Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Ramli AT turut menyoroti aksi perang-perangan menggunakan senjata mainan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dia menilai aktivitas yang tren selama Ramadan itu kini sudah tergolong menyimpang karena dilakukan di jalan raya.
"Sudah tergolong perbuatan yang dianggap sebagai perilaku yang tidak wajar atau menyimpang atau anti-sosial karena merugikan masyarakat terutama mengganggu keamanan atau kenyamanan hidup," kata Ketua Departemen Sosiologi Unhas ini kepada detiksulsel, Kamis (5/3/2026).
Menurut Ramli, fenomena tersebut juga menunjukkan adanya kebutuhan remaja untuk bermain dan menyalurkan energi mereka. Dia lantas mempertanyakan apakah kota telah menyediakan ruang yang cukup bagi remaja untuk melakukan aktivitas secara positif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sebuah fenomena kebutuhan untuk bermain. Pertanyaannya adalah, sudah cukupkah kota kita menyiapkan fasilitas bagi kelompok-kelompok tertentu, khususnya remaja untuk melakukan kegiatan seperti itu," ujarnya.
Ramli menjelaskan, keterbatasan ruang untuk berekspresi dapat mendorong remaja memanfaatkan ruang publik yang ada di sekitarnya. Kondisi itu membuat jalan raya kerap dijadikan tempat untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak sesuai fungsinya.
"Kalau ruang bermain tidak tersedia, maka memang akan besar peluangnya ketika remaja atau kelompok-kelompok tertentu tidak menemukan tempat untuk aktualisasi diri, maka dia menggunakan ruang-ruang apapun yang ada dalam masyarakat untuk mengaktualisasikan diri," katanya.
Ramli menilai kehidupan kota yang padat menuntut kesadaran bersama dalam memanfaatkan ruang publik sesuai peruntukannya. Jalan raya, menurut dia, seharusnya digunakan untuk aktivitas lalu lintas.
"Kehidupan kota itu perlu semacam kesadaran bersama tentang fungsi ruang. Bahwa jalan itu adalah fungsinya untuk berlalu lintas yang benar misalnya, itu sudah jelas fungsinya dan kita semua harus punya kesadaran untuk memfungsikan jalan semestinya," ujarnya.
Dia menambahkan fenomena tersebut juga mencerminkan masih rendahnya kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan fasilitas publik. Penggunaan ruang yang tidak semestinya dinilai berpotensi menimbulkan berbagai masalah di kota yang memiliki kepadatan tinggi.
"Fenomena itu juga bisa dilihat dari perspektif bahwa ruang digunakan tidak semestinya. Jadi tidak ada kedisiplinan yang memadai, kesadaran dan kedisiplinan yang memadai untuk memperlakukan ruang sebagaimana semestinya," kata Ramli.
Menurut dia, perilaku remaja juga tidak lepas dari proses belajar dari lingkungan sosial di sekitarnya. Remaja dapat meniru perilaku yang mereka lihat dari kelompok masyarakat lain, termasuk orang dewasa.
"Remaja itu ada hubungannya dengan bagaimana mereka meniru kelompok-kelompok lain. Atau tidak mendapatkan contoh cukup yang memadai tentang bagaimana semestinya orang memanfaatkan ruang kota sebagaimana mestinya," ujarnya.
Ramli juga menilai fenomena tersebut dapat dengan cepat menyebar di kota karena intensitas interaksi masyarakat yang tinggi. Selain itu, media sosial turut mempercepat penyebaran tren di kalangan remaja.
"Salah satu penyebabnya adalah karena ruang kota itu relatif sempit sehingga interaksi antar manusia sangat intensif. Ini juga semakin dipercepat oleh sistem komunikasi, khususnya media sosial," katanya.
Dia menambahkan sebagian remaja bahkan sengaja mempublikasikan aktivitas tersebut di media sosial. Hal itu, menurut dia, berkaitan dengan kebutuhan sebagian anak muda untuk menunjukkan jati diri atau mencari perhatian publik.
"Sebagian itu untuk jati diri. Tapi sebagian juga berkaitan dengan ciri masyarakat kita sekarang di mana menjadi viral itu sesuatu yang banyak dikejar oleh kelompok muda yang sementara butuh aktualisasi diri," ujarnya.
Sosiolog Bicara soal Remaja Tewas Tertembak
Seperti diketahui, seorang remaja berusia 18 tahun, Bertrand Eka Prasetyo Radima tewas terkena tembakan saat polisi membubarkan sejumlah remaja perang-perangan memakai senjata mainan di Jalan Toddopuli Raya, Minggu (1/3) pagi. Menurut Ramli, peristiwa itu harus dilihat secara hati-hati.
"Kita baca itu sebagai fenomena di mana semua orang yang menjalankan profesinya semestinya memang harus sesuai dengan SOP yang dia miliki yang sudah diuji kelayakannya," katanya.
Ramli menambahkan kesalahan kecil dalam menjalankan fungsi di masyarakat dapat menimbulkan dampak besar, terutama dalam kehidupan kota yang padat. Karena itu setiap peran sosial, termasuk aparat penegak hukum, harus dijalankan secara profesional.
"Kesalahan kecil itu bisa berisiko sangat besar bagi masyarakat kita. Orang kota itu salah satu cirinya semua orang punya fungsi yang sangat khusus di dalam menjaga masyarakat ini supaya tetap berlangsung semestinya," ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin sebelumnya mengaku geram dengan fenomena maraknya remaja 'perang' pakai senjata mainan ini. Appi menilai tren tembak-tembakan dengan peluru jeli dan butiran plastik itu sudah berlebihan dan tidak bisa dibiarkan.
"Iya itu saya minta persoalan ini jangan dianggap main-main," ujar Appi kepada wartawan di Balai Kota Makassar, Senin (2/3).
Appi menilai permainan ini sudah di luar batas kewajaran karena dilakukan dengan saling kejar-kejaran pakai motor. Dia meminta semua pihak melakukan pencegahan.
(hmw/ata)










































