Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) terus berupaya memperkuat struktur ekonomi daerah dengan memperkuat sektor hilirisasi. Fokus utama kini diarahkan pada transformasi komoditas unggulan seperti kopi dan kelapa, agar tidak lagi sekedar dijual dalam bentuk bahan mentah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sumsel Edward Candra menjelaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar petani dan daerah mendapatkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
"Tentu kita andalkan pertanian ya, dan hilirisasi juga didorong dari komoditas-komoditas yang ada. Kita punya kopi yang jumlahnya cukup banyak di Sumsel," ujar Edward Candra, Rabu (28/1/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edward menyebut pihaknya sudah mulai melakukan langkah konkret di lapangan. Salah satunya adalah memulai pembangunan pabrik pengolahan melalui proses groundbreaking.
"Kita baru-baru ini juga dorong seperti ada groundbreaking untuk kelapa, kita dorong seperti itu," tegasnya.
Langkah ini diambil untuk memastikan komoditas kelapa asal Sumsel memiliki daya saing tinggi sebelum masuk ke pasar nasional maupun ekspor. Hal ini juga selaras dengan arahan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Sumsel yang saat ini berada di angka 5,20%, di atas pertumbuhan nasional.
Strategi hilirisasi ini, lanjut Edward, merupakan bagian dari rujukan kebijakan pemerintah daerah yang tertuang dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) serta visi-misi Gubernur. Selain itu, langkah ini dipastikan bersinergi dengan program pusat.
Dalam upayanya, Pemprov Sumsel telah memetakan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi warga melalui hilirisasi. Pertama, pemerintah bakal melakukan optimalisasi komoditas kopi. Dengan luas lahan kopi yang melimpah di Sumsel, targetnya bukan lagi sekadar memanen biji mentah, melainkan membangun industri pengolahan yang kuat agar harga jualnya melonjak.
Tak hanya kopi, sektor kelapa juga menjadi prioritas dengan pembangunan ekosistem industri dari hulu ke hilir. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Seluruh strategi ini pun dipastikan tidak berjalan sendiri, melainkan selaras dengan program 'Asta Cita' milik Presiden RI guna mempercepat pemerataan kesejahteraan.
Terakhir, Pemprov Sumsel terus mempererat kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI). Rekomendasi teknis dari BI dijadikan pedoman utama bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap stabil meski di tengah ancaman ketidakpastian global.
"Kita tetap optimis dengan kondisi yang ada, belajar dari pengalaman tahun 2025. Kita bangun komitmen sinergi bersama seluruh stakeholder, termasuk instansi vertikal," tutupnya.
Inovasi bioavtur ini mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI). Transformasi ini dinilai akan memberikan nilai tambah (value-added) yang sangat tinggi dibandingkan hanya menjual kelapa dalam bentuk bahan mentah atau santan.
"Kalau kata Pak Gubernur, mikirnya bukan sekadar bikin SPBU, tapi bikin bensin pesawat (bioavtur). Ini value-added-nya lumayan tinggi," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel Bambang Pramono.
Langkah untuk mewujudkan bensin pesawat dari kelapa ini mulai menunjukkan titik terang. Pemerintah daerah bersama instansi terkait sedang gencar menciptakan iklim investasi yang kondusif agar para investor tertarik membangun pabrik pengolahan di Sumsel.
Hilirisasi ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mendongkrak ekonomi daerah. Dengan adanya pabrik pengolahan, harga jual kelapa di tingkat petani diharapkan lebih stabil dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada fluktuasi harga pasar global untuk bahan mentah.
Bank Indonesia menegaskan kesiapannya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawal proyek strategis ini. Selain memberikan dukungan kebijakan, BI juga mendorong penyediaan akses pembiayaan yang lebih luas bagi sektor-sektor industri hijau seperti ini.
"Komoditas unggulan yang ada, contohnya bioavtur itu, tentu di OJK bersama Pemda kami juga siap mendukung. Ini hal-hal yang perlu dirumuskan bersama agar pencapaiannya bisa lebih cepat," tambahnya.
Proyek bioavtur kelapa ini juga menjadi bagian dari strategi Sumsel dalam menggali sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui Ekonomi Hijau (Green Economy). "Kita bangun komitmen sinergi bersama. Kalau kita kerjakan bareng-bareng, target besar seperti ini bisa segera terealisasi," pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)