Mengenal Ikan Ambu, Simbol Ketangguhan Budaya Maritim Suku Mandar di Majene

Sulawesi Barat

Mengenal Ikan Ambu, Simbol Ketangguhan Budaya Maritim Suku Mandar di Majene

Abdy Febriady - detikSulsel
Jumat, 03 Jul 2026 12:00 WIB
Ikan Ambu bagi Suku Mandar di Majene menjadi simbol ketangguhan budaya maritim.
Foto: Ikan Ambu bagi Suku Mandar di Majene menjadi simbol ketangguhan budaya maritim. (Abdy Febriady/detikSulsel)
Majene -

Masyarakat pesisir Suku Mandar di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), memiliki kekayaan kuliner khas berbahan dasar ikan yang dikenal dengan nama ikan Ambu. Perburuan ikan yang hidup di perairan laut dalam itu juga menjadi simbol ketangguhan budaya maritim masyarakat Suku Mandar yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Nilai budaya tersebut mengemuka dalam Forum Diseminasi dan Pameran Kuliner Ikan Ambu yang berlangsung digelar di Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Senin (29/6/2026). Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVIII Sulawesi Tengah, Andriany dan dihadiri tenaga ahli cagar budaya hingga pegiat budaya maritim.

Kegiatan diawali dengan pemutaran film dokumenter mengenai ikan Ambu, kemudian dilanjutkan pemaparan hasil penelitian oleh Dr. Nurjirana. Untuk diketahui, Nurjirana merupakan pelaksana Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) kategori perseorangan dengan dukungan BPK Wilayah XVIII.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kegiatan ini merupakan forum diseminasi hasil kajian sekaligus upaya pelestarian tradisi ikan Ambu yang dipadukan dengan pameran kuliner berbahan dasar ikan Ambu sebagai bagian dari warisan budaya pesisir Mandar. Melalui kegiatan ini diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya maritim semakin meningkat, sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal," kata Nurjirana.

Dia mengungkapkan, ikan Ambu merupakan sebutan yang diberikan nelayan Sulbar untuk jenis ikan tenggiri laut dalam yang hidup di perairan hangat. Secara umum, masyarakat Mandar mengenal tiga jenis ikan Ambu, yakni Ambu Sandeq, Ambu Lotong, dan Ambu Putih.

ADVERTISEMENT

Meski dikenal luas karena rasanya yang khas dan memiliki nilai budaya tinggi, jumlah nelayan yang secara khusus menangkap ikan Ambu kini semakin berkurang. Aktivitas penangkapan ikan tersebut bahkan tidak lagi menjadi prioritas bagi sebagian besar nelayan.

"Melalui kegiatan ini kami berupaya melakukan kajian. Kami ingin mengangkat budaya ikan Ambu agar lebih dikenal dan dipromosikan secara luas," ujarnya.

Sementara pegiat budaya maritim Mandar, Ridwan Alimuddin menilai keberadaan ikan Ambu semakin menegaskan identitas masyarakat Mandar sebagai pelaut ulung yang mampu menangkap ikan di laut dalam. Menurutnya, tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki kemampuan menangkap ikan Ambu karena membutuhkan keterampilan khusus serta pengetahuan mengenai lokasi habitatnya.

"Ini yang menarik dari ikan Ambu karena semakin mempertegas bahwa nelayan Mandar dikenal sebagai nelayan laut dalam. Habitat ikan Ambu berada di laut dalam sehingga tidak banyak nelayan di Nusantara yang mampu menangkapnya. Dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan khusus," jelas Ridwan.

Pada kesempatan sama, Tenaga Ahli Cagar Budaya Sulbar, Muhammad Yasin mengaku menyayangkan lantaran tradisi menangkap ikan Ambu kini semakin jarang dilakukan oleh nelayan. Padahal menurutnya, ikan Ambu bukan sekadar hasil tangkapan laut, melainkan bagian dari warisan budaya lokal masyarakat Mandar yang perlu dilestarikan.

"Sudah sangat langka nelayan yang menangkap ikan Ambu. Padahal, dulu setiap ada acara, baik kematian maupun pernikahan, ikan Ambu selalu dihidangkan," kata Yasin.

Yasin menjelaskan, tradisi Paambu juga menjadi simbol nilai siwaliparri, yakni semangat kebersamaan dan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat Mandar. Setelah para lelaki pulang melaut membawa hasil tangkapan, para perempuan akan mengolah ikan tersebut untuk kemudian disajikan kepada keluarga maupun tamu.

"Budaya paambu mencerminkan kebersamaan. Bapak-bapak mencari ikan di laut, lalu ibu-ibu mengolahnya menjadi hidangan. Nilai-nilai budaya lokal seperti ini harus terus diperkuat karena menjadi simbol kebersamaan masyarakat," jelasnya.

Sementara Kepala BPK Wilayah XVIII Sulawesi Tengah, Andriany mengatakan, budaya bahari merupakan identitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Mandar. Selain perahu Sandeq dan kuliner jepa yang telah dikenal luas, ikan Ambu juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya tersebut.

Andriany berharap hasil kajian mengenai ikan Ambu tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi budaya, tetapi juga mampu mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

"Berbicara tentang Suku Mandar tidak bisa dilepaskan dari budaya bahari. Banyak bukti kehebatan maritim masyarakat Mandar, mulai dari perahu Sandeq, jepa, hingga kini ikan Ambu. Kami berharap setiap kegiatan pelestarian budaya memiliki dampak nyata, sehingga ke depan ikan Ambu tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Majene, Ahmad Djamaan. Menurutnya, kebudayaan merupakan modal peradaban yang tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengembangkan budaya ikan Ambu menjadi bagian dari kuliner khas Mandar. Kami tidak hanya ingin melihat warisan leluhur ini sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, tetapi juga menjadikannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ke depan, ikan Ambu diharapkan menjadi salah satu potensi yang mendukung pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Majene," pungkasnya.




(sar/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads