Khutbah Jumat menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan nasihat, penguatan iman, dan ajakan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pemilihan tema khutbah yang relevan sangat membantu jemaah memahami serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Tema-tema seperti sabar, syukur, dan sedekah termasuk pembahasan yang selalu relevan karena berkaitan langsung dengan kehidupan setiap muslim. Nilai-nilai tersebut juga banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis sebagai hal yang harus dijaga.
Bagi detikers yang membutuhkan referensi dalam menyusun khutbah Jumat, berikut kumpulan contoh khutbah singkat dan terbaru dengan dengan berbagai tema pilihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Khutbah Jumat Tentang Syukur
Judul: Qana'ah Bukti Orang Beriman
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الْمَنَّانِ، اَلَّذِيْ حَذَّرَنَا بِأَنْوَاعِ الْبَلَاءِ وَالْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الدَّيَّانُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَمَرَنَا عِنْدَ ظُهُوْرِ الْفِتَنِ وَالْاِعْتِصَامِ وَالتَّمَسُّكِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَنِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مُحَمَّدٍ الدَّاعِى اِلٰى دَارِ السَّلَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ.
اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فِى السِّرِّ وَالْعَلَانِيَّةِ بِالطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ.
وَتَرْكِ المَعَاصِي وَالطُّغْيَانَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ الإِبْتِلَاءِ وَالاِمْتِحَانِ .
Hadirin jemaah Jum'at rahimakumullah
Patutlah kiranya pada siang hari ini kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita bisa melaksanakan kewajiban ibadah Jum'at. Untuk mewujudkan rasa syukur tersebut marilah kita berusaha meningkatkan takwa kepada Allah SWT, dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan berusaha meninggalkan semua larangan-Nya. Takwa ini harus kita wujudkan dengan sebenar-benarnya takwa, sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran 102)
Hadirin jemaah Jum'at rahimakumullah
Salah satu cara agar kita bisa hidup tenteram dan bahagia adalah memiliki sifat Qana'ah, yakni merasa puas atas pemberian yang sudah kita terima. Kepuasan itu ditunjukkan dengan rasa syukur serta menghindari kerakusan.
Qana'ah adalah salah satu cara untuk mengendalikan diri di tengah gemerlapnya dunia yang semakin menggiurkan. Sebagai seorang muslim sifat ini harus kita miliki, supaya kita tidak terjerembab dalam kubangan kehidupan duniawi yang penuh tipu daya.
Kebanyakan diantara kita masih banyak yang belum menyadari akan pentingnya qanaah. Terbukti masih rakus dalam memburu harta dan jabatan. Padahal kita semua tahu, bahwa harta pasti akan habis dan jabatan akan digantikan. Alasan klasik selalu muncul; ingin hidup bahagia dengan semua itu. Namun karena tidak qanaah, yang namanya kebahagiaan tidak pernah ditemukan.
Qanaah adalah harta yang tidak akan habis dan simpanan yang tak akan lenyap. Sebagaimana ungkapan hikmah Abu Bakar al-maghribi: bahwa orang yang berakal ialah orang yang dapat mengatur urusan dunianya dengan sikap qana'ah dan mengatur urusan akhiratnya dengan penuh semangat dan mengatur urusan agamanya dengan syari'ah.
Hadirin jemaah Jum'at rahimakumullah
Ketika kita memiliki sifat qana'ah, maka semua yang ada akan terasa cukup. Sebagaimana pendapat Syaikh Zakaria al-Anshari bahwa qana'ah itu merasa cukup dengan apa yang sudah diterima dan memenuhi kepentingannya, baik berupa makanan, minuman, pakaian atau lainnya.
Dengan memiliki sifat qanaah, diri kita terhindar dari sifat-sifat buruk seperti serakah, hasud, dan sombong. Kita menjadi lebih hati-hati dari barang subhat apalagi yang haram. Bahkan kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Rasulullah bersabda:
كُنْ وَرَعَا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنَعًا تكُن أَشْكَرَ النَّاسِ
"Jadilah kamu orang yang wara' pasti kamu menjadi orang yang rajin beribadah, dan jadilah kamu orang yang qana'ah pastilah kamu menjadi orang yang banyak bersyukur." (HR Bukhari)
Namun demikian, janganlah salah mengartikan qana'ah dengan berpangku tangan atau berserah diri tanpa usaha. Manusia tidak dilarang mencari rezeki, bahkan Allah SWT memerintahkan manusia untuk berusaha. Karena usaha merupakan bagian dari ibadah. Usahalah yang menjadi modal perjuangan agama. Tanpa ada hasil usaha, tidak akan ada masjid, tidak ada panti asuhan, tidak ada madrasah dan musholla.
Hanya saja yang perlu disadari, bahwa dunia usaha bagaikan hutan belantara. Apabila kita tidak berhati-hati, bisa-bisa diterkam binatang buas atau tersesat di dalamnya. Sehingga kita tidak mendapatkan hasil maksimal, ataupun mendapatkannya tetapi bukan hasil yang halal. Oleh karena itu, kita mesti mem-perisai diri dengan qana'ah. Dengan begitu kita tidak tersesat dan meraih hasil maksimal. Bahkan usaha kita akan bernilai ibadah.
Hadirin jemaah Jum'at rahimakumullah
Jelaslah bahwa qana'ah semata berpangku tangan, justru sebaliknya qana'ah adalah keyakinan penuh kepada Allah Yang Maha Kuasa mengatasi segala keperluan manusia dan menentukan yang bagi hamba-Nya. Jika ternyata ketentuan itu tidak sesuai harapan, maka bersabarlah, itu pertanda Allah sedang menguji kesabaran kita. Kita tidak boleh berhenti berusaha, namun tetap berusaha sekuat tenaga, selama nyawa masih dikandung badan.
Dengan memiliki sifat qanaah, kita tidak pernah takut dan gentar. Apapun kondisinya, kita akan tetap sabar dan penuh keyakinan, karena yakin akan janji Allah SWT dalam Surat Hud ayat 6. Tiada sesuatu yang melata di bumi ini, melainkan di tangan Allah rezekinya.
Kenyataan hidup memang tidak selalu sesuai harapan. Ter-kadang lurus kadang berkelok. Justru ketika berkelok itulah tanda-tanda keberuntungan kita. Rasulullah SAW bersabda:
"Sungguh beruntung orang yang Islam dan rezeki nya pas-pasan dan dia merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepada-nya."
Rasulullah SAW berpesan kepada Hakim bin Hizam: "Harta memang indah dan manis, barang siapa mengambilnya dengan lapang dada maka dia mendapatkan berkah. Sebaliknya, barangsiapa menerimanya dengan kerakusan, maka harta itu tidak akan memberikan berkah kepadanya. layaknya orang makan yang tak pernah kenyang"
Hadirin jemaah Jum'at rahimakumullah
Demikianlah khutbah Jumat kali ini. Semoga dapat menjadi pertimbangan dalam mengarungi kehidupan kita sehari-hari yang semakin terasa penuh sesak dengan berbagai persaingan dan tuntutan. Semoga kita termasuk muslim yang cerdas. Muslim yang dapat mengendalikan diri dan nafsunya dalam menghadapi dunia.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ . أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ الْمُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ ، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأَسْلَمُ لِأَمْرِهِ فِيْمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدُّهُوْرِ ، صَلَاةً دَائِمَةً بِلَا فَنَاءٍ وَلَا فُتُوْرٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ وَأَيَّهَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ ،
فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَائِلٍ : اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَاَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ وَاَخْرِجْهُمْ مِنَ السُّجُونِ اِلَى سَعَةِ اَوْطَانِهِمْ وَلَا تَجْعَلْهُمْ فِتْنَةً لِلظَّالِمِيْنَ وَنَجِّهِمْ بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: buku Materi Khutbah Jum'at Sepanjang Tahun
2. Khutbah Jumat Tentang Sabar
Judul: Tiga Kategori Sikap Sabar
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ ععَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِييَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَىٰ الدَّارِ (الرععد: ٢٤)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.
Kaum muslimin yang berbahagia,
Sabar adalah adat kebiasaan para nabi dan rasul. Sabar adalah permata yang menghiasi kehidupan para wali. Sabar adalah mutiara bagi orang-orang shalih. Sabar adalah cahaya penerang bagi siapa pun yang menapaki jalan menuju kebahagiaan abadi di akhirat.
Menurut Imam al-Ghazali, kata sabar dan berbagai kata turunannya disebutkan di lebih dari tujuh puluh tempat dalam Al-Qur'an. Di antaranya adalah firman Allah ta'ala:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُونَ (النحل: ٩٦)
Artinya: ... Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, (QS an-Nahl: 96).
Juga firman Allah ta'ala:
سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَىٰ الدَّارِ (الرعد: ٢٤)
Artinya: Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. (QS Ar-Ra'd: 24)
Hadirin rahimakumullah,
Seseorang yang memiliki sifat sabar bukan berarti ia pengecut, putus asa dan lemah dalam berucap, bertindak, dan mengambil keputusan. Sabar hakikatnya adalah menahan diri dan memaksanya untuk menanggung sesuatu yang tidak disukainya, dan berpisah dengan sesuatu yang disenanginya. Sabar yang merupakan salah satu kewajiban hati ada tiga macam, yaitu:
Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan yang Allah wajibkan.
Pada pagi hari yang suhu udaranya sangat dingin, misalkan, kita harus sabar dalam melaksanakan perintah Allah. Kita paksa diri kita untuk menahan dinginnya udara guna mengambil air wudhu. Pada pagi hari juga, saat tidur adalah sesuatu yang disenangi nafsu kita, kita tahan keinginan nafsu itu, dan kita paksa diri kita untuk menjalankan ibadah shalat Subuh. Kita lakukan itu semua semata-mata mengharap ridha Allah ta'ala. Inilah yang disebut dengan sabar dalam menjalankan ketaatan yang diwajibkan oleh Allah ta'ala.
Kedua, sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan segala yang Allah haramkan.
Nafsu manusia pada umumnya menyenangi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Barangsiapa yang menjauhkan dirinya dari kemaksiatan dengan niat memenuhi perintah Allah, maka pahalanya sangat agung. Para ulama mengatakan bahwa meninggalkan satu kemaksiatan lebih utama daripada melakukan seribu kesunnahan. Karena meninggalkan kemaksiatan hukumnya wajib. Sedangkan melakukan kesunahan hukumnya sunnah. Tentu yang wajib lebih utama daripada yang sunnah. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa barangsiapa yang menjaga pandangan matanya dari aurat-aurat perempuan yang tidak halal baginya, maka pahalanya lebih besar daripada melakukan seribu rakaat shalat sunnah.
Hal itu dikarenakan sabar dalam meninggalkan perkara haram menuntut perjuangan yang luar biasa berat. Yaitu perjuangan melawan setan yang selalu menghiasi kemaksiatan seakan-akan ia adalah sesuatu yang sangat indah dan mempesona. Dan perjuangan melawan hawa nafsu yang seringkali mengajak manusia tenggelam dalam dosa dan keburukan.
Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa.
Musibah jika dihadapi dengan sabar akan meninggikan derajat atau menghapus dosa. Musibah banyak macamnya. Perlakukan buruk orang lain pada kita adalah musibah. Begitu juga penyakit yang kita derita, kemiskinan, kecelakaan, kemalingan, kehilangan harta benda, kebakaran, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَة يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَاا مِنْ خَطَايَاهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
Artinya: Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan dan penyakit, kekhawatiran dan kesedihan, gangguan dan kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan dengan sebab itu semua Allah akan menghapus dosa-dosanya. (HR al-Bukhari).
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
Artinya: Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya, (HR al-Bukhari).
Jadi orang yang dikehendaki baik oleh Allah, ia akan ditimpa musibah dan diberi kekuatan oleh Allah untuk bersikap sabar dalam menanggung dan menghadapi musibah yang menimpanya.
Sabar dalam menghadapi musibah artinya musibah yang menimpa tidak menjadikan seseorang melakukan sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah. Seseorang yang ditimpa kemiskinan, misalkan, jika kemiskinan yang menimpanya tidak menyebabkannya mencari harta dengan jalan mencuri, merampok, korupsi dan perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan oleh Allah, maka artinya ia telah bersikap sabar dalam menghadapi musibah kemiskinan yang menimpanya.
Musibah yang menimpa, terkadang tidak hanya menyebabkan seseorang melakukan perbuatan haram. Bahkan lebih dari itu, terkadang menjadikannya melakukan atau mengucapkan perkataan yang menjerumuskannya pada kekufuran. Seperti orang yang ketika anggota keluarganya meninggal dunia, ia mengatakan bahwa Allah zalim, Allah tidak adil, Allah bukan tuhan yang berhak disembah, dan perkataan lain yang membatalkan keislaman dan keimanannya. Naudzubillah min dzalik. Hal yang demikian wajib kita hindari.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Seseorang yang memahami ilmu agama dengan baik dan memegang teguh ajaran Islam sebagaimana mestinya, maka musibah yang menimpanya tidak akan menambahkan kepadanya kecuali sikap sabar dan peningkatan ibadah kepada Allah. Bahkan para wali Allah, kegembiraan mereka atas bala' dan musibah yang menimpa mereka lebih besar daripada kegembiraan mereka atas kelapangan hidup dan keluasan rezeki yang dianugerahkan kepada mereka. Oleh karena itu, sebagian kaum sufi mengatakan:
وُرُوْدُ الْفَاقَاتِ أَعْيَادُ الْمُرِيْدِيْنَ
Artinya: Datangnya berbagai musibah adalah hari raya bagi para pencari kebahagiaan di akhirat.
Mereka menganggap bahwa musibah yang menimpa adalah hari raya bagi mereka. Dengan itu, musibah akan meningkatkan ketaatan dan ibadah mereka kepada Allah ta'ala.
Hadirin rahimakumullah,
Suatu ketika, datang seorang perempuan ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tujuan agar beliau berkenan memperistri putrinya. Perempuan itu memuji putrinya di hadapan beliau dengan mengatakan bahwa putrinya sangat cantik jelita dan memiliki kesehatan yang sempurna. Bahkan sakit kepala pun tidak pernah ia rasakan. Rasulullah lantas menjawab:
لَا حَاجَةَ لِي فِيْهَا
Artinya: Saya tidak membutuhkannya, saya tidak mau menikahinya.
Kenapa Rasulullah menolak tawaran itu? Karena beliau mengetahui bahwa seseorang yang berlimpah kesenangan di dunia dan tidak pernah ditimpa musibah, maka ia adalah orang yang sedikit kebaikannya di akhirat. Seseorang yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menimpakan pada dirinya berbagai musibah di dunia.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ وَغَيْرُهُمَا)
Maknanya: "Manusia yang paling berat ujian dan musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka. Seseorang diuji berdasarkan sekuat apa ia pegang teguh agamanya" (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).
Diceritakan bahwa ada seorang yang shalih, kedua tangannya terpotong, kedua kakinya terpotong dan kedua matanya buta. Ia juga terjangkit suatu penyakit yang menggerogoti beberapa anggota tubuhnya. Anggota-anggota tubuhnya yang terkena penyakit itu menjadi menghitam lalu berjatuhan dan berguguran. Tidak ada satupun yang mau merawatnya. Ia dibuang di jalanan. Banyak serangga yang mengerubungi kepalanya dan menggigitnya. Namun apa daya. Ia tidak punya tangan untuk menjauhkan dirinya dari serangga-serangga itu. Ia juga tidak punya kaki untuk bergerak dan berpindah dari tempat duduknya.
Suatu ketika, beberapa orang melewatinya. Ketika melihat orang shalih tersebut, mereka mengatakan: Subhanallah, alangkah tabah dan sabarnya laki-laki ini. Mendengar perkataan mereka, orang shalih itu kemudian mengatakan:
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ قَلْبِيْ خَاشِعًا وَلِسَانِي ذَاكِرًا وَبَدَنِي عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرًا، إِلَهِي لَوْ صَبَبْتَ عَلَيَّ الْبَلَاءِ صَبًّا، مَا ازْدَدْتُ فِيْكَ إِلَّا حُبًّا
Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hatiku khusyu', lisanku berdzikir, dan badanku bersabar atas musibah. Ya Tuhanku, seandainya Engkau menimpakan kepadaku musibah seberat apa pun, tidaklah aku bertambah kepada-Mu kecuali rasa cinta.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِييْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْممُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Sumber: NU Online Lampung
3. Khutbah Jumat Tentang Sedekah
Judul: Manfaat Sedekah
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ. وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورٍ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ . بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَّحَ لِلْأُمَّةِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَوَّلِينَ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْآخِرِينَ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْعَالَمِينَ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ، وَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْمَلَأُ الْأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.
Melalui mimbar ini, saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jemaah sekalian marilah bersama-sama kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenarnya, yaitu dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bahwasanya tidak ada perbedaan antara seseorang dengan yang lainnya, maka alangkah beruntung dan bahagianya orang yang termasuk golongan orang muttaqin. Karena kelak akan mendapat tempat dan maqom yang mulia di sisi Allah SWT.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah. Allah SWT dalam Surah Al-An'am ayat 160 berfirman:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
"Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya pahala amal baik sepuluh kali lipat."
Dikisahkan pada suatu hari, Sayyidah Fatimah az-Zahra sangat menginginkan buah delima. Sayyidina Ali bin Abi Thalib segera berangkat ke pasar untuk mencari delima yang dimaksud. Mengingat uang yang dimilikinya (waktu itu) sangat terbatas, Sayyidina Ali hanya membelikan satu buah delima untuk Sayyidah Fatimah.
Di tengah jalan, datang seorang yang sangat miskin menginginkan buah delima. Oleh sayyidina Ali diberikan setengahnya. Sesampai di rumah, Sayyidina Ali menceritakan kepada Sayyidah Fatimah mengapa buah delima yang dibawakannya tinggal setengah. Selang beberapa lama, terdengar seseorang mengetuk pintu. Begitu dibuka, ternyata Salman al-Farisi.
Ia berdiri di depan pintu dengan membawa sembilan buah delima. Rasulullah Saw. mengutus Salman al-Farisi untuk memberikan sepuluh buah delima kepada Sayyidah Fatimah, hanya saja Salman menyembunyikan satu buah delima. Sehingga yang dibawanya hanya sembilan buah delima.
Salman lalu berkata, "Ini ada buah delima dari Rasulullah untuk Sayyidah Fatimah."
Sayyidina Ali lalu berkata, "Kalau benar ini dari Rasulullah Saw., pasti jumlahnya sepuluh. Bukan sembilan."
Mendengar hal itu, Salman al-Farisi kaget. Lalu bertanya, "Bagaimana engkau tahu, wahai Sayyidina Ali?"
Sayyidina Ali menjawab, "Karena saya ingat firman Allah SWT yang berbunyi man ja a bi al-hasanati fa lahu 'asyru amtsaliha. Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya."
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah.
Bukan hanya dilipatgandakan balasannya. Orang yang rajin sedekah akan dihindarkan dari beragam bencana dan malapetaka. Rasulullah SAW bersabda:
دَوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
"Obatilah, orang-orang sakit kalian dengan sedekah."
Al-'Allamah al-Yafi' dalam kitabnya At-Targhib wa Tarhib menuturkan sebuah kisah. Pada masa Nabi Shaleh a.s., hiduplah seorang tukang tato yang suka merusak pakaian orang-orang. Sekelompok orang lalu menemui Nabi Shaleh a.s. dan berkata, "Wahai Nabiyallah, doakan orang (tukang) tato itu agar ditimpa musibah karena dia suka merusak pakaian-pakaian kami."
Nabi Shaleh a.s. lalu berdoa agar tukang tato tersebut pulang dalam keadaan tidak selamat. Namun, sore hari-nya Nabi Shaleh a.s. kaget melihat tukang tato tersebut pulang dengan membawa bundelan dan selamat. Di dalam bundelan itu ada seekor ular yang ganas dan berbisa.
Lalu Nabi Shaleh bertanya, "Wahai tukang tato, apa yang kamu lakukan tadi pagi sebelum berangkat?"
Tukang tato menjawab, "Saya berangkat dengan membawa dua buah roti. Satu roti saya sedekahkan kepada orang dan satu roti saya makan."
Lalu Nabi Shaleh berkata, "Benar, Allah telah menyelamatkan kamu dari bahaya malapetaka ular yang bersembunyi di dalam bundelan yang kamu bawa lantaran sedekah yang kamu lakukan. Pergi, dan bertobatlah."
Tukang tato itu pun bertaubat dan tidak melakukan kejahatan yang dia lakukan lagi.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.
Sungguh luar biasa keajaiban sedekah. Saking luar biasanya, Ibn Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma'ad mengatakan: "Dalam bersedekah banyak hal luar biasa, termasuk menolak beragam bencana dan penyakit. Sekalipun yang melakukan sedekah adalah orang yang durhaka ataupun orang yang banyak menganiaya."
Mengingat banyaknya manfaat sedekah, pengarang kitab Tanbihul Ghofilin, Imam Samarqandi mengatakan:
"Biasakanlah kamu untuk terus bersedekah, baik dalam jumlah kecil maupun jumlah yang besar karena dalam sedekah ada sepuluh manfaat. Lima manfaat yang akan kamu peroleh ketika di dunia dan lima manfaat ketika di akhirat kelak."
Lima manfaat yang akan diperoleh di dunia adalah menyucikan harta, menyucikan badan dari perbuatan dosa, dapat menolak beragam bencana dan penyakit, membahagiakan orang miskin, dan menjadikan harta kekayaan berkah, serta rezeki akan menjadi melimpah.
Adapun manfaat yang diperoleh di akhirat adalah sedekah menjadi pelindung dari sengatan panasnya Matahari kelak, mendapat ridha Allah, membantu melewati shirath (jembatan), dan mengangkat ketinggian derajat di surga kelak.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah.
Marilah kita budayakan gemar sedekah dalam kondisi apapun. Karena di antara ciri orang yang bertakwa adalah orang yang tetap bersedekah ketika sempit atau lapang, ketika suka ataupun duka, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 133-134:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (۱۳۳) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)
Jangan sampai datang penyesalan di belakang.
Sebagaimana firman Allah:
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
"Dan berinfaklah kalian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah satu di antara kalian, lalu ia berkata, wahai Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan saya bisa bersedekah dan saya termasuk golongan orang-orang yang saleh."
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَاسْتَغْفِرُوا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ الْمُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ ، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأَسْلَمُ لِأَمْرِهِ فِيْمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدُّهُوْرِ ، صَلَاةً دَائِمَةً بِلَا فَنَاءٍ وَلَا فُتُوْرٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ وَأَيَّهَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ ،
فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَائِلٍ : اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَاَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ وَاَخْرِجْهُمْ مِنَ السُّجُونِ اِلَى سَعَةِ اَوْطَانِهِمْ وَلَا تَجْعَلْهُمْ فِتْنَةً لِلظَّالِمِيْنَ وَنَجِّهِمْ بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: Buku Koleksi Khutbah Jum'at Inspiratif untuk Pemula dan Umum, dan buku Materi Khutbah Jum'at Sepanjang Tahun
4. Khutbah Jumat Tentang Jujur
Judul: Arti Penting Kejujuran dalam Kehidupan Seorang Muslim
Oleh: Ustadz Syarif Hidayatullah SHI
Khutbah Pertama
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالصِّدْقِ، وَجَعَلَ الْوَفَاءَ بِالْأَمَانَةِ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللّٰهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ حَبْلِ اللّٰهِ الْـمَتِيْنِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَآأَيُّهَاالْـمُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ،
قَالَ تَعَالٰى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : «عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
Ma'asyiral muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah..
Syukur Alhamdulillah, pada kesempatan hari ini kita tengah berada di tempat yang penuh dengan keberkahan dan di hari berkah pula Sayyidul Ayyam. Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba Allah yang istiqamah menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan senantiasa mampu menjaga Sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam .
Ma'asyiral muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah..
Sebagai wujud syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas segala nikmat yang tak terhingga yang dianugerahkan kepada kita; baik nikmat sehat wal afiyat, nikmat panjang umur, nikmat istiqamah dalam beribadah kepada Allah, nikmat berpegang kepada Sunnah-sunnah Rasul-Nya, dan nikmat yang terbesar yang Allah berikan kepada kita yaitu nikmat iman dan Islam, sebab dengan adanya nikmat iman dan Islam tersebut, sekecil atau sedikit apapun yang kita lakukan dalam bentuk kebaikan dan ketaatan akan berarti di sisi Allah, namun sebaliknya tanpa adanya nikmat iman dan islam yang Allah karuniakan, sebanyak dan sebesar apapun kebaikan yang kita lakukan maka tidak akan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala, Allah berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 94 :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّاا لَهُ كَاتِبُونَ
"Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya."
Marilah bersama-sama kita berusaha dan berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan , juga kita tingkatkan kualitas pemahaman ilmu agama kita, agar ibadah kita mendapatkan predikat ibadah yang sah, ibadah yang terpenuhi syarat dan rukunnya, bukan ibadah yang sekadar berlandaskan hawa nafsu belaka atau sekadar ikut-ikutan saja, yang pada akhirnya akan sia-sia tanpa nilai pahala, sebagaimana perkataan Syeikh Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad-nya:
فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ
"Maka setiap orang yang beribadah tanpa berlandaskan ilmu, ibadahnya akan tertolak, tidak akan diterima".
Dengan ketaqwaan dan amal shaleh yang kita lakukan, maka Allah akan senantiasa membersamai kita baik dalam bentuk pertolongan dan bantuan-Nya, dan jelas hal ini Allah nyatakan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan".
Ma'asyiral muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah..
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS At-Taubah[ 9 ] ayat 119)
Ayat ini mengaitkan iman dan kejujuran, dalam kajian terhadap kitab seperti Al-Akhlaqu Lil Banin, ditemukan bahwa kejujuran menjadi salah satu nilai utama akhlak yang diajarkan, dengan contoh-contoh bahwa seseorang harus jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, dan jujur dalam menjaga amanah.
Oleh sebab itu, penting bagi kita semua untuk selalu bersikap jujur dalam semua aktivitas, karena kejujuran merupakan ciri khas dan karakter setiap orang yang beriman. Kejujuran tidak hanya kata-kata, namun juga harus sesuai dengan aksi yang nyata. Kejujuran juga berlaku dalam semua lini kehidupan yang kita jalani, seperti dalam keluarga, dalam berbisnis, bertetangga, berteman, bekerja, dan lain sebagainya.
Rasulullah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa kita harus selalu berpegang pada kejujuran, karena kejujuran adalah kunci menuju kebaikan. Ketika seseorang terbiasa jujur dalam setiap perkataan dan tindakannya, ia akan menemukan bahwa kejujuran itu membimbingnya ke arah perbuatan-perbuatan baik, atau al-birr.
Rasulullah SAW bersabda:
صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا
"Hendaklah kalian selalu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa pada surga. Seseorang yang senantiasa berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan jauhilah kebohongan, karena sesungguhnya kebohongan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan membawa pada neraka. Seseorang yang senantiasa berbohong akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR Bukhari dan Muslim).
Ma'asyiral muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah...
Dalam hal kejujuran yang kita terapkan dalam kehidupan dan aktivitas sehari-hari kita akan berdampak banyak dalam berbagai aspek;
1. Aspek Pribadi
- Kejujuran membantu seseorang menjadi pribadi yang memiliki integritas, konsisten antara perkataan, pikiran, dan tindakan
- Mengurangi beban mental seperti rasa bersalah atau kecemasan ketika kita menyembunyikan kebenaran atau berbohong
2. Aspek Hubungan dan Sosial
- Memperkuat hubungan antar-individu (keluarga, teman, pasangan) karena komunikasi menjadi terbuka, tidak ada rahasia besar yang bisa menjadi bom waktu
- Membantu menciptakan lingkungan sosial yang harmonis: ketika orang merasa mereka dapat mempercayai sesama, maka kerjasama dan kebersamaan tumbuh
3. Aspek Profesional / Dunia Kerja dan Bisnis
- Di tempat kerja, kejujuran meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi: rekan kerja atau bawahan tahu bahwa komunikasi jujur adalah norma, bukan pengecualian
- Perusahaan yang menjunjung kejujuran akan memperoleh reputasi yang baik, menarik mitra, klien, dan meminimalkan risiko reputasi buruk atau konflik internal
4. Aspek Masyarakat dan Institusi
- Masyarakat yang menghargai dan menerapkan kejujuran cenderung memiliki institusi yang kuat, kepercayaan publik yang tinggi, dan tatanan sosial yang lebih stabil.
5. Aspek Spiritual / Moral
- Kejujuran sering dikaitkan dengan keberkahan, kedamaian batin, dan hubungan baik dengan "yang Transenden" (Tuhan, nilai tertinggi) dalam ajaran agama.
Ma'asyiral muslimin jemaah shalat Jumat rahimakumullah...
Kejujuran itu multidimensional: dampaknya menyentuh diri sendiri, hubungan interpersonal, profesional, masyarakat, dan spiritual. Meski terkadang kejujuran bisa membuat kita menghadapi tantangan jangka pendek (misalnya jujur saat sulit itu mungkin "merugikan" secara sosial), manfaat jangka panjangnya sangat besar: reputasi baik, hubungan sehat, kepercayaan tinggi, dan kehidupan yang lebih damai. Di era digital, kejujuran juga perlu diterjemahkan ke dalam keterampilan etis - seperti kejujuran dalam pengelolaan data, informasi online, dan interaksi digital.
Ma'asyiral muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT...
Sebelum khatib menutup khutbah ini, kami akan menegaskan kembali bahwa jujur merupakan perilaku dan tindakan yang sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki manfaat tidak hanya secara personal, namun juga berdampak secara komunal. Sementara kebohongan membuka jalan menuju kebinasaan dan siksa neraka.
Demikian adanya khutbah Jumat, perihal pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ،
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ الْمُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ ، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأَسْلَمُ لِأَمْرِهِ فِيْمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدُّهُوْرِ ، صَلَاةً دَائِمَةً بِلَا فَنَاءٍ وَلَا فُتُوْرٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا . أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ وَأَيَّهَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ ،
فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَائِلٍ : اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَاَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ اَدْيَانِهِمْ وَاَخْرِجْهُمْ مِنَ السُّجُونِ اِلَى سَعَةِ اَوْطَانِهِمْ وَلَا تَجْعَلْهُمْ فِتْنَةً لِلظَّالِمِيْنَ وَنَجِّهِمْ بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: Laman MUI Digital dan buku Materi Khutbah Jum'at Sepanjang Tahun
5. Khutbah Jumat Tentang Taqwa
Judul: Hakekat Taqwa
Oleh: Ustadz Fachrudin, S.Ag
Khutbah Pertama
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ االكَرِيْم
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَٓا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال الله تعالى
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلًا سَدِيدًايُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Selaku khatib, saya serukan, saya wasiatkan kepada jemaah Jumat sekalian dan tidak lupa kepada diri saya sendiri, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan selalu menjauhkan diri dari segala hal yg dilarang oleh Allah SWT dan selalu menjalankan segala hal yg diperintahkan oleh Allah SWT.
Marilah kita lakukan itu semua dengan segala kesungguhan dan keikhlasan, serta penuh rasa pengabdian kepada Allah SWT, sehingga seluruh hidup kita Insya Allah akan menjadi hidup yang bernilaikan ibadah di sisi Allah SWT. Dan kapanpun, di manapun, sedang apapun kita dipanggil Allah SWT Insya Allah kita dipanggil dalam keadaan sedang melaksanakan perintah Allah SWT atau sedang meninggalkan larangan Allah SWT. Mati seperti inilah yg disebut dgn husnul khatimah.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran : 102 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Hai orang - orang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya bertaqwa, dan jangan kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Afif Abdul Fattah At-Thabaarah Dalam kitab Ruuh ad-Diinul Islami mengatakan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang memelihara diri dari murka Allah SWT, dari adzab Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat dengan cara berhenti di garis batas yang telah ditentukan, melaksanakan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT.
Orang yang hidup dalam ketakwaan dapat diibaratkan seperti kita sedang berjalan di hutan belantara. Agar kita dapat selamat sampai tujuan maka kita harus sangat berhati-hati, kita harus selalu waspada terhadap lobang agar tidak terperosok di dalamnya, kita harus selalu waspada terhadap binatang-binatang berbahaya agar tidak mencelakakan kita, hati-hati memilih buah-buahan atau tumbuhan yg dapat dimakan dan tidak membahayakan bagi diri kita dan lain sebagainya.
Oleh karena itu supaya kita dapat berhati-hati saat melintasi hutan belantara maka kita wajib untuk mengetahui ilmu tentang hutan dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Kita harus tahu binatang apa saja yang berbahaya, buah atau tumbuhan apa saja yang boleh dimakan dan apa saja yang tidak boleh dimakan, kapan kita boleh melanjutkan perjalanan dan kapan kita harus berhenti untuk beristirahat dan sebagainya.
Kehidupan ini seperti kita berjalan di tengah hutan belantara, penuh dengan godaan, penuh dengan tipu daya yang apabila kita tidak berhati-hati maka kita akan celaka di dunia dan akhirat.
Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita dengan Islam agar hidup kita selamat dunia-akhirat. Maka kita harus tahu, harus belajar tentang Islam kemudian kita gunakan untuk pedoman dalam mengarungi kehidupan ini.
Kita wajib mengetahui tentang apa saja yang boleh kita lakukan, dan apa yang harus kita tinggalkan, dan kita wajib tahu tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga kita dapat selamat dunia-akhirat.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Apabila ajaran Islam dibagi menjadi 3 aspek, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan, maka hakikat taqwa adalah integralisasi atau gabungan dari ketiga dimensi tersebut. Orang yang bertaqwa adalah orang yang imannya kuat, Islamnya taat dan Akhlaknya mulia. Hal ini dapat kita pahami dari Al Qur'an surat Al Baqarah 2:177,
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Dalam ayat ini Allah SWT mendefinisikan kata al-birru dengan 3 aspek yaitu :
Pertama, aspek Iman: Yaitu Iman kepada Allah SWT, iman kepada Hari Akhir, iman kepada para malaikat, kitab-kitab, dan para Nabi.
Kedua, aspek Islam: Yaitu Mendirikan shalat, dan menunaikan zakat
Ketiga, aspek Ihsan: Yaitu menginfakkan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya. menepati janji, sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan.
Setelah disebut secara berganti ganti bagian dari Iman, Islam dan Ihsan, kemudian Allah SWT menutupnya dengan kalimat "Mereka itulah orang-orang yg benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa"
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dapat kita fahami dari ayat di atas bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang memiliki keimanan yang kuat, menjalankan ajaran Islam dengan taat, dan memiliki akhlak yang terpuji dan mulia.
Belum dapat dikatakan bertaqwa apabila ada yang mengaku beriman tetapi tidak mau melaksanakan syari'at Islam. Dan belum dapat dikatakan bertakwa orang yang mengaku beriman, melaksanakan syari'at Islam tetapi belum berakhlak Islam. Hal itu karena hakekat taqwa adalah gabungan dari Keimanan yang kuat, melaksanakan syari'at Islam dengan taat, dan memiliki akhlak yang mulia sesuai tuntunan Islam.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT menjadi orang yang kuat dan teguh imannya, taat menjalankan syari'at Islam, dan berakhlak dengan Islam, sehingga kita dimasukan oleh Allah SWT dalam golongan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰــهِ الَّذِى اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعْيْنَ
اَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللّٰه أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِى بِاتَقْوَى اللّٰه فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:
أَعُوْذُ بِااللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ،
وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا،
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber: Laman Pondok Pesantren Modern MBS Muhiba Yogyakarta
6. Khutbah Jumat Tentang Akidah
Judul: Menjaga Akidah
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ وَأَسْتَغْفِرُهُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ صَغِيْرًا أَوْ كَبِيْرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ بِعِبَادِهِ عَفُوًّا غَفُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، شَهَادَةَ مَنْ قَالَ لَهَا فَرَحِمَهُ مِنَ الْخَطِيْئَةِ مَغْفُوْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ وَيَرْحَمُ الْيَتِيْمَ، صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ بَاطِنَا وَظَهِيرًا، وَعَلَى آلِهِ وَاصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمُ مَا تَعَاقَبَتْ الأَوْقَاتُ وَالسَّاعَاتُ .
امَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَاشِرَ المُسلِمِينَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَانْتُمْ مُسْلِمُونَ .
Jemaah Jum'at yang dirahmati Allah SWT.
Pada kesempatan yang penuh berkah dan persaudaraan ini, tidak lipa saya berpesan kepada diri saya pribadi dan para jemaah sekalian. Marilah! kita senantiasa meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi semua laranganNya. Kedua hal tersebut harus selalu kita jaga sampai mati, jangan sampai goyah, apalagi sirna dari diri kita, apapun tantangannya harus tetap kita pertahankan meskipun harus mempertaruhkan nyawa. Inilah kewajiban kita sebagai muslim.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sesaat sebelum Rasulullah diutus di muka bumi ini, umat manusia benar-benar berada dalam kegelapan. Kehidupannya benar-benar jahiliyah dan penuh dengan kemusyrikan, kesesatan, dan kekafiran. Kompilasi semua kejelekan ini terhimpun dalam istilah dhalalun mubin "kesesatan yang nyata".
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِين .
Mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran 164)
Setelah diutusnya Rasulullah, zaman berganti. Hanya dalam tempo 23 tahun, terciptalah sebuah masyarakat baru yang benar-benar berbeda secara diametral dengan zaman sebelumnya. Masyarakat yang bermartabat dan mempunyai ideologi yang bersumber dari zat Yang Maha Benar, Allah SWT Al-Qur'an sendiri menyebut mereka dengan sebutan khairu ummah "umat terbaik".
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أَخْرَجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran 110)
Itulah generasi terbaik yang dipuji oleh Allah SWT. Disebut khaira ummah (sebaik-baik umat) karena memiliki dasar iman yang kuat dan akidah yang mantap, yaitu sebuah keyakinan kepada Allah, kepada kebenaran agamaNya, RasulNya, kitab-kitabNya, para malaikat dan hari akhir, tidak pernah goyah dan mampu menuntunnya ke jalan yang benar. Predikat sebagai umat terbaik akan tetap kita sandang apabila kita mampu memper-tahankan dan menyelamatkan iman kita dari hal-hal yang bisa merusaknya.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya agama Islam isinya adalah akidah dan syariah.
Adapun yang dimaksud dengan akidah yaitu tiap perkara yang dibenarkan oleh jiwa yang menyebabkan hati menjadi tentram serta menjadi keyakinan bagi para pemeluknya, tidak ada keraguan dan kebimbangan di dalamnya. Adapun yang dimaksud syariah adalah amalan-amalan yang disyariatkan oleh agama Islam yang merupakan implementasi dari akidah yang diyakini, seperti shalat, zakat, puasa, berbakti kepada orang tua, dan lain sebagainya.
Landasan akidah Islamiah adalah beriman kepada Allah malaikat-malaikatNya kitab-kitabNya para rasulNya hari Akhir dan beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur'an:
ليس البران تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ولكن البرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالمَلئِكَةِ والكِتَابِ وَالنَّبين.
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah hari kemudian malaikat-malaikat kitab-kitab dan nabi-nabi." (QS. al-Baqarah 177)
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ، وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu itu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. QS. al-Qamar 49-50.
Dipertegas pula oleh Rasulullah dalam sebuah hadits:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلْئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُولِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنُ بِالقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَره.
Iman adalah hendaknya engkau percaya kepada Allah malaikat-malaikat-Nya kitab-kitab-Nya para rasul-Nya hari Kemudian dan percaya kepada qadar yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim)
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Akidah Islam menjadi dasar utama bagi kita dikarenakan, Pertama, akidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh akidah yang lurus kita harus mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan hal-hal yang disukai dan dibenci Allah. Tanpa akidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak akan diterima. Dan salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu mensejajarkan Allah dengan makhluk atau benda ciptaanNya, atau beribadah karena selain Allah. Kita harus selalu ingat firmanNya dalam Al-Qur'an:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ اشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلَكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الخَسِرِينَ.
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum mu, "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang yang merugi." (QS. Az-Zumar 65)
Kedua, akidah islamiyah itu akidah adalah tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada medan ijtihad atau berpendapat di dalamnya. Sumbernya hanyalah Al-Qur'an dan as-Sunnah, karena tidak ada yang lebih mengetahui tentang kebenaran sifat-sifat Allah kecuali Allah sendiri.
Oleh sebab itulah, mengapa pelurusan akidah menjadi dakwah pertama kali yang dilakukan oleh para Rasul, baru kemudian mereka mengajarkan syariat agama. Hal itu dapat kita buktikan dalam Al-Qur'an:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهُ مَا لَكُمْ مِنْ اللَّهِ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)"." (QS al-A'raaf 59)
Dengan demikian ilmu tauhid sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam ilmu agamanya. Tanpa akidah yang benar seseorang akan mudah terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, kemudian lama kelamaan akan menutup pandangannya dan menjauhkannya dari jalan hidup yang benar. Tanpa akidah yang lurus seseorang akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang bisa menyesatkan keimanan.
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan akidah kita mudah goyah, antara lain:
1. Kebodohan, karena tidak ada kemauan untuk mempelajari-nya, sehingga ia tidak bisa mengenal mana yang benar dan mana yang salah menurut akidah Islam. Namun demikian, didalam mempelajari akidah yang benar, harus berdasarkan kepada al-Quran dan hadits, dan tidak boleh hanya mengandalkan sebuah pemikiran dan analisa belaka, karena akal mempunyai keterbatasan lebih-lebih yang berkaitan dengan iman kepada Allah serta hal-hal yang ghaib. Hal itu telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an:
وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 216)
2. Fanatik (ta'ashshub) kepada sesuatu yang diwarisi orang tua atau nenek moyang kita (tradisi). Kita boleh mempertahankan tradisi masa lalu selama tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar agama. Karena itu hendaknya kita kembalikan kepada Qur'an dan hadits, kita tidak boleh mengikuti kebiasaan yang ada tanpa memahami ilmunya. Disinilah pentingnya mempelajari agama Islam secara benar untuk meluruskan aqidah maupun syariatnya agar kita tidak sekedar melakukan ibadah karena tradisi atau turunan. Bisa jadi tradisi itu berlangsung secara turun temurun, tanpa penjelasan dan pembelajaran yang lengkap dan mendasar.
3. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan tentang kebesaran dan sifat-sifat Allah di alam jagad raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan yang tertuang dalam KitabNya (Qur'aniyah). Mereka lebih kagum pada hasil karya manusia, teknologi, seni dan kebudayaan ciptaan manusia. Bahkan mereka menganggap keunggulan dan keindahan karya manusia itu memang hasil kreasi manusia semata tanpa campur tangan Allah. Ingatlah firmanNya:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْلَمُونَ .
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. As-Shaffat 96)
4. Godaan lingkungan, yaitu berupa godaan cara dan gaya hidup yang menggunakan nilai-nilai kebaikan tetapi tidak sesuai dengan syariah Islam, termasuk dalam hal ini godaan gaya hidup maksiat yang menurut standard bangsa barat dipandang sebagai hal yang normal. Umat yang lemah iman dan ilmunya melihat hal ini wajar-wajar saja dan tidak berbahaya, sedangkan ajaran Islam telah menentukan dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah. Sebagai contoh, di kolam renang pria dan wanita dengan pakaian yang hanya menutup paha atas dan (hingga) dada sudah dianggap wajar dan sopan menurut masyarakat masa kini, tapi tidak menurut Islam.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Karenanya marilah kita jaga akidah agar tetap bersih, agar tetap selamat. Janganlah kita menjerumuskan diri ke dalam dosa yang tidak terampuni. Yang hanya akan membuat kita mendapatkan kemurkaan Allah dan siksa neraka-Nya. Kita harus tetap ingat akan firmanNya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيُغْفِرُ مَا دُونَ ذَالِكَ مِنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا .
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. an-Nisa 48)
Demikianlah khutbah yang saya sampaikan, semoga ada guna dan manfaatnya bagi kita semua dalam menjaga dan mempertahankan Akidah Islamiyah. Aamiinn.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُؤَيِّدِ الصَّابِرِينَ بِعَزِيزِ نَصْرِهِ، وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِينَ لِحَمِيدِ شُكْرِهِ، وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِينَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأُسَلِّمُ لِأَمْرِهِ فِيمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مُنْتَهَى الدُّهُورِ صَلَاةً دَائِمَةً بِلَا فَنَاءٍ وَلَا فُتُورٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، وَثَلَّثَ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِينَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عَلَيْهِمْ وَدَائِعَ أَدْيَانِهِمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ السُّجُونِ إِلَى سَعَةِ أَوْطَانِهِمْ وَلَا تَجْعَلْهُمْ فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ وَنَجِّهِمْ بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: Buku Khutbah Jumat Sejuta Umat
Itulah kumpulan contoh khutbah Jumat singkat dengan berbagai tema untuk dijadikan referensi bagi detikers yang tengah menyusun materi. Semoga bermanfaat.
(alk/alk)
