Hari Asyura menjadi hari istimewa bagi umat Islam. Hal ini lantaran banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada hari tersebut, serta adanya sejumlah amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan.
Beberapa amalan yang banyak diyakini masyarakat muslim pada Hari Asyura di antaranya adalah mandi dan bercelak. Lantas, benarkah mandi dan bercelak merupakan sunnah di Hari Asyura?
Dasar Hukum Anjuran Mandi dan Bercelak
Amalan mandi dan bercelak banyak disandarkan pada tulisan Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur, yakni:
فِي يَوْمٍ عَاشُورَاء عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بها اثْنَتَانِ وَلَها فَضْلٌ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلِّ زُرْ عَالِماً عُدْ وَاكْتَجِلْ * رَأْسُ الْيَتِيمِ امْسَحُ تَصَدِّقُ وَاغْتَسِلْ وسع عَلَى العِبَالِ فَلَمْ ظُفْرًا * وَسُورَةَ الْإِخْلَاصِ قُلْ أَلْفَ تَصِلُ
"Ada sepuluh amalan di dalam bulan 'Asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, sholatlah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali.[1]
Namun, dasar hukum yang menganjurkan mandi dan bercelak di Hari Asyura tidak ada yang sahih. Imam Ibnul Qayim berkata,
"Hadits-hadits tentang bercelak di hari 'Asyura, berhias diri, melapangkan keluarga, melaksanakan shalat tertentu, dan amal-amal utama yang lain, tidak ada dalil sahih yang membenarkannya. Tidak ada satu pun hadits, tidak ada keterangan yang sahih dari Rasulullah SAW tentang itu sesuatu pun selain hadits-hadits tentang puasa. Karenanya, selain itu adalah batil."
Secara tegas disebutkan bahwa hadits bercelak dan berdandan merupakan produk para pendusta yang kemudian direspon orang lain dan dijadikannya sebagai hari berkabung dan kesedihan. Kedua kelompok tersebut dinilai sebagai ahli bid'ah dan keluar dari sunah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tidak terdapat satu pun hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan amalan tersebut. Menurutnya, riwayat semacam itu juga tidak ditemukan dari para sahabat maupun para imam terdahulu.
Selain itu, para penyusun kitab-kitab hadits rujukan tidak meriwayatkannya, baik dari Nabi SAW, sahabat, maupun tabi'in, baik dalam bentuk hadits shahih maupun dhaif. Riwayat tersebut juga tidak tercantum dalam kitab-kitab hadits utama seperti kitab Sahih, Sunan, maupun Musnad, dan tidak diketahui pernah dinukil oleh para ulama pada generasi-generasi terbaik umat Islam.[2]
Dengan demikian, mandi dan bercelak bukan termasuk sunnah di Hari Asyura.
Amalan Hari Asyura Sesuai Sunnah
Amalan utama pada Hari Asyura yang diajarkan Rasulullah SAW adalah melaksanakan puasa Asyura pada 10 Muharram. Anjuran ini didasarkan pada sejumlah hadits shahih yang menjelaskan hukum pelaksanaannya. Beberapa hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muawiyah bin Abi Sufyan RA, disebutkan bahwa ketika berkhutbah di Madinah, ia menyampaikan Rasulullah SAW bersabda:
"Hari ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkan kalian untuk berpuasa pada hari ini, tetapi aku berpuasa. Maka barang siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka berbukalah." (HR Bukhari)
Selain itu, Aisyah RA meriwayatkan bahwa:
كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ بِصِيَامِ عَاشُوْرَاءَ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
"Rasulullah SAW memerintahkan puasa Asyura. Namun, setelah puasa Ramadan diwajibkan, siapa yang ingin berpuasa Asyura dipersilakan berpuasa dan siapa yang tidak ingin berpuasa dipersilakan untuk tidak berpuasa." (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain, Aisyah RA juga berkata:
فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَ صِيَامَهُ
"Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. Namun setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura tidak lagi menjadi kewajiban. Siapa yang ingin berpuasa dapat melaksanakannya, dan siapa yang tidak ingin berpuasa dapat meninggalkannya." (HR Bukhari)[3]
Sumber:
[1] Laman Nahdlatul Ulama: "12 Amalan Dalam Bulan Muharram"
[2] Buku Fiqih Puasa oleh Dr Yusuf Qardhawi
[3] Buku Fiqih Niat oleh Dr Umar Sulaiman al-Asyqar
(alk/alk)
