Khatib Idul Adha di Lapangan Andi Makkasau Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), KH Masrur Makmur Latanro menyerukan pentingnya merekonstruksi pola asuh Nabi Ibrahim AS dalam mendidik anak. Langkah ini dinilai krusial demi mencetak generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045.
"Tenaga kita ini pada bonus demografi diharapkan adalah tenaga-tenaga yang otaknya berisi dengan ilmu pengetahuan, heart-nya itu diisi dengan iman dan takwa, dan hand-nya itu adalah tangan-tangan yang bermetamorfosis menjadi generasi penerus, menjadi generasi emas," ujar Masrur dalam khotbah Idul Adha yang dikutip detikSulsel, Rabu (27/5/2026).
Di hadapan jemaah, dia pun mengibaratkan pola asuh anak seperti filosofi hidup ikan di laut. Orang tua wajib menanamkan nilai-nilai dasar yang kuat agar anak tidak mudah terpengaruh oleh hal negatif di lingkungan luarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para orang tua, para ibu-ibu, didiklah anak-anak kita seperti ikan di laut, walaupun rasanya asin, tapi ikan itu tetap tawar," tuturnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dia membeberkan 3 kurikulum Nabi Ibrahim. Yang pertama, yaitu selalu mengedepankan ruang dialog dengan anak. Dia mencontohkan, Nabi Ibrahim saat meminta pendapat putranya, Nabi Ismail AS ketika menerima wahyu lewat mimpi.
"Artinya bahwa stressing awal untuk kita menjadikan putra-putri kita sebagai reason generation, sebagai pelanjut generasi ini adalah mengajak mereka untuk berdialog," kata Masrur.
Menurutnya, pola komunikasi ini sejalan dengan teori Dorothy Law dalam buku Children Learn What They Live. Yakni anak-anak yang tumbuh dalam ruang dialog dan dihargai akan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, toleran, dan penuh kasih sayang.
"Akan menjadikan putra-putri kita menjadi pemuda yang kritis, pemuda yang mengetahui solving problem terhadap suatu masalah. Anak-anak kita akan menjadi global citizen," imbuhnya.
Kurikulum kedua yang disorot oleh khatib adalah pentingnya membentuk lingkungan yang saleh demi mendukung tumbuh kembang moral anak. Masrur mencontohkan bagaimana Nabi Ibrahim AS memilih membesarkan Nabi Ismail AS di sekitar lingkungan Kakbah yang suci.
"Kurikulum yang diajarkan oleh Nabiyullah Ibrahim kepada kita, ialah bagaimana menciptakan lingkungan yang saleh untuk anak. Nabiyullah Ibrahim alaihissalam mendidik Ismail di seputaran Kakbah, bukan pada pasar berhala," katanya.
Langkah itu dinilai sangat krusial di era masyarakat cair saat ini. Mengutip sosiolog Zygmunt Bauman, Masrur menyebut arus globalisasi kerap memicu lahirnya strawberry generation yang cerdas secara digital namun lemah saat menghadapi masalah.
"Masyarakat atau anak-anak muda yang dikenal sebagai digital citizen, cerdas tetapi lemah. Lemah di dalam menghadapi suatu permasalahan. Karena itulah pentingnya kita menuntun putra-putri kita itu dengan menyentuhkan agama (neuroplasticity)," jelasnya.
Sebagai penutup, kurikulum ketiga dia mengajak jemaah untuk mengikis egoisme menuju kepedulian sosial melalui ibadah kurban. Pada momen ini, Masrur sempat menyentil data Baznas yang menunjukkan baru sekitar 4 dari 10 orang kaya yang berkurban dari proporsi hewan kurban yang ada saat ini.
"Padahal, jika menengok sejarah, Nabi Ibrahim AS diceritakan pernah menggiring 1.000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 unta demi ketaatannya kepada Allah SWT," ucapnya.
Masrur mengingatkan bahwa di era modern, setiap orang tua memiliki 'Ismail' masing-masing. Wujudnya itu bisa berupa jabatan, harta, maupun ego pribadi.
"Maka Idul Kurban ini menuntun kita, bagaimana agar supaya kita keluar dari egosentris menuju sosiosentris. Apakah kita sudah mengajarkan putra-putri kita untuk menyembelih egoisme yang ada di dalam dirinya?," pungkasnya.
(asm/hmw)










































