Tradisi Arakan Sahur di Tungkal Jambi Lestarikan Budaya Islam Saat Ramadan

Jambi

Tradisi Arakan Sahur di Tungkal Jambi Lestarikan Budaya Islam Saat Ramadan

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Selasa, 24 Feb 2026 17:20 WIB
Moment festival arakan sahur yang menjadi tradisi rutin tahunan yang diselenggarakan Pemda Tanjabbar
Foto: Moment festival arakan sahur yang menjadi tradisi rutin tahunan yang diselenggarakan Pemda Tanjabbar (Dok. Istimewa)
Jambi -

Ramadan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, selalu punya warna tersendiri. Ketika sebagian daerah membangunkan sahur dengan pengeras suara atau kentongan sederhana, warga Tungkal justru menghadirkan pemandangan yang lebih semarak namanya arak-arakan sahur.

Tradisi lama ini dilestarikan oleh warga di daerah Jambi bagian Timur itu hingga lebih modern dengan rutin digelar selama Ramadan. Budaya nuansa Islam yang kerap dijalankan sejak lama tersebut menjadi lebih baik sejak didukung Pemerintah setempat sebagai agenda rutin bulan Ramadan.

"Agenda yang begitu penting ini adalah merupakan wadah generasi muda dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi Islami yang telah diwariskan secara turun temurun," kata Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani, Selasa (24/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat juga membuka tradisi arakan sahur ini menjadi sebuah festival. Nantinya, tradisi lama dengan du balur nilai keislaman di momentum Ramadan akan diperlombakan.

Pemerintah setempat mengambil langkah itu sejak dulu agar tradisi budaya islami selama Ramadan bisa lebih terarah. Apalagi sebagian pesertanya merupakan anak-anak, remaja hingga laki-laki dan wanita dewasa.

ADVERTISEMENT

"Oleh karenanya, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, peserta festival serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan Festival Arakan Sahur ini. Kegiatan ini menjadi simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah, wujud nyata kecintaan masyarakat terhadap syiar Ramadan dan pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun temurun," ujar Sani.

Festival arakan sahur ini telah resmi dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani pada Sabtu (21/2) lalu. Sejak festival ini dibuka, masyarakat setempat yang ikut sebagai peserta festival itu saling berlomba menjadi yang terbaik memberikan warna tersendiri dalam membangun sahur yang terus dinilai oleh panitia.

Bukan hanya karena menjadi sebuah festival, tradisi arakan sahur bagi warga disana juga bukan sekadar hanya membangunkan warga untuk makan sahur. Namun tradisi ini telah tumbuh menjadi identitas sosial dan kebanggaan kolektif masyarakat di pesisir Timur.

Sejak dulu, arakan sahur dikenal dengan tradisi warga dalam membangun sahur. Akan tetapi, di daerah ini sejak tradisi itu didukung Pemerintah hingga menjadi festival tahunan, maka setiap warga berlomba-lomba membangunkan sahur dengan cara yang unik serta meriah.

Selama malam-malam Ramadan, para kelompok yang menjadi peserta turun ke jalan membawa beduk, rebana, alat musik sederhana, hingga replika miniatur masjid dan ornamen bernuansa Islami yang dihias penuh warna.

Lampu-lampu hias berkelip, gema salawat berkumandang, dan tabuhan ritmis memecah sunyi disana. Suasana yang biasanya lengang berubah menjadi panggung kebersamaan.

Pastinya Ramadan di Tungkal sangat berwarna dengan adanya festival arakan sahur. Ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, ini juga bagian atentang merawat warisan, menguatkan persaudaraan, dan menyalakan cahaya budaya Islam di setiap sudut kampung.

Bagi masyarakat Tungkal, tradisi ini bukan sekadar hiburan musiman. Ia adalah warisan nilai yang diturunkan lintas generasi. Bahkan, di tradisi ini juga terdapat semangat gotong royong dalam setiap persiapan arakan.

Para peserta juga dilatih kreativitasnya, anak muda yang ikut juga terlihat sangat kompak yang mana persiapan itu telah lama dijalankan. Secara sosial, Arakan Sahur menjadi ruang temu yang menghangatkan hubungan antarwarga.

Tradisi lama yang kini lebih di modernisasi membuat setiap tahun Ramadan di Tungkal menjadi terasa lebih hidup, lebih dekat, dan lebih bermakna. Festival arakan sahur juga pantas pula disebut sebagai bentuk kearifan lokal yang memperkaya khazanah budaya Islam di Provinsi Jambi.

Bagi Wagub Jambi, festival arakan sahur bukan sekedar agenda rutin tanpa tujuan yang diselenggarakan tiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Melainkan kata Sani, juga sebagai jembatan untuk semakin merekatkan hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Disampaikan olehnya, jika di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman, kegiatan festival arakan sahur seperti ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya dan kearifan lokal harus tetap dijaga dan dibanggakan. Apalagi sebut Wagun Sani festival itu juga menjadi salah satu media dakwah kultural yang tumbuh dari kearifan lokal masyarakat.

"Oleh karenanya, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, peserta festival serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan festival arakan sahur ini. Kegiatan ini menjadi simbol kuatnya ukhuwah Islamiyah, wujud nyata kecintaan masyarakat terhadap syiar Ramadan dan pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun temurun," jelas Wagub Sani.

Wagub Jambi dua periode ini juga berpesan kepada seluruh peserta festival untuk terus melestarikan tradisi yang telah dilaksanakan dengan sentuhan kreativitas yang lebih positif, sehingga warisan budaya yang penuh makna tidak hilang ditelan zaman dan harus terus berkembang lebih baik, lebih tertata, dan lebih bermakna.

"Terakhir saya sampaikan, mari kita jaga seluruh rangkaian kegiatan agar tetap menjunjung tinggi ketertiban, keamanan, dan keselamatan. Jadikan festival ini sebagai ajang mempererat persaudaraan. Hindari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah Ramadhan maupun kenyamanan masyarakat," ucapnya.

Saat ini, sudah saatnya tradisi budaya islami sangat patut dirawat dan dijaga bersama. Di tengah arus globalisasi dan gempuran budaya instan, pastinya Festival arakan sahur menjadi pengingat bahwa identitas lokal adalah fondasi kebanggaan. Bukan sekadar nostalgia, tetapi festival arakan sahur juga akan menjadi investasi sosial bagi generasi muda ke depan agar tetap mengenal akar budayanya.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads