5 Pemasok Logistik-Amunisi untuk KKB Aibon Kogoya di Nabire Ditangkap

Papua Tengah

5 Pemasok Logistik-Amunisi untuk KKB Aibon Kogoya di Nabire Ditangkap

Paulus Pulo - detikSulsel
Jumat, 13 Mar 2026 13:22 WIB
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo.
Foto: Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo. (dok. Istimewa)
Nabire -

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menangkap 5 orang yang diduga simpatisan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kelimanya ternyata memasok logistik dan amunisi untuk anggota KKB pimpinan Aibon Kogoya.

Kelima simpatisan KKB tersebut ditangkap secara bertahap. Tim lebih dulu mengamankan dua orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan jalur logistik kelompok Aibon Kogoya, yakni PW alias PM dan PNW, Selasa (10/3).

"PW alias PM diketahui telah dua kali bertemu dengan kelompok Aibon Kogoya untuk menyerahkan bahan makanan di dua lokasi yang berbeda," kata Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehari setelahnya, aparat kembali mengamankan dua orang lainnya berinisial YW (28) dan LW (29) saat melintas menggunakan sepeda motor berwarna hitam. Keduanya saat itu berencana mengantarkan bahan makanan kepada kelompok KKB pimpinan Aibon Kogoya.

Namun sebelum rencana tersebut terlaksana, aparat lebih dahulu mengamankan keduanya. YW dan LW langsung dibawa ke Polres Nabire guna menjalani pemeriksaan serta pendalaman lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

"Tim juga menyita sejumlah barang bukti dari tangan YW dan LW antara lain beberapa unit telepon genggam, kartu identitas, kartu ATM, kartu BPJS Kesehatan, kartu Jamkesmas, serta berbagai perlengkapan pribadi seperti noken, senter kepala, powerbank, dan baterai," tuturnya.

"Selain itu, aparat juga mengamankan satu unit sepeda motor Honda Verza warna hitam yang digunakan saat keduanya melintas di lokasi serta sebuah pisau bermotif kayu," tambah Yusuf.

Tak hanya pemasok logistik, aparat juga mengamankan D alias LA di sebuah tempat hiburan di Nabire pada Rabu (11/3) sekitar pukul 19.55 WIT. Keduanya diduga berperan sebagai penghubung dalam distribusi amunisi kepada kelompok Aibon Kogoya.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, D mengaku pernah menjual sekitar 100 butir amunisi kepada seseorang berinisial SP dengan harga sekitar Rp 250.000 per butir. Transaksi tersebut disebut dilakukan melalui perantara seorang pria berinisial H, yang diduga berperan sebagai pihak yang menyediakan amunisi," terangnya.

Yusuf menegaskan, seluruh tindakan yang dilakukan aparat telah melalui prosedur hukum yang jelas dan transparan. Hal ini sekaligus untuk menanggapi berbagai informasi tidak benar yang beredar di masyarakat.

"Informasi ini kami sampaikan untuk meluruskan berbagai berita hoaks yang beredar, seolah-olah aparat mengamankan lima orang di Nabire tanpa dasar administrasi dan surat perintah yang jelas," tegasnya.

Dia menegaskan, kelima orang yang diamankan telah lama menjadi bagian dari pemantauan aparat melalui proses penyelidikan yang mendalam. Penangkapan tidak dilakukan serta merta.

"Berdasarkan jaringan intelijen yang kami peroleh, baik melalui Humint maupun Sigint, akhirnya kami dapat menyimpulkan adanya keterlibatan mereka. Proses ini juga telah melalui tahapan pemeriksaan dan penyidikan secara intensif," jelas Yusuf.

Sementara itu, Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Faizal Ramadhani menegaskan, langkah yang dilakukan aparat merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua melalui penegakan hukum yang profesional dan terukur.

"Kami akan terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini guna memastikan jaringan yang terlibat dapat diungkap secara menyeluruh," ujar Faizal.

Di sisi lain, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Adarma Sinaga menambahkan, penindakan ini bagian bagian dari strategi aparat dalam memutus rantai pasokan logistik dan amunisi kepada KKB. Pihaknya masih akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Pendalaman masih terus dilakukan terhadap kelima orang tersebut guna mengetahui peran masing-masing serta kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain," jelas Adarma.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads