Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah (Sulteng) melaporkan sebanyak 838 rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitudo (M) 6,7 di Kota Palu. Ratusan rumah terdampak gempa berlokasi di Palu, Parigi Moutong, Sigi dan Poso.
"Data yang ada saat ini menunjukkan dampak kerusakan rumah paling banyak berada di Kabupaten Sigi," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi Sembiring kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).
Dari data sementara hingga pukul 21.50 Wita, Selasa (16/6), dari ratusan rumah terdampak tercatat 800 rumah di antaranya berada di Sigi. Rinciannya, 720 rusak ringan, 68 rusak sedang dan 12 rusak berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih di Sigi, 2 unit kantor juga mengalami kerusakan termasuk ada 15 sarana ibadah, 1 unit UMKM, 1 unit jembatan penghubungan Desa Kamarora B-Desa Tongoa. Sementara ada 63 jiwa luka ringan dan 13 jiwa luka berat.
"Informasi korban (di Kabupaten Sigi), 1 jiwa meninggal dunia karena serangan jantung," beber Andi Sembiring.
Sementara di Parigi Moutong 37 rumah dilaporkan rusak. Sementara dampak kerusakan akibat gempa di Palu, yakni 1 rumah, 1 bangunan usaha, 1 gedung auditorium Universitas Tadulako (Untad), 1 gedung serba guna Untad, Hotel Best Western dan Hotel Santika.
Di Kabupaten Poso, gempa dilaporkan merusak 3 unit rumah di Desa Tumora. Selain itu akses Jalan Napi mengalami amblas.
"Pendataan masih terus dilakukan karena tim masih berada di lapangan," tambah Andi Sembiring.
Gempa Susulan Palu
Di sisi lain, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Berdasarkan data Stasiun Geofisika BMKG Palu hingga pukul 08.30 Wita, tercatat 466 kali gempa susulan dengan 25 kejadian di antaranya dirasakan masyarakat.
BMKG mencatat gempa susulan terbesar berkekuatan M 5,2 dan yang terkecil M 1,3. Sebaran gempa susulan masih terkonsentrasi di sekitar wilayah Sausu, Kabupaten Parigi Moutong.
"Meski tren gempa susulan mulai menurun, masyarakat tetap diminta waspada dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan hingga dinyatakan aman," ujar Andi Sembiring.
Diketahui, gempa M 6,7 Palu terjadi pada pukul 11.27 Wita, Selasa (16/6). Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,03° LS ; 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km tenggara Palu, Sulawesi Tengah pada kedalaman 10 km.
BMKG mengungkap gempa bumi berkekuatan M 6,7 di Kota Palu akibat aktivitas Sesar Sausu. Dia memastikan peristiwa tersebut bukan karena Sesar Palu Koro yang memicu gempa M 7,5 pada 2018 silam.
"Jadi gempa ini akibat aktivitas sesar aktif Sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palukoro seperti gempa di 2018," kata Kepala BMKG Wijayanto saat konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BMKG, Selasa (16/6).
Wijayanto menjelaskan Kota Palu memiliki cukup banyak sumber gempa atau sesar-sesar aktif. Selain Sausu dan Palu Koro, ada pula Sesar Ampana.
"Sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar, tentunya nanti hanya memicu gempa-gempa kecil saja," jelasnya.
(sar/ata)
