Sejumlah fasilitas di Stadion Gelora BJ Habibie (GBH), Parepare, dilaporkan mengalami kerusakan buntut ricuh suporter usai laga PSM Makassar kontra Persib Bandung. Pemkot Parepare mendesak manajemen PSM bertanggung jawab penuh atas kerusakan tersebut.
Pihak Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) telah turun melakukan inventarisasi fasilitas stadion yang rusak sehari setelah laga, yakni pada Senin (18/5). Pemkot mendata seluruh kerusakan untuk diajukan kepada manajemen Juku Eja agar segera diperbaiki.
"Jadi, setelah pertandingan terakhir melawan Persib Bandung, terjadi kericuhan dari suporter. Setelah itu, besoknya kami turun inventarisasi bersama seluruh staf di Stadion GBH," ujar Kepala Disporapar Parepare Iskandar Nusu kepada detikSulsel, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil peninjauan itu, pihak Disporapar menemukan sejumlah kerusakan yang tersebar di area stadion. Kerusakan tersebut meliputi komponen utama lapangan pertandingan, akses pintu keluar, meja di area depan, hingga toilet umum penonton.
"Di sana ada beberapa kerusakan pasca-pertandingan, antara lain jala gawang. Kemudian di area tendangan sudut ada empat tiang. Ada juga pintu besi di jalur akses keluar, kemudian meja di area depan," ungkapnya.
Tidak hanya fasilitas di area terbuka, bagian dalam stadion dan area sanitasi penonton juga menjadi sasaran amuk suporter. Pihak Disporapar mencatat adanya kerusakan pada pintu-pintu akses penting serta fasilitas pancuran air (shower) yang jumlahnya mencapai belasan unit.
"Pintu di tangga VIP, kemudian ada satu unit pintu di toilet. Lalu beberapa fasilitas shower di toilet, jumlahnya kurang lebih 11 unit," paparnya.
Iskandar menegaskan kerusakan pada gawang dan akses pintu darurat menjadi perhatian utama. Pasalnya, kerusakan itu berpotensi mengganggu jalannya pertandingan berikutnya serta sistem keamanan evakuasi penonton.
"Kalau melihat kerusakan yang paling mencolok, itu termasuk gawang karena terkena flare hingga terbakar. Kemudian pintu besi, saya kira juga butuh penanganan secepatnya karena itu akses keluar penonton," jelasnya.
Kondisi rumput lapangan juga menjadi perhatian lantaran terdapat bercak kecokelatan dan hitam di beberapa titik. Namun, pihak Disporapar menjelaskan urusan pemeliharaan rumput berada di bawah kendali pihak ketiga.
"Kita memang melihat ada beberapa titik yang cokelat, ada yang hitam. Tapi dari penjelasan pihak Lestarindo, itu akan segera dibenahi, dilakukan pemupukan sesuai prosedur yang ada," urainya.
Menyikapi temuan itu, Pemkot Parepare menegaskan kewajiban mengembalikan kondisi stadion seperti semula berada di tangan PT PSM. Aturan mengenai tanggung jawab ganti rugi itu sudah tertuang secara resmi dalam dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS) sewa stadion antara Pemkot dengan pihak manajemen klub.
"Jadi tanggapan Pemkot, setelah kita menginventarisasi, kita menyampaikan surat kepada PSM untuk segera memperbaiki kerusakan agar kondisinya kembali seperti sebelum pertandingan. Ini tertuang dalam perjanjian kerja sama antara Pemerintah Kota dengan PT PSM," tegasnya.
Pemkot Parepare menargetkan proses pembenahan seluruh kerusakan fasilitas ini dapat rampung dalam kurun waktu satu minggu ke depan. Pemkot pun menegaskan kembali, seluruh biaya pembenahan akan ditanggung penuh oleh manajemen Juku Eja.
"Kami sudah cek semua, tidak ada kerusakan berat. Saya kira targetnya bisa beberapa hari saja karena ini bisa segera dibenahi. Paling cepat dalam waktu satu minggu rampung," tuturnya.
"Semua ditanggung PSM. Jadi sesuai dengan perjanjian kerja sama, ada MoU dengan Pemerintah Kota. Apabila ada kejadian seperti ini akibat ulah suporter atau hal lainnya, maka tanggung jawabnya ada pada pihak manajemen PSM. Kami selaku Pemerintah Kota adalah pemilik stadion," tutupnya.
Diketahui, kericuhan suporter pecah pasca-pertandingan antara PSM Makassar melawan Persib Bandung di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Minggu (17/5). Suporter menyerbu masuk ke lapangan hingga menyalakan flare usai PSM kalah dengan skor 1-2.
(hsr/hmw)










































