Panen Beluluk, Tradisi Musiman yang Menghidupi Warga Jambi Saat Ramadan

Jambi

Panen Beluluk, Tradisi Musiman yang Menghidupi Warga Jambi Saat Ramadan

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Minggu, 22 Feb 2026 20:00 WIB
Beluluk atau kolang-kaling yang dibuat warga Jambi saat Ramadan
Foto: Beluluk atau kolang-kaling yang dibuat warga Jambi saat Ramadan (Dimas Sanjaya)
Jambi -

Bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi sebagian warga di Jambi. Salah satunya lewat panen beluluk, buah hutan musiman yang selalu ramai diburu saat bulan puasa.

Beluluk atau kolang-kaling biasanya dijajakan di pinggir jalan hingga pasar tradisional. Menjelang waktu berbuka, buah berbentuk bulat dengan rasa manis ini kerap ludes dibeli warga untuk dijadikan sajian beragam menu takjil. Tak heran, Ramadan menjadi momen yang dinanti para pencari buah dari pohon enau ini.

Tradisi memanen beluluk ini masih dijumpai di Desa Jambi Tulo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Warga memanen beluluk dari kebun atau kawasan hutan sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Jambi Tulo, buah beluluk selalu dipanen sebelum atau saat bulan Ramadan saja. Ada warga yang khusus sebagai pemanen dengan memanjat pohon enau ini. Beluluk yang dipanen akan dibawa ke rumah untuk direbus dan diambil bagian dalamnya.

Sebelum masuk panci rebusan, beluluk yang masih menempel di tangkai akan dipereteli satu per satu. Selanjutnya, beluluk akan dimasukkan ke dalam panci berisi air dan akan direbus selama satu jam.

ADVERTISEMENT

"Panen ini memang pas bulan puasa saja. Prosesnya diambil dari batang, direbus, dikocek, dan dicukit oleh warga di sini," kata Sumiati warga Desa Jambi Tulo, pekerja beluluk, Minggu (22/2/2026).

Beluluk harus direbus lebih dahulu untuk menghilangkan getah pada buahnya. Kalau sembarangan, getah ini bisa bikin gatal. Sehingga, memang ada orang tua yang bisa memilih langsung buah mana yang sudah siap diolah menjadi kudapan.

"Kalau saya bagian kocek dan cukit. Biasanya yang begini ibu-ibu. Kalau yang panen bapak-bapak ada yang khusus bisa memilih mana yang siap panen," ujarnya.

Ketika buah putih dalamnya sudah diambil, beluluk akan direndam air agar tidak mengeras. Selanjutnya, beluluk sudah dapat disajikan dan dijual ke pasar.

Dalam sehari, setiap warga yang melakukan aktivitas memanen ini bisa menghasilkan 30 kilogram beluluk yang siap dijual. "Kalau harganya Rp15 ribu satu kilogram," kata Sumiati.

Permintaan yang meningkat membuat beluluk menjadi sumber rezeki musiman. Meski hanya tersedia di waktu tertentu, hasilnya cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga persiapan Lebaran.

"Permintaan meningkat kalau di bulan puasa, karena untuk bikin es dan manisan," jelas Sumiati.

Beluluk dari Jambi Tulo sendiri biasanya dijual di sejumlah pasar-pasar tradisional di Kota Jambi. Selain bernilai ekonomi, beluluk juga punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

Beluluk kerap menghadirkan nostalgia masa kecil dan menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Jambi. Di tengah maraknya makanan kekinian, beluluk tetap bertahan sebagai takjil sederhana yang digemari.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads