Pengendali Banjir Sungai Bengkulu Hampir Rampung, Kurangi Ancaman Bencana

Bengkulu

Pengendali Banjir Sungai Bengkulu Hampir Rampung, Kurangi Ancaman Bencana

Hery Supandi - detikSumbagsel
Senin, 16 Feb 2026 13:30 WIB
Sungai di Bengkulu yang berpotensi menimbulkan bencana banjir
Foto: Sungai di Bengkulu yang berpotensi menimbulkan bencana banjir (Dok. Istimewa)
Bengkulu -

Banjir yang terjadi di Bengkulu pada 2019 diharapkan tak lagi terulang. Apalagi akibat bencana tersebut, ada belasan korban jiwa. Karena itu, pembangunan pengendali banjir di Bengkulu sangat dibutuhkan.

Sutrisno, warga Kelurahan Tanjung Agung, mengatakan musibah banjir 2019 menjadi pukulan keras bagi Kota Bengkulu,sebab ada belasan korban jiwa akibat bencana tersebut. Bahkan banyak rumah terdapat belasan orang meninggal dunia akibat banjir melanda.

Dia berharap agar pembangunan pengendali banjir dapat segera rampung agar dapat menyelamatkan warga sekitar saat terjadi hujan lebat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami hidup di wilayah rentan banjir, setiap tahun terkena banjir, selesainya pembangunan pengendali banjir merupakan doa kami sejak lama," kata Sutrisno, Minggu (15/2/2026).

Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu, Wiel Mushawiry Suryana menyebut, secara fisik progress pembangunan sudah mencapai 99,2 persen terhitung 3 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

"Progress penyelesaian sudah 99,2 persen per 3 Februari 2026, memang terjadi keterlambatan di dalam pelaksanaan pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia jasa, namun kami memberikan perpanjangan waktu dengan pengenaan sanksi denda sampai dengan 90 hari kalender atau 31 Maret 2026," kata dia.

Menurutnya, hal ini telah sesuai dengan ketentuan di dalam kontrak pekerjaan serta PMK 80 Tahun 2026 yang mengatur mekanisme pembayaran dengan RPATA untuk pekerjaan yang belum terselesaikan sampai dengan 31 Desember 2025, jadi adanya statemen di luar sana menyebutkan pekerjaan belum terselesaikan harusnya terjawab dan tidak ada pemberlakuan khusus terhadap penyedia jasa, semua mekanisme dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Wiel menjelaskan, terdapat progres yang harus diselesaikan yakni pengecatan pagar dan rumah pompa. ⁠Finishing pembersihan lumpur, gundukan tanah di areal kerja, kisdam di rumah pompa. Terdapat juga gapura yang belum di-finishing menunggu proses merapikan bekas saluran pengelak.

"Secara fungsi pintu air sudah dapat difungsikan pada rumah pompa 1, rumah pompa 2, cross drain 1 dan cross drain 2. Terdapat pekerjaan shelter (atap lindung) pada cross drain 1 dan 2 yang belum terpasang," jelas Wiel.

Wiel optimistis selesainya pembangunan pengendali banjir di Kota Bengkulu mampu mengurangi ancaman banjir.

Diketahui, pembangunan pengendali banjir Air Bengkulu membutuhkan anggaran Rp 2,8 triliun secara keseluruhan, pada TA 2025 dilaksanakan 1 lingkup kegiatan dari 9 lingkup kegiatan penanganan banjir yang harus dilaksanakan secara komprehensif agar signifikan mengurangi banjir di Kota Bengkulu.

Penanganan Banjir merupakan upaya penanganan dari hulu ke hilir, karena Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan wilayah yang saling terkait terlebih lagi kondisi hulu DAS Air Bengkulu yang kritis akibat perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi pemukiman, kawasan tambang, perkebunan dan lainnya, yang hal ini meningkatkan limpasan permukaan dan sedimentasi yang menumpuk di bagian hilir, akibatnya debit banjir menjadi semakin besar dan berkurangnya kapasitas sungai untuk mengalirkan air.

"Jadi harus dilakukan secara komprehensif agar memberikan dampak pengurangan terhadap banjir dari segi luas genangan, tinggi genangan dan lama genangan banjir. Penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyebab banjir serta penanganan banjir yang memakan biaya dan waktu tidak sedikit serta melibatkan multisektor di dalamnya," jelasnya.

Wiel juga menjelaskan APBN menganggarkan sebesar Rp 85,7 miliar yang akan digunakan secara optimal untuk mengendalikan banjir di Bengkulu.

"Kejadian banjir menjadi perhatian di Bengkulu ini sering mengakibatkan kerugian material maupun nonmateril seperti kejadian di 2019 dan 2020 dengan dampak yang luar biasa," papar Wiel.

Wiel mengatakan, banjir tersebut menenggelamkan ribuan hektar kawasan serta pemukiman masyarakat. Ia lanjutkan berdasarkan detail desain yang pernah diajukan secara keseluruhan memerlukan anggaran Rp 2,8 triliun.

"Sebanyak Rp 2,8 triliun dana yang diperlukan untuk keseluruhan. Tahun 2025 kami diberikan anggaran Rp 85,7 miliar termasuk supervisi namun setidaknya anggaran yang ada ini dapat mengurangi reduksi banjir yang akan terjadi," papar Wiel.

Adapun anggaran Rp 85,7 miliar itu menurutnya digunakan untuk peningkatan tanggul banjir yang notabenenya Jalan Irian di Kota Bengkulu adalah tanggul banjir.

"Jalan itu akan ditinggikan. Jalan Irian itu sebenarnya tanggul banjir," jelasnya.

Peningkatan jalan akan ditinggikan sekitar 0,5 meter sampai 1,9 meter. Selanjutnya perbaikan pintu-pintu cross drain. Kemudian normalisasi di bagian kawasan atau drainase kota kawasan. Lalu penambahan pompa air sebanyak empat unit.

Ia menegaskan apabila langkah-langkah itu dilakukan maka dapat mengurangi banjir seluas 208 hektar kawasan kota. Selama ini apabila banjir luasan terdampak sekitar 1.500 hektar.

"Jadi mekanismenya air Bengkulu yang masuk ke kawasan kota akan dipompa ke luar, lalu air yang akan masuk ke kawasan kota ditahan oleh tanggul-tanggul," demikian Wiel.

Menurut kajian BWSS VII aspek banjir yang kerap melanda Kota Bengkulu disebabkan terbentuknya debit banjir, sedimentasi hal itu dikarenakan berkurangnya tutupan lahan di hulu serta sepanjang sungai dengan luas total 456 kilometer per segi.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads