Seorang petani bernama Juddin (65) meninggal dunia diduga diserang kawanan tawon di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Korban sempat berusaha menyelamatkan diri sebelum akhirnya meninggal di lokasi kejadian.
Peristiwa ini terjadi di area perkebunan karet milik PT Lonsum, di Dusun Tammappalalo, Desa Tamatto, Kecamatan Ujung Loe, Rabu (1/7) sekitar pukul 14.00 Wita. Saat itu korban sedang berada di lokasi penambatan ternak sapinya untuk memberi pakan.
"Korban saat itu berada di lokasi pemeliharaan ternak sapi untuk memberi pakan. Tidak lama kemudian korban diserang koloni tawon atau lebah liar," ujar Kapolsek Ujung Loe AKP Arifuddin dalam keterangannya, Sabtu (4/7).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat diserang, lanjut Arifuddin, korban kemudian berlari sambil berteriak meminta pertolongan. Rekan korban bernama Andi yang berada sekitar 30 meter dari lokasi melihat korban dan menyuruhnya berlari menuju rumah kebun untuk menghindari serangan tawon.
Setibanya di rumah kebun, korban meminta Andi membakar selimut guna menghasilkan asap agar kawanan tawon pergi. Setelah situasi dinilai aman, korban mengaku sudah lemas dan meminta Andi mencari bantuan.
"Dalam perjalanan meminta pertolongan, Andi bertemu dengan Badu dan menyampaikan bahwa korban tersengat lebah liar. Badu kemudian menuju lokasi korban, namun saat tiba korban sudah meninggal dunia dengan kondisi mulut mengeluarkan busa," katanya.
Arifuddin menyebut korban meninggal dunia di lokasi kejadian. Warga bersama pihak keluarga lalu mengevakuasi korban menuju rumah duka.
"Korban meninggal dunia akibat sengatan koloni tawon atau lebah liar. Sekitar pukul 16.00 Wita, keluarga bersama warga mengevakuasi jasad korban ke rumah duka," katanya.
Arifuddin menyebut di lokasi perkebunan karet milik PT Lonsum Palangisang Estate memang menjadi habitat kawanan tawon liar. Warga sekitar sedianya sudah mengetahui kondisi tersebut.
"Lokasi kejadian memang merupakan habitat tawon atau lebah liar," jelasnya.
Pihak keluarga pun menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan tidak meminta visum maupun autopsi. Saat ini, korban telah dimakamkan di pekuburan kampung tersebut.
"Tidak ada autopsi. Keluarganya tidak menginginkan," pungkas Arifuddin.
(sar/sar)
