Wali Kota Makassar Kebut Pembenahan TPA Antang Menuju Sanitary Landfill

Wali Kota Makassar Kebut Pembenahan TPA Antang Menuju Sanitary Landfill

Andi Nur Isman Sofyan - detikSulsel
Selasa, 09 Jun 2026 18:43 WIB
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau pembenahan TPA Antang.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau pembenahan TPA Antang. Foto: (dok. istimewa)
Makassar -

Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin meninjau progres pembenahan dan penimbunan di kawasan TPA Antang, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Appi berharap pembenahan ini bisa membawa TPA Antang beralih dari sistem open dumping atau pembuangan sampah terbuka ke sistem sanitary landfill yang lebih ramah lingkungan.

"Makanya dengan kesempatan waktu yang diberikan, kita memastikan bahwa TPA ini harus menjadi sanitary landfill," ujar Appi saat melakukan peninjauan, Selasa (9/6/2026).

Appi mengatakan pembenahan area tersebut menjadi tindak lanjut atas arahan administratif yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengelolaan sampah di TPA Antang. Menurutnya, sistem open dumping yang selama ini diterapkan tidak lagi diperbolehkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan metode sanitary landfill dilakukan dengan cara menimbun sampah secara bertahap pada area tertentu, kemudian meratakan dan memadatkannya menggunakan alat berat sebelum ditutup dengan lapisan tanah (cover soil). Sistem ini bertujuan mengisolasi sampah secara aman, mengurangi pencemaran lingkungan, mencegah bau menyengat, serta menekan risiko pencemaran air lindi.

"Nah, sanitary landfill ini membutuhkan cover soil sehingga seluruh area TPA tertutup dengan material timbunan," tuturnya.

ADVERTISEMENT

"Pada saat semuanya sudah tertutup, bukaan-bukaan yang ada nantinya bukan lagi untuk sampah rumah tangga yang bercampur, tetapi diisi oleh residu yang sudah melalui proses pemilahan," sambung politisi Golkar itu.

Appi mengatakan transformasi pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pembenahan di TPA, tetapi juga harus dimulai dari sumber sampah, yakni rumah tangga dan lingkungan permukiman. Karena itu, Pemkot Makassar tengah membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi melalui penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), tempat penampungan sementara, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya di tingkat wilayah.

"Akan banyak proses yang dilakukan di wilayah kelurahan dan kecamatan, khususnya TPS 3R dan TPS sementara. Ini yang harus cepat dijalankan," imbuh Ketua IKA FH Unhas itu.

Dengan percepatan pembenahan TPA Antang dan penguatan sistem pemilahan sampah dari sumbernya, Pemkot Makassar menargetkan transformasi pengelolaan sampah menuju sistem sanitary landfill dapat segera terwujud. Untuk mempercepat implementasi program tersebut, Pemkot Makassar telah mengumpulkan seluruh camat dan lurah guna memastikan pengelolaan sampah berbasis wilayah berjalan secara serentak.

"Makanya kemarin seluruh camat dan lurah dikumpulkan untuk memastikan proses pengelolaan sampah di Kota Makassar bisa kita selesaikan secara bersama-sama," ujarnya.

Pada kesempatan ini, Appi mengungkapkan progres pembenahan TPA Antang menuju sistem sanitary landfill saat ini telah mencapai lebih dari 40 persen. Penimbunan terus dilakukan setiap hari menggunakan material cover soil pada area-area yang sebelumnya menjadi lokasi penumpukan sampah terbuka.

"Sudah menuju di atas 40 persen penimbunannya. Area yang lebih curam sementara masih menjadi lokasi penampungan sampah yang dibawa truk pengangkut," ungkapnya.

"Tetapi perlahan akan terus berkurang karena adanya intervensi pemerintah untuk memastikan proses pemilahan berjalan," lanjut Appi.

Dia memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah kota saat ini telah dimaksimalkan untuk mempercepat proses penutupan area terbuka di TPA Antang hingga mencapai target yang ditetapkan. Hal itu untuk memastikan cover soil ini berjalan terus setiap hari sampai batas waktu yang ditentukan, sehingga TPA Kota Makassar bukan lagi TPA open dumping.

Meski progres pembenahan terus berjalan, Appi mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah belum optimalnya pemilahan sampah dari sumbernya.

Menurut dia, hingga saat ini masih banyak sampah yang dikirim ke TPA dalam kondisi tercampur sehingga menyulitkan proses pengelolaan dan menghambat upaya menjadikan TPA hanya sebagai lokasi pembuangan residu.

"Belum semua wilayah masif melakukan pemilahan. Masih banyak truk yang datang membawa sampah yang tercampur sehingga bukaan yang seharusnya hanya diisi residu masih harus menampung sampah dalam jumlah besar," katanya.

Ia optimistis volume sampah yang masuk ke TPA akan berkurang secara bertahap apabila proses pemilahan di tingkat masyarakat berjalan maksimal. Appi menegaskan bahwa persoalan sampah sesungguhnya berada di lingkungan masyarakat, sementara TPA hanya menjadi lokasi akhir pembuangan.

"Sampah itu ada di wilayah Kelurahan dan Kecamatan, di sini (TPA) hanya tempat pembuangannya. Karena itu tempat pembuangan harus diminimalisir. Yang masuk ke TPA seharusnya hanya residu," tegasnya.

Untuk mendukung perubahan sistem pengelolaan sampah, Pemkot Makassar juga menyiapkan regulasi yang dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah. Dia menegaskan, pengelolaan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

"Karena persoalan kota secara keseluruhan, semua harus ambil bagian dan ikut bertanggung jawab," terang Appi.

Ia juga menyebutkan, masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Hal tersebut kata dia, terlihat dari banyaknya sampah yang berserakan di sejumlah ruang publik setelah digunakan untuk beraktivitas.

"Kami juga mengharapkan adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mengelola sampah dengan baik," tutup Appi.




(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads