Pemerintah Provinsi Jambi menegaskan komitmennya memperkuat penataan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi sebagai bagian dari upaya mendorong pengakuan UNESCO sebagai Warisan Dunia. Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani memastikan dukungan penuh pemerintah daerah dalam percepatan proses tersebut.
Menurut Sani, KCBN Muaro Jambi merupakan salah satu situs budaya dan sejarah terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai penting bagi peradaban. Karena itu, penataan kawasan harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan agar memenuhi standar internasional.
"Kita berkomitmen mendukung penuh penataan KCBN Muaro Jambi agar siap menuju pengakuan UNESCO. Ini bukan hanya soal pelestarian, tetapi juga masa depan pariwisata dan ekonomi masyarakat," kata Abdullah Sani dalam keterangan tertulis yang diterima detikSumbagsel, Kamis (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemprov Jambi disebut terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten, serta berbagai pihak terkait untuk memastikan proses penataan berjalan sesuai rencana. Langkah tersebut mencakup penataan kawasan, pelestarian situs, hingga peningkatan infrastruktur pendukung.
Selain itu, pemerintah juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan cagar budaya tersebut. Partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar upaya pelestarian berjalan berkelanjutan.
Sani menekankan, pengakuan UNESCO diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisata, memperkuat identitas budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Dengan dukungan semua pihak, kita optimistis KCBN Muaro Jambi dapat meraih pengakuan dunia," katanya.
Pemprov Jambi menargetkan berbagai tahapan penataan dan pemenuhan persyaratan UNESCO dapat terus dipercepat, sehingga KCBN Muaro Jambi semakin siap menjadi warisan dunia yang diakui secara internasional.
Sani menuturkan Pemerintah Provinsi Jambi bersama Pemerintah Pusat dan semua pihak terkait terus melakukan upaya intensif untuk menjadikan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Dia berharap dengan target pengusulan transformasi besar-besaran yang tengah dilakukan, menjadikan situs purbakala terbesar di Asia Tenggara ini tidak hanya sebagai ruang pelestarian, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan spiritual.
"Pemerintah Provinsi Jambi sangat mendukung pelestarian dan pemajuan budaya KCBN Muaro Jambi untuk manfaat budaya, ekonomi, dan ekologi. Pengembangan Kawasan dan Infrastruktur Sektor Pertanian, Perdagangan, Industri, dan Pariwisata, (Kawasan Ujung Jabung, KCBN Muaro Jambi, KSPN Danau Kerinci, dan Geopark Merangin)," jelasnya.
Sani menyebut pelestarian KCBN Muaro Jambi tidak hanya berfokus pada cagar budaya, tetapi juga mengembangkan pelindungan alam dan lingkungan, karena kearifan lokal nusantara tidak pernah lepas dari apa yang alam berikan untuk dimanfaatkan para leluhur," tegas Sani.
"KCBN Muaro Jambi diharapkan bisa kembali menjadi pusat peradaban, menjadi pusat pembelajaran sejarah nusantara dan berkontribusi menjaga alam Indonesia dimasa yang akan datang," tambahnya.
Sementara, dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pelestarian Cagar Budaya dari Komisi X DPR RI yang mana dihadiri oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menyampaikan bahwa komisi X DPR RI berfungsi sebagai panja pelestarian cagar budaya, terus melakukan fungsi pengawasan melalui Panja Cagar Budaya, yang dibentuk untuk mengawasi perlindungan dan pemanfaatan situs-situs bersejarah.
"Ini berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2010 dan UU Nomor 5 Tahun 2017. Apalagi, cagar budaya Candi Muaro Jambi sangat luar biasa dan harus dilestarikan, apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, kita harus dukung bersama untuk dikelola demi untuk memberikan kesejahteraan bagi Masyarakat," kata Hetifah.
Untuk itu, Hetifah menyebut bahwa Komisi X DPR RI akan mendorong komitmen pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk serius dalam melestarikan cagar budaya sebagai warisan nasional.
Menurutnya, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi, situs purbakala peninggalan dari abad ke-6 wajib dilestarikan karena nilai sejarahnya sebagai pusat Pendidikan Buddha terbesar di Asia Tenggara.
"Sebagai warisan berskala internasional sangat perlu dilestarikan, dan juga kita butuh SDM yang kuat juga pendanaan baik pemerintah provinsi dan kabupaten, kita mendorong pemerintah pusat dari dana pelestarian cagar budaya 35 persen untuk melestarikan cagar budaya Candi Muaro Jambi. Bersama kita perjuangkan, karena Candi Muaro Jambi sangat luar biasa," ucap Hetifah.
(dai/dai)
