Sebuah kolaborasi seni lintas disiplin akan memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Acara tersebut bertajuk "Masidi'e Show the Blitz" yang akan memadukan teatrikal eksperimental dan peluncuran karya sastra sejarah.
Pertunjukan seni budaya Sidenreng itu bakal berlangsung di Auditorium IAIN Parepare pada Selasa (17/2) pukul 20.00 Wita. Kegiatan itu akan menjadi panggung apresiasi untuk novel sejarah yang berjudul 'Ogi Sidenreng: Napas Panjang Peradaban Langit'.
"Novel ini adalah bentuk tanggung jawab kultural. Kami mengemas sejarah Sidrap dalam bentuk fiksi agar lebih menghibur dan bisa dinikmati semua umur, bukan sekadar buku sejarah yang normatif," ujar ketua panitia sekaligus penulis, Sanro Massiang, kepada detikSulsel, Selasa (17/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanro mengungkapkan sejumlah hal yang unik dalam pementasan nanti. Konsep yang diusung adalah teatrikal eksperimental, yakni pengisi acara tampil dengan mengandalkan intuisi dan respons terhadap ruang.
"Ini pertama kali dilakukan, kami bahkan tidak melakukan latihan sebelumnya. Saya mengundang para seniman, memberi konsep, dan membiarkan mereka tampil meski mereka tidak saling kenal di atas panggung," jelasnya.
Sanro mengatakan, pertunjukan itu akan diisi para seniman ternama. Salah satunya Jamal Gentayangan sebagai penjelajah bunyi Nusantara.
"Ada Alex Malstine untuk membawa nuansa rock khas Sidrap. Bahkan Pak Rektor IAIN, Kyai Haji Hannani, ikut terlibat membacakan 'Manifesto dari To Ogi'," katanya.
Dia mengungkapkan, pertunjukan itu tidak boleh diisi dengan suara tepuk tangan. Pertunjukan itu diharapkan membawa para penonton larut dalam seni.
"Aturannya, penonton tidak boleh bertepuk tangan dan tidak boleh bicara selama acara berlangsung. Kami ingin ruang ini ikut 'bermain' bersama kami dalam keheningan yang ekspresif," tuturnya.
Meski berlangsung megah, Sanro Massiang tidak menampik adanya kendala dalam proses persiapan, terutama terkait pendanaan. Dia sempat menyentil rumitnya birokrasi program bantuan kebudayaan pemerintah yang tak kunjung cair.
"Seharusnya dana tahap satu dan dua sudah turun dari program Indonesiana, tapi karena persoalan administrasi yang sulit sekali untuk upload ulang, akhirnya macet. Jadi dari mana anggarannya? Ya, saya biayai sendiri," ujarnya.
"Sebelum ada program-program itu, memang saya sudah berniat membangun kesenian yang mampu menyejahterakan. Kami bergerak secara kolektif dengan teman-teman, membangun brand Big One dan maskot Bumi Barani," pungkasnya.
(sar/asm)
