Oknum Guru Besar UIN Palopo Bantah Lecehkan Wanita Pingsan: Tak Ada Niat Seksual

Oknum Guru Besar UIN Palopo Bantah Lecehkan Wanita Pingsan: Tak Ada Niat Seksual

Ahmad Al Qadri - detikSulsel
Selasa, 03 Feb 2026 16:53 WIB
Oknum Guru Besar UIN Palopo Bantah Lecehkan Wanita Pingsan: Tak Ada Niat Seksual
Ilustrasi. Foto: iStock
Palopo -

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Prof ER angkat bicara terkait laporan dirinya telah melakukan pelecehan kepada seorang wanita berusia 18 tahun saat pingsan. ER mengaku hanya berupaya menolong korban atas dasar kemanusiaan.

"Tindakan pertolongan yang saya berikan semata-mata atas dasar kemanusiaan, tidak ada niat sedikitpun ke arah dorongan nafsu atau seksual," kata Prof ER kepada detikSulsel, Selasa (3/2/2026).

Prof ER menyebut, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (31/1) siang. Kejadian bermula ketika dirinya baru saja selesai membabat rumput di belakang ruko miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitu saya akan membuka kunci pintu ruko saya melihat ada seorang perempuan yang pingsan di depan ruko dan ditopang oleh laki-laki (rekan kerjanya) yang membawa es kristal," ujarnya.

Dia menyebut, dirinya kemudian dipanggil oleh rekan kerja dari sang wanita itu untuk membantu mengangkatnya. Kemudian, Prof ER bergerak membantu mengangkat wanita itu masuk ke dalam rukonya.

ADVERTISEMENT

"Saya dipanggil oleh laki-laki yang sedang menopang wanita itu untuk membantu mengangkatnya. Dalam kondisi terik matahari pinggir jalan saya melihat tidak ada tempat memberi pertolongan pertama kecuali di dalam ruko," jelasnya.

Setelah itu, wanita tersebut diangkat dan dibaringkan di sebuah tempat tidur dalam ruko. Kemudian Prof ER bersama rekan kerja wanita tersebut keluar menutup tempat jualannya.

"Dia dijaga oleh ponakan saya yang perempuan, setelah kami berdua masuk kembali melihat dan menanyakan keponakan yang menjaga 'Bagaimana?' namun tidak ada respons dari ponakan saya," bebernya.

"Setelah itu teman kerjanya pergi untuk memanggil bosnya. Sayapun ikut keluar mengambil paket yang belum sempat saya masukkan ke dalam ruko," tambahnya.

Setelah mengambil paket dan masuk kembali, Prof ER mengaku melihat beberapa sayatan di tangan wanita itu. Dia kemudian mencoba melihatnya lebih rinci.

"Saya kembali melihat lebih dekat jangan sampai telah terjadi pendarahan sebelumnya, saya mengatakan dengan memanggil 'hei hei, sadarki' disaksikan oleh ponakan saya yang perempuan yang tinggal di ruko," tuturnya.

Setelah itu, Prof ER mengaku mengambil tindakan pertolongan pertama. Dia mengaku sempat menurunan baju korban yang sempat terlipat naik saat digotong.

"Pertolongan pertama menyingsingkan jilbabnya dengan menepis di bagian depan pada area pernapasan dan saya menepuk-nepuk kepala samping kiri. Sayapun menurunkan baju bagian bawah yang terangkat akibat gotongan," tambahnya.

Prof ER menyebut dirinya kemudian duduk di sebuah kursi. Beberapa saat kemudian wanita itu bangun dan langsung diberikan air minum olehnya.

"Lalu dia keluar dari ruko dan tiba-tiba perempuan itu menunjuk-nunjuk saya sambil berkata 'kau melecehkan saya'," jelasnya.

Dia pun mengaku heran dengan tindakan wanita tersebut. Apalagi, menurutnya wanita tersebut tidak dikenalnya sama sekali.

"Saya hanya mengetahui kios itu menyewa di depan ruko dan penyewa adalah seorang pengusaha yang mempekerjakan perempuan yang pingsan itu," ucapnya.

"Melalui ini saya berharap dan memohon agar kiranya kita bersabar menunggu dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan terbuka tanpa ditunggangi kepentingan," ucap Prof ER.

Diberitakan sebelumnya, UIN Palopo menyebut dugaan pelecehan terjadi di luar kampus dan korban bukan mahasiswinya. Korban disebut bekerja di dekat ruko milik Prof ER.

"(Korban) kerja di dekat ruko (milik Prof ER) dan kejadiannya di luar kampus, tapi saya pastikan dia bukan mahasiswa UIN Palopo," ucap Humas UIN Palopo Reski Azis kepada detikSulsel, Senin (2/2).

Reski belum memastikan status pendidikan korban apakah masih sekolah atau mahasiswi di kampus lain. Namun dari informasi sementara, korban bekerja di sebuah gerobak dekat tempat kejadian perkara.

"Banyak yang salah paham, dipikir mahasiswi UIN ini terduga korban, jadi kami pastikan itu bukan," jelasnya.

UIN Palopo juga telah menonaktifkan sementara Prof ER dari seluruh aktivitas akademik serta kegiatan yang berkaitan dengan tugasnya di ruang lingkup kampus. Kebijakan ini untuk memastikan kelancaran proses hukum yang bergulir di kepolisian.

"Pimpinan universitas menetapkan kebijakan penonaktifan sementara terhadap salah satu dosen berinisial ER," ucap Reski.

Oknum guru besar UIN Palopo itu terhitung mulai dinonaktifkan sejak Minggu (1/2). Prof ER selanjutnya akan diperiksa oleh tim internal kampus.

"Sebagai bagian dari mekanisme internal, yang bersangkutan juga dijadwalkan akan mengikuti agenda pemeriksaan oleh tim yang dibentuk pimpinan universitas," paparnya.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Video: Fanny Ghassani Ingatkan Jangan Normalisasi Bercanda yang Melecehkan"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads