Kondisi Geologi Rumit-Tanah Lunak Perparah Dampak Kerusakan Gempa M 6,7 Palu

Sulawesi Tengah

Kondisi Geologi Rumit-Tanah Lunak Perparah Dampak Kerusakan Gempa M 6,7 Palu

Syachrul Arsyad - detikSulsel
Minggu, 21 Jun 2026 18:30 WIB
Warga berdiri di depan rumahnya yang rusak berat akibat gempa bermagnitudo 6,7 di Desa Kamarora A, Kecamtan Nokilalaki, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (17/6/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, gempa yang terjadi pada Senin (16/6) pukul 10.27 WIB itu mengakibatkan seorang warga meninggal dunia dan sekitar 110 Kepala Keluarga atau 312 jiwa terdampak, 25 warga luka ringan, 13 luka berat, sementara rumah yang terdampak masing-masing 12 unit rusak berat, enam rusak sedang, dan 26 unit rusak ringan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj.
Foto: Gempa M 6,7 membuat rumah warga di Sigi mengalami kerusakan. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Sigi -

Badan Geologi mengungkap hasil kajian terkait gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,7 yang terjadi di Palu hingga Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Badan Geologi mengungkap pengaruh struktur geologi yang rumit memperparah dampak kerusakan akibat gempa tektonik tersebut.

"Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," kata Plt Kepala Badan Geologi Lana Sari dalam keterangannya dikutip, Minggu (21/6/2026).

Lana melanjutkan, adanya perubahan tegangan (stress) akibat gempa bumi utara dapat mempengaruhi sesar-sesar aktif yang lain dan berkembang di wilayah terdampak. Menurutnya, gempa bumi susulan bisa bersumber dari sesar yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kumpulan bumi susulan menyerupai gempa bumi swarm yang menjadi karakteristik gempa bumi yang terjadi di wilayah ini," tuturnya.

Dia juga mengungkap gempa tersebut memicu dampak kerusakan yang cukup parah. Dampak kerusakan pada bangunan menunjukkan lokasi episenter berada dekat pemukiman penduduk.

ADVERTISEMENT

"Disertai dengan kondisi tanah yang lunak, sehingga meningkatkan efek guncangan gempa bumi yang menimbulkan dampak kerusakan tersebut," tambah Lana.

Lana turut menyinggung adanya fenomena retakan permukaan tanah dan amblasan pada jalan akses Napu. Hal ini menunjukkan jenis tanah yang lunak serta posisi topografi yang memiliki kemiringan lereng sehingga mengalami gerakan tanah atau lebih atau lebih tepatnya disebut penurunan lahan.

Gempa M 6,7 turut memicu longsor di berbagai titik di Sigi yang terjadi akibat adanya ketidakstabilan lereng di Gunung Kamaro saat mendapat guncangan gempa bumi. Selain itu surutnya air laut di Teluk Palu saat gempa juga mendapat perhatian.

"Fenomena surutnya air laut di Teluk Palu, kemungkinan berasal dari penurunan lahan yang menyebabkan sebagian dataran pantai amblas ke dalam laut saat mendapat guncangan gempa bumi," tutur Lana.

Sementara itu BMKG mencatat 1.163 gempa susulan pascagempa utama M 6,7 Palu. Terbaru, gempa bumi M 4,1 sempat mengguncang Sigi pada Minggu (21/6) sekitar pukul 14.41 WIB. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Palolo.

Gempa bumi M 4,1 merupakan rangkaian susulan dari gempa M 6,7 yang terjadi pada Selasa (16/6) lalu. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

"Hingga tanggal 21 Juni 2026 pukul 14.55.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 1.163 gempa bumi susulan dengan kekuatan terbesar M 5,3," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu Djati Cipti Kuncoro dalam keterangannya.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads