Pria bernama Isak Semi (33) di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), meninggal dunia akibat terinfeksi rabies dari anjing peliharaanya. Pria itu tidak berobat usai digigit anjingnya hingga kesehatannya terus menurun.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Toraja Utara, Remen Taula'bi mengatakan korban awalnya menemukan anak anjing liar di jalanan pada April lalu dan dibawa pulang untuk dipelihara. Saat diberi makan, anjing tersebut menggigit korban.
"Dia digigit anjing pada bulan April. Anjing yang gigit dia ini ditemukan di jalan. Dia kasih makan ini anjing dan anjing ini menggigit korban," kata Remen kepada detikSulsel, Minggu (6/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah digigit anjing, korban tidak segera melakukan pemeriksaan kesehatan. Padahal anjing tersebut mati tak lama setelah menggigit korban.
"Setelah menggigit korban, anjing ini mati," ujar Remen.
Dua pekan berselang, istri korban mengetahui hal tersebut dan meminta suaminya segera ke rumah sakit untuk periksa. Namun korban baru ke puskesmas setelah mengalami gejalah demam dan lemas.
"(Korban) Dianjurkanlah ke rumah sakit tapi tidak pergi. Nanti tanggal 3 Juli baru ke puskesmas. Jadi tidak ada info ke puskesmas bahwa ada gigitan sebelumnya," kata Remen.
Setelah pulang dari puskesmas, kondisi korban tidak menunjukkan perubahan. Pihak keluarga kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Elim hingga terungkap bahwa korban terinfeksi rabies.
"Pada hari itu juga dibawa ke Elim dan keadaan semakin memburuk. Dan disitulah baru diketahui kalau dia rabies. Gejalanya gelisah, sudah tidak bisa menelan, tidak bisa minum air," ujar Remen.
Remen mengungkapkan meski sempat ditangani, korban dinyatakan meninggal di rumah sakit pada Sabtu (4/7). Kepastian korban terinfeksi rabies dari pemeriksaan laboratorium.
2 Kasus Rabies di Toraja Utara
Menyikapi kasus tersebut, Dinkes Toraja Utara akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk tindakan pencegahan. Warga juga diminta segera melakukan pemeriksaan di puskesmas, klinik atau rumah sakit apabila mendapat gigitan binatang pembawa rabies.
"Hal pertama yang harus dilakukan sebenarnya pencegahan, dan dinas-dinas terkait harus berkolaborasi, bekerjasama melakukan sosialisasi dan vaksinasi hewan ternak, karena dalam sebulan ada 2 kasus," ungkap Remen.
Di sisi lain, Remen mengakui bahwa populasi anjing di Toraja Utara cukup banyak. Dia pun merencanakan vaksinasi untuk hewan peliharaan agar kasus serupa tidak terulang.
"Populasi anjing di Toraja Utara juga memang sangat tinggi jadi harus dikendalikan. Kemudian hewan peliharaan dan ternak harus divaksin rabies, memang harus kolaborasi berbagai pihak," pungkasnya.
(hsr/asm)
