Ketergantungan industri pangan pada plastik konvensional yang sulit terurai dan kurang optimal melindungi makanan kini menemui solusi baru. Syamsul Bakhri, dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI), sukses mengembangkan inovasi kemasan aktif (active packaging) ramah lingkungan yang mampu memperpanjang masa simpan produk makanan.
Riset yang memanfaatkan lignosulfonat-bahan alami hasil samping industri pengolahan kayu dan bubur kertas-ini berhasil menembus jurnal internasional bereputasi, International Journal of Biological Macromolecules Volume 322 Part 2, dengan judul "Lignosulfonate's Impact on the Food Active Packaging Properties".
Syamsul Bakhri menjelaskan bahwa riset ini lahir dari keresahan terhadap kemasan plastik biasa yang jamak digunakan saat ini. Selain mencemari lingkungan, plastik konvensional kurang mampu melindungi makanan dari kerusakan selama proses penyimpanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lignosulfonat memiliki karakteristik yang dapat meningkatkan kualitas kemasan sehingga lebih kuat, mampu melindungi makanan dari paparan udara dan sinar ultraviolet, serta membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan," jelas Syamsul saat dihubungi, Minggu (28/6/2026).
Manfaat dan Keunggulan Material
Berdasarkan hasil uji laboratorium, integrasi lignosulfonat ke dalam material kemasan memberikan sejumlah keunggulan proteksi yang signifikan, antara lain:
- Meningkatkan kekuatan fisik kemasan agar tidak mudah rusak.
- Menahan laju masuknya udara dan uap air yang memicu pembusukan.
- Memberikan efek antioksidan alami untuk menjaga mutu pangan.
- Memblokir paparan sinar ultraviolet (UV) yang bisa menurunkan kualitas makanan.
- Menghambat pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme penyebab makanan cepat basi.
- Inovasi ini dinilai sangat potensial untuk diaplikasikan pada komoditas pangan yang rentan, seperti buah-buahan, sayuran segar, hingga makanan yang mengandung lemak tinggi.
"Jika terus dikembangkan, teknologi ini dapat membantu industri pangan menghasilkan kemasan yang lebih aman, ramah lingkungan, dan mampu mengurangi pemborosan makanan akibat kerusakan selama penyimpanan maupun distribusi," tambahnya.
Peluang Ekonomi Hijau dan Tantangan ke Depan
Selain menjadi pelindung makanan yang tangguh, pemanfaatan lignosulfonat menjadi nilai tambah tersendiri dalam mereduksi limbah industri kayu. Langkah ini sejalan dengan arah pengembangan industri berkelanjutan yang mendukung konsep ekonomi hijau.
Kendati menawarkan potensi besar, riset ini menggarisbawahi pentingnya pengujian lanjutan sebelum teknologi ini diproduksi secara massal. Fokus berikutnya adalah pemantapan aspek keamanan pangan demi memastikan material lignosulfonat benar-benar aman saat bersentuhan dengan berbagai jenis makanan dan memenuhi standar regulasi yang berlaku.
Keberhasilan publikasi riset ini mempertegas komitmen FTI UMI dalam menghadirkan solusi teknologi berkelanjutan yang berdampak langsung pada ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan daya saing industri nasional.
Simak selengkapnya hasil risetnya di sini
(hmw/alk)
