang masih belum berani kembali masuk dalam rumah dan memanfaatkan ruang-ruang terbuka. Kita bisa memahami tersebut karena kita pernah menghadapi kondisi ini di 2018. Jadi traumanya tentunya masih sangat melekat," kata Hadianto kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Hadianto meminta masyarakat tetap tenang. Dia mempersilakan warga untuk terlebih dahulu mencari tempat aman jika masih khawatir untuk kembali ke rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk masyarakat yang belum merasa tenang, silakan dimana tempat yang dirasa nyaman, nanti diinformasikan kepada kami ke pemerintah nanti akan memberi atensi," tuturnya.
Hadianto telah meminta personel segera melakukan identifikasi korban gempa yang mengungsi. Pemkot Palu akan segera memberikan pelayanan dan memastikan kebutuhan korban.
"Saya sudah menginstruksikan kepada satuan tugas yang ada untuk mengidentifikasi spot-spot tersebut agar supaya masyarakat kita diberikan pelayanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan mereka," jelas Hadianto.
Pihaknya juga masih melakukan pendataan terkait dampak kerusakan akibat gempa di Palu. Namun Hadianto mengatakan kerusakan belum signifikan.
"Alhamdulillah dengan gempa yang cukup besar tadi kerusakan alhamdulillah belum ada angka yang besar, alhamdulillah masih kondisi baik dan normal," ucap Hadianto.
Pemkot Palu juga terus memantau informasi dari BMKG setelah gempa susulan dilaporkan masih terjadi. Setiap kebijakan yang dilakukan juga akan mengacu dari petunjuk BMKG.
"Tentunya Pemerintah Kota Palu mengikuti petunjuk dari BMKG. Karena jangan sampai misalnya kita melakukan langkah yang berlebihan sehingga membuat masyarakat kita semakin panik, padahal kondisinya insyaallah berangsur semakin membaik," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala BMKG Wijayanto mengungkap gempa M 6,7 di Kota Palu akibat aktivitas Sesar Sausu. Dia memastikan peristiwa tersebut bukan karena Sesar Palu Koro yang memicu gempa M 7,5 pada 2018 silam.
"Jadi gempa ini akibat aktivitas sesar aktif Sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palu Koro seperti gempa di 2018," kata Wijayanto saat konferensi pers, Selasa (16/6).
Wijayanto menjelaskan Kota Palu memiliki cukup banyak sumber gempa atau sesar-sesar aktif. Selain Sausu dan Palu Koro, ada pula Sesar Ampana.
"Sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar, tentunya nanti hanya memicu gempa-gempa kecil saja," jelasnya.
(sar/ata)
