Menakar Kesejahteraan Nelayan Buru: Sektor Lembaga Masih Minim

Menakar Kesejahteraan Nelayan Buru: Sektor Lembaga Masih Minim

Tim detiksulsel - detikSulsel
Selasa, 30 Jun 2026 10:08 WIB
Nelayan memperbaiki jaring di Pengakalan ikan tuna Ternate, Maluku Utara, Rabu (19/2/2025). KKP berkomitmen untuk terus meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan bagi nelayan, khususnya nelayan kecil dimana pada 2024 telah memberikan fasilitasi asuransi nelayan mandiri, 99.500 paket bantuan perbekalan melaut di 97 lokasi dan diversifikasi usaha nelayan yang melibatkan 2.335 orang di 22 kabupaten. ANTARA FOTO/Andri Saputra/wpa.
Foto: ANTARA FOTO/ANDRI SAPUTRA
Makassar -

Status Indonesia sebagai negara maritim dengan kekayaan laut melimpah nyatanya belum menjamin kemakmuran para penggerak utamanya. Di balik besarnya potensi perikanan, nelayan kecil masih terseok-seok menghadapi tantangan hidup untuk mencapai kesejahteraan yang layak.

Kondisi tersebut dikupas tuntas dalam riset mendalam oleh Abdul Rauf, guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI). Bersama tim peneliti yang terdiri dari Wilda Fesanrey, Muh. Kasnir, dan Hamsiah, riset ini berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries (EJABF) Volume 30, edisi awal tahun 2026.

Riset yang bertajuk "Sustainability-Based Assessment of Small-Scale Fishermen's Welfare in Buru Regency, Maluku Province, Indonesia" ini memotret langsung kondisi riil dan keberlanjutan hidup nelayan skala kecil di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abdul Rauf menjelaskan bahwa timnya mengukur tingkat kesejahteraan para nelayan pesisir melalui empat indikator utama: sosial budaya, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan kesejahteraan nelayan kecil di Kabupaten Buru masih berada pada kategori kurang berkelanjutan, dengan nilai indeks sebesar 42,00. Ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat," papar Abdul Rauf saat dihubungi, Sabtu (27/6/2026).

ADVERTISEMENT

Lemahnya Sektor Kelembagaan dan Proteksi

Dari keempat indikator yang diuji, aspek kelembagaan mencatatkan nilai paling rendah di antara yang lain. Angka ini menjadi lampu kuning yang menandakan bahwa perlindungan hukum bagi nelayan kecil, penguatan organisasi lokal, serta dukungan regulasi dari pemangku kebijakan masih sangat minim di lapangan. Sementara itu, sektor ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan juga belum beranjak dari berbagai masalah klasik harian nelayan.

Bagi Abdul Rauf, temuan ini menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa melimpahnya isi laut Indonesia tidak akan otomatis menyejahterakan masyarakat jika tidak dibarengi dengan manajemen yang berpihak pada rakyat kecil.

"Pulau Buru memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh tata kelola yang baik agar benar-benar memberikan manfaat bagi nelayan. Penguatan kelembagaan dan perlindungan terhadap nelayan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," urainya.

Solusi Berkelanjutan untuk Kebijakan Pemerintah

Melalui output riset ini, tim peneliti mendesak pemerintah pusat maupun daerah agar segera merumuskan regulasi konkret yang berorientasi pada perlindungan nelayan tradisional.

"Kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya ditopang oleh melimpahnya hasil laut. Diperlukan kebijakan yang memberikan perlindungan, akses permodalan, pendampingan, serta penguatan kelembagaan agar masyarakat pesisir mampu berkembang secara berkelanjutan," tegasnya.

Keberhasilan publikasi global ini mempertegas peran FPIK UMI dalam menyajikan riset kemaritiman berbasis data riil. Inovasi pemikiran ini diharapkan mampu menjadi landasan kebijakan demi memutus rantai kemiskinan struktural di wilayah pesisir Indonesia.


Simak selengkapnya hasil risetnya di sini




(hmw/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads