Kisah di Balik Pagoda Pulau Kemaro: Ambisi 'Visit Musi' Kini Jadi Ikon Palembang

Sumatera Selatan

Kisah di Balik Pagoda Pulau Kemaro: Ambisi 'Visit Musi' Kini Jadi Ikon Palembang

Ani Safitri - detikSumbagsel
Minggu, 15 Feb 2026 15:00 WIB
Vihara utama di Pulau Kemaro, Palembang Klenteng Hok TJing Rio atau lebih dikenal dengan Klenteng Kwan Im
Vihara utama di Pulau Kemaro, Palembang Klenteng Hok TJing Rio atau lebih dikenal dengan Klenteng Kwan Im (Foto: Desti Wulandari)
Palembang -

Berdiri kokoh di tengah Sungai Musi, Pagoda berlantai sembilan telah menjadi ikon yang tak terpisahkan dari Pulau Kemaro, Palembang. Namun, belum banyak yang tahu bahwa kemegahan bangunan ini merupakan hasil dari visi besar untuk menghidupkan pariwisata Sumatera Selatan belasan tahun silam.

Juru Kunci Pulau Kemaro, Burhan menceritakan bahwa pembangunan pagoda ini berawal dari kebijakan mantan Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra. Pada tahun 2006, melalui program bertajuk 'Visit Musi', pemerintah kota berupaya mendorong potensi wisata sungai agar lebih dikenal luas.

"Sejarah pagoda itu sejak Wali Kota Eddy Santana kan mengadakan 'Visit Musi'. Jadi dia suruhlah supaya pulau ini hidup, jadi dibangunlah pagoda," ujar Burhan saat ditemui di lokasi, Sabtu (24/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan tanpa alasan pagoda di Pulau Kemaro dibangun setinggi sembilan lantai. Burhan menjelaskan ada makna filosofis mendalam di balik pemilihan angka tersebut. Dalam kepercayaan tertentu, angka sembilan dianggap sebagai angka paling sempurna.

"Kalau sembilan itu sudah angka yang tersempurna," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, angka sembilan memiliki keunikan matematika yang konsisten. Berapapun angka yang dikalikan dengan sembilan, jika digit hasilnya dijumlahkan, maka akan kembali ke angka sembilan.

"Kalau umpamanya 81 (8+1) tetap sembilan, 72 (7+2) sembilan. Pokoknya dia semuanya totalnya sembilan, punya angka yang sempurna itu," lanjutnya.

Sejak berdiri hingga saat ini, perawatan bangunan setinggi puluhan meter tersebut terus dilakukan secara intensif. Burhan menyebutkan bahwa seluruh proses pemeliharaan, mulai dari kebersihan hingga perbaikan bangunan, dikelola langsung oleh pihak yayasan.

"Ya (dirawat) oleh kita sendirilah, yayasan yang mengelolanya, perawatan semua," pungkasnya.

Kini, kerja keras di tahun 2006 itu telah membuahkan hasil. Pulau Kemaro tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Tri Dharma, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya, terutama saat perayaan Cap Go Meh.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads