Makassar Perkuat Ekonomi Sirkular, Sampah Disulap Jadi Produk Fesyen Berkelas

Makassar Perkuat Ekonomi Sirkular, Sampah Disulap Jadi Produk Fesyen Berkelas

Tim detikSulsel - detikSulsel
Rabu, 13 Mei 2026 14:04 WIB
Wali Kota Makassar Munafri dalam kegiatan Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang digelar Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo.
Foto: Wali Kota Makassar Munafri dalam kegiatan Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang digelar Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo. (dok. Istimewa)
Makassar -

Wali Kota Makassar, Munafri 'Appi' Arifuddin mengapresiasi kolaborasi pemberdayaan masyarakat yang digagas Komunitas Berdaya Nusantara bersama RAPPO Indonesia menuju Makassar bersih. Kerja sama ini mendorong pengelolaan sampah yang diubah menjadi produk fesyen berkelas yang menandai pergerakan ekonomi sirkular.

Hal itu disampaikan Appi saat dalam kegiatan Program Komunitas Berdaya Nusantara untuk Pemberdayaan Perempuan yang digelar Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo, Rabu (13/5/2026). Kegiatan itu dinilai langkah konkret dalam mewujudkan visi Makassar sebagai kota yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.

"Ini adalah langkah nyata dari apa yang selalu kita cita-citakan bersama: Makassar yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan," kata Appi dalam keterangannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Appi menegaskan, Pemkot Makassar ingin memastikan perempuan tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi berperan sebagai aktor utama. Perempuan diberikan akses keterampilan serta ruang kreatif untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.

Dia juga menegaskan pentingnya inovasi dalam menangani persoalan sampah plastik yang menjadi tantangan global. Appi memuji limbah plastik yang sebelumnya tidak bernilai, kini dapat diolah menjadi produk fesyen ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi lewat program pemberdayaan perempuan.

ADVERTISEMENT

"Masalah sampah plastik adalah tantangan global. Namun di tangan ibu-ibu kita, limbah yang tadinya tidak bernilai diubah menjadi produk fesyen kelas dunia yang ramah lingkungan," jelas Appi.

Diketahui, program Nusantara Infrastructure di Kantor Lurah Pannampu itu dimulai dari masyarakat memilah sampah langsung dari rumah. Sampah terpilah tersebut kemudian disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara sebagai pusat pengumpulan dan pengelolaan awal.

Dari situ, sampah plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE diambil oleh tim Rappo Indonesia untuk diproses lebih lanjut. Perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia terlibat aktif dalam tahap pembersihan dan pencacahan plastik.

Program ini membuka peluang ekonomi sekaligus memberdayakan komunitas lokal. Hasilnya, limbah yang sebelumnya tak bernilai diubah menjadi produk daur ulang yang fungsional dan bernilai jual.

Kini produk-produk tersebut telah menembus pasar di Makassar, Jakarta, hingga Bali. Hal ini menunjukkan wajah ekonomi sirkular mengurangi limbah, menciptakan nilai, dan menggerakkan perubahan dari bawah.

Pemkot Makassar juga terus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik, pemerintah mengembangkan konsep pertanian lahan sempit berbasis kompos di tingkat kelurahan hingga rukun warga (RW).

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teba modern. Program ini menggunakan metode pengolahan sampah organik dengan sistem lubang kompos yang dapat dipanen dalam waktu 5-6 bulan.

"Pupuk kompos ini kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk bertani di lahan-lahan sempit, sehingga setiap sudut kota yang tidak terpakai bisa menjadi produktif," ungkapnya.

Selain itu, program budidaya maggot juga terus dikembangkan sebagai solusi pengolahan sampah organik. Appi menyebut, satu kilogram maggot mampu mengolah hingga lima kilogram sampah, sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernilai ekonomis.

"Kami berharap kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat terus diperluas demi menciptakan Kota Makassar yang lebih bersih," imbuh Appi.

Appi Percepat Realisasi Proyek PSEL

Menurut Appi, keterlibatan pihak swasta menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota, termasuk pengelolaan sampah. Dia mengakui menyelesaikan persoalan di Makassar memang butuh kolaborasi dengan pihak swasta agar solusi yang dihasilkan lebih optimal.

Di sisi lain, Appi mengungkap Kota Makassar memproduksi sekitar 800 ton sampah setiap hari. Namun, kapasitas pengangkutan saat ini baru mencapai sekitar 67 persen, sehingga masih terdapat sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani secara maksimal.

Dia juga menekankan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping yang tahun ini ditargetkan untuk dihentikan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup. Pemkot Makassar berproses mengubah sistem tersebut menjadi sanitary landfill.

"Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan," tutur politisi Golkar tersebut.

Appi juga berharap adanya dukungan pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di wilayah Panampu guna memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pemkot Makassar juga menyiapkan proyek strategis berupa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau Waste to Energy dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun.

Proyek ini ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt. Dia kembali menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan program tersebut.

"Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan," terangnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads