Sejumlah anak yang belajar di Sekolah Honai, sebuah sekolah darurat di Tembagapura, Kabupaten Mimika, menemui Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jermias Rontini. Dalam pertemuan tersebut, mereka membagikan kisah pilu karena sudah sembilan tahun tidak bisa menikmati pendidikan formal.
Brigjen Jermias menemui anak-anak Sekolah Honai tersebut di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika pada Selasa (16/6/2026). Seorang perwakilan siswa, Tinus Waker, memberanikan diri menyampaikan kegelisahan yang selama ini terpendam.
"Kami bercita-cita menjadi dokter, polisi, TNI, dan guru. Tapi bagaimana kami bisa meraih cita-cita itu jika sejak tahun 2017 kami belum memiliki sekolah yang memadai," tanya Tinus kepada Jermias.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan polos tersebut seketika membuat suasana menjadi hening. Menanggapi hal itu, Brigjen Jermias menegaskan bahwa aspirasi anak-anak Tembagapura akan menjadi perhatian serius pihak kepolisian.
"Apa yang disampaikan anak-anak hari ini akan saya teruskan kepada pihak yang berwenang. Kita semua berdoa agar harapan mereka dapat terwujud dan pendidikan di Tembagapura mendapatkan perhatian yang lebih baik," ujar Jermias.
Lebih lanjut, Jermias menekankan bahwa persoalan krisis pendidikan di Tembagapura tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, setiap anak Papua memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa terkecuali.
"Saya tidak ingin ada anak-anak yang putus sekolah dan kehilangan masa depannya. Anak-anak ini adalah generasi penerus Papua Tengah yang harus kita selamatkan bersama," kata Jermias.
"Harus ada solusi untuk mereka. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan semua pihak harus duduk bersama mencari jalan keluar agar anak-anak ini bisa kembali mendapatkan hak pendidikannya secara layak," sambungnya.
Kapolda Papua Tengah Brigjen Jeremias menemui anak sekolah honai di Tembagapura. Dokumen Istimewa |
Jermias mengaku sangat terharu melihat antusiasme belajar yang ditunjukkan oleh anak-anak Tembagapura. Baginya, kondisi di lapangan menjadi pengingat keras bahwa negara tidak boleh menutup mata terhadap masa depan generasi muda di wilayah terpencil, terutama yang terdampak konflik.
"Ketika saya melihat mereka belajar di honai sederhana ini, saya melihat harapan yang masih menyala. Mereka memiliki cita-cita yang besar. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, dan tentara. Tugas kita adalah memastikan mimpi-mimpi itu tidak berhenti hanya karena mereka tidak memiliki sekolah yang memadai," ungkapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Jermias juga menyerahkan bantuan alat tulis dan perlengkapan belajar kepada perwakilan siswa. Bantuan ini menjadi simbol bahwa perjuangan anak-anak Tembagapura untuk meraih masa depan tidak berjalan sendirian.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak ini. Jangan sampai mereka kehilangan kesempatan belajar. Biarkan mereka datang ke sekolah, belajar membaca dan menulis. Pendidikan adalah fondasi masa depan mereka," tegas Kapolda.
Sebagai informasi, Sekolah Honai ini merupakan ruang belajar yang dibina langsung oleh Polsek Tembagapura. Saat ini, sebanyak 55 anak tengah menempuh pendidikan informal di tempat tersebut.
Anak-anak ini merupakan korban yang terdampak konflik keamanan sejak tahun 2017 akibat gangguan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Konflik yang berkepanjangan tersebut menyebabkan sejumlah fasilitas pendidikan rusak bahkan terbakar, hingga akhirnya aktivitas sekolah perlahan terhenti total.
Kondisi semakin memprihatinkan karena sejak tahun 2024, sudah tidak ada lagi aktivitas pendidikan formal yang berjalan di wilayah tersebut. Akibatnya, banyak anak yang kehilangan hak dasar mereka untuk belajar dan terpaksa putus sekolah.
(hmw/ata)

