Warga dari lima desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menggelar ritual adat meminta hujan yang disebut Morra Keke. Tradisi turun-temurun tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau yang mulai menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan.
"Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon kepada sang pencipta untuk meminta hujan," ujar Ketua Lembaga Adat Desa Watunonju, Aswan Meni kepada wartawan, Kamis (4/6/2026).
Ritual tersebut dilaksanakan di Sungai Wuno, Kecamatan Sigi Biromaru, Kamis (4/6). Lima desa yang ikut ritual adat ini adalah Desa Watunonju, Desa Sidera, Desa Oloboju, Desa Bora, dan Desa Solove.
Sungai Wuno dipilih sebagai lokasi ritual karena menjadi sumber air utama yang selama ini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari maupun mengairi lahan pertanian. Masyarakat berkumpul di tepian sungai dengan membawa berbagai perlengkapan adat.
"Morra Keke itu (terdiri dari kata) Morra artinya darah, Keke itu artinya sungai. Jadi sengaja dialirkan darahnya ke sungai. Ini kepercayaannya jika sewaktu waktu terjadi banjir, airnya tidak sampai ke pemukiman," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ritual Morra Keke di Sigi dikemas dengan penyembelihan berbagai hewan ternak di sungai. (dok. Istimewa) |
Prosesi diawali dengan sejumlah ritual yang diwariskan oleh leluhur dan dipimpin para pemangku adat setempat. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyembelih sejumlah hewan, di antaranya ayam, kambing, domba, babi, dan anjing.
Darah hewan-hewan tersebut kemudian dialirkan ke Sungai Wuno sebagai bagian dari rangkaian ritual adat yang telah berlangsung secara turun-temurun. Suasana sakral terasa sepanjang prosesi berlangsung.
Tabuhan gendang menggema di sepanjang aliran sungai. Prosesi ritual adat Morra Keke diiringi aktivitas pemarutan kelapa dan doa-doa yang dipanjatkan oleh para tokoh adat.
"Ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyatukan harapan agar hujan segera turun sehingga lahan pertanian yang mulai mengering dapat kembali produktif," terang Aswan.
Setelah prosesi adat selesai, daging hasil penyembelihan hewan dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama seluruh peserta ritual.
"Kalau untuk ayam, kambing sama domba dimakan bersama. Sementara babi dan anjing tadi itu diberikan kepada masyarakat nonmuslim," tuturnya.
Bagi masyarakat setempat, Morra Keke tidak hanya dimaknai sebagai ritual memohon hujan. Ritual ini juga sebagai upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta sekaligus mempererat ikatan sosial antarwarga.
"Ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyatukan harapan agar hujan segera turun sehingga lahan pertanian yang mulai mengering dapat kembali produktif," pungkasnya
(sar/ata)











































