Gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7 di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), memicu terjadinya longsor di Kabupaten Sigi dan Poso. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melakukan dampak longsor akibat gempa tersebut.
"Kemarin kami mendapat laporan akibat gempa utama itu terjadi longsor di daerah kabupaten Sigi dan Poso," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB, Rabu (17/6/2026).
Abdul Muhari belum memastikan lokasi pasti longsor tersebut. Kendati begitu, dia mengungkap longsor terjadi akibat guncangan gempa darat yang cukup besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini memang konsekuensi dari kejadian gempa darat, guncangannya cukup kuat sehingga daerah lereng tebing dengan kemiringan di atas 30 derajat berpotensi longsor," jelasnya.
Abdul Muhari melanjutkan, pihaknya masih melakukan verifikasi terkait longsor itu. Dia menyebut lokasi longsor berada jauh dari permukiman warga.
"Ini akan kita konfirmasi apakah dampaknya secara langsung ada yang berdampak langsung kepada masyarakat atau tidak. Karena dari laporan visual yang kita dapatkan itu posisi longsoran cukup jauh dari pemukiman masyarakat," jelasnya.
Lebih lanjut dia memastikan risiko likuifaksi pascagempa M 6,7 sudah lewat. Pihaknya tidak menerima laporan adanya potensi likuifaksi yang dikhawatirkan sebelumnya.
"Karena gempa utama sudah lewat dan gempa susulan memiliki tren kekuatan baik itu intensitas dan frekuensi yang mulai menurun, kami bisa sampaikan potensi terjadinya likuifaksi sudah lewat," tegasnya.
Dampak Gempak Palu
BNPB mencatat total 1.254 rumah dilaporkan rusak dan 76 warga lainnya luka-luka. Data tersebut berdasarkan laporan sementara yang dihimpun hingga Rabu (17/6) pukul 04.00 Wita. Ribuan rumah rusak dan puluhan korban luka akibat gempa tersebar di Palu, Sigi, Parigi Moutong hingga Poso.
"Untuk korban meninggal dunia terdata saat ini 1 orang di kabupaten Sigi," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat konferensi yang disiarkan melalui YouTube BNPB, Rabu (17/6).
Selain itu tercatat ada 1.834 kepala keluarga (KK) atau sekitar 5.784 jiwa yang terdampak gempa. Abdul Muhari menjelaskan, warga terdampak artinya masyarakat yang merasakan atau terpapar gempa.
"Ada yang luka ringan 73 jiwa dan luka berat 3 jiwa. Luka berat ini yang berkaitan dengan tulang atau luka akibat runtuhan struktur bangunan," ucap Abdul Muhari.
Sementara dampak kerusakan bangunan akibat gempa paling banyak berada di Sigi. BNPB masih melakukan pendataan secara detail namun laporan sementara kerusakan rumah di Sigi sudah mencapai ribuan unit.
"Untuk Kabupaten Sigi itu ada sekitar 1.074 unit rumah rusak ringan, kemudian ada 110 rumah rusak sedang dan 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan fasilitas publik atau fasilitas ibadah itu ada 33 fasilitas ibadah terdampak," tuturnya.
Abdul Muhari melanjutkan, fasilitas ibadah yang terdampak umumnya mengalami dinding retak atau roboh retak atau mengalami kerusakan struktur dan nonstruktur lainnya. Selain itu ada 4 perkantoran, 2 sekolah dan 1 jembatan di Sigi yang terdampak.
"Kemudian untuk Palu itu ada 20 rumah terdampak, ini kriteria kerusakannya masih kita lakukan pendalaman. Kemudian ada 1 fasilitas umum, 1 tempat usaha, 1 hotel dan 1 jembatan retak di titik persambungan tapi ini masih bisa digunakan secara terbatas," paparnya.
Sementara di Poso ada 5 rumah terdampak, 3 di antaranya rusak ringan. Selain itu ada 1 ruas jalan amblas di jalan desa di Poso di mana kondisinya mengalami keretakan yang cukup signifikan.
"Di Parigi Moutong itu ada sekitar 15 rumah rusak. Kriteria kerusakannya masih kita dalam verifikasi dan validasi," imbuh Abdul Muhari.
(sar/hmw)
