Sejarah Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan dan Hikmah di Baliknya

Sejarah Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan dan Hikmah di Baliknya

Rika Amelia - detikSumbagsel
Rabu, 04 Mar 2026 20:00 WIB
Muslim boy reads the quran in mosque islamic concept
Foto: Ilustrasi membaca Quran. (Getty Images/wichianduangsri)
Palembang -

Nuzulul Quran merupakan malam turunnya wahyu pertama kepada Muhammad SAW. Momen tersebut diperingati setiap tanggal 17 Ramadan.

Nuzulul Quran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik balik peradaban manusia saat cahaya kebenaran mulai menyinari kegelapan zaman jahiliyah melalui perantara Malaikat Jibril di Gua Hira.

Peringatan ini menjadi kesempatan emas bagi umat Muslim untuk merenungi kembali mukjizat terbesar Islam sebagai pedoman hidup yang abadi. Dengan memahami sejarah dan hikmah di baliknya, kita diajak untuk memperkuat interaksi dengan Al-Quran, baik melalui tilawah maupun pengamalan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini detikSumbagsel rangkum penjelasan mengenai sejarah Nuzulul Quran yang diperingati pada malam 17 Ramadan, lengkap dengan makna dan hikmah yang terkandung didalamnya. Yuk simak!

Sejarah Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan

Melansir jurnal berjudul Nuzulul Quran : Sejarah dan Makna Turunnya Al-Quran dalam Perspektif Islam oleh Mutmainna dkk dan laman Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Nuzulul Qur'an adalah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadan. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi berusia 40 tahun dan sedang berkhalwat di Gua Hira, yang terletak di Jabal Nur, dekat Kota Mekah.

ADVERTISEMENT

Pada malam tersebut, Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama sebagai tanda dimulainya masa kerasulan beliau.

Wahyu pertama yang diturunkan adalah lima ayat awal dari Surah Al-'Alaq dalam Al-Qur'an. Malaikat Jibril memerintahkan Nabi dengan kata "Iqra" (bacalah) sebanyak tiga kali.

Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat membaca, lantas menjawab bahwa dirinya tidak bisa membaca. Setelah itu, Jibril membacakan ayat-ayat pertama yang menjadi awal turunnya Al-Qur'an. Yang artinya:

1. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!

2. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah! Tuhanmulah yang maha mulia.

4. Yang mengajar manusia dengan pena

5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW pulang dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Beliau meminta kepada istrinya, Khadijah binti Khuwailid, untuk menyelimutinya.

Khadijah kemudian menenangkan beliau dan mendengarkan kisah tentang peristiwa yang baru saja dialaminya di Gua Hira.

Untuk memastikan peristiwa tersebut, Khadijah membawa Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang yang memahami kitab-kitab terdahulu. Setelah mendengar penjelasan Nabi, Waraqah menyatakan bahwa sosok yang datang kepadanya adalah Malaikat Jibril, dan ia meyakini bahwa Muhammad telah diangkat menjadi nabi.

Setelah peristiwa 17 Ramadan itu, wahyu tidak turun sekaligus, melainkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Proses turunnya Al-Qur'an terbagi dalam dua periode, yaitu periode Mekah dan periode Madinah.

Periode Mekah berlangsung sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Sedangkan periode Madinah berlangsung setelah hijrah hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Hikmah di Balik Malam Nuzulul Quran

Peringatan malam Nuzulul Quran memiliki banyak sekali hikmah dibaliknya, yakni mengingatkan umat Islam bahwa Al-Quran merupakan pedoman hidup mereka yang diturunkan secara berangsur-angsur. sehingga dapat memudahkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam memahami serta mengamalkan ajaran Islam secara bertahap, dan bisa langsung diterapkan sesuai kondisi umat saat itu.

Hikmah lainnya adalah sebagai penguat hati Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah. Di tengah berbagai tantangan, penolakan, dan tekanan dari kaum Quraisy, setiap wahyu yang turun menjadi peneguh dan penenang bagi beliau.

Ayat-ayat yang diturunkan memberikan bimbingan langsung dalam menghadapi situasi yang sedang terjadi. Sehingga perjuangan dakwah terus berjalan dengan penuh keyakinan.

Selain itu, banyak ayat Al-Qur'an yang turun sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi umat. Wahyu hadir sesuai dengan konteks sosial dan peristiwa yang terjadi, sehingga ajarannya relevan dan aplikatif.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an membimbing umat secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan, baik ibadah, sosial, maupun kemasyarakatan.

Malam Nuzulul Qur'an juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Dengan mengenang peristiwa tersebut, umat Islam dapat menyadari besarnya perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah Islam.

Peristiwa ini menumbuhkan rasa syukur atas nikmat petunjuk yang telah diberikan kepada seluruh umat manusia.

Wahyu pertama yang berbunyi "Iqra'" atau perintah membaca menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Hal ini menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun di atas dasar ilmu, pendidikan, dan pencarian pengetahuan.

Pesan tersebut tetap relevan hingga saat ini, mendorong umat Islam untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Hikmah yang paling utama dari malam Nuzulul Qur'an adalah dorongan untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur'an dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca, memahami, dan menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi bentuk nyata penghormatan terhadap peristiwa turunnya wahyu.

Momentum ini menjadi saat yang tepat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.

Makna Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan

Nuzulul Qur'an bukan sekedar peristiwa sejarah turunnya Al-Qur'an, tetapi juga menjadi momentum introspeksi bagi setiap Muslim. Peringatan ini mengajak umat Islam untuk menilai sejauh mana Al-Qur'an telah dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam sikap, ucapan, maupun keputusan hidup.

Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki kualitas iman, ibadah, dan amal agar semakin selaras dengan nilai-nilai Al-Qur'an.

Pada bulan Ramadan, khususnya malam Nuzulul Qur'an, umat Islam dianjurkan memperbanyak tadabur atau merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 82, "Afalaa yatadabbaruunal Qur'aan..." yang artinya, "Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an?"

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an harus dipahami secara mendalam agar dapat diamalkan secara nyata dalam kehidupan.

Makna Nuzulul Qur'an juga memiliki dimensi sosial. Ajarannya tidak hanya membentuk pribadi yang lebih baik, tetapi juga menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat seperti krisis moral, ketidakadilan, serta masalah sosial dan ekonomi. Al-Qur'an hadir sebagai petunjuk kehidupan yang menyeluruh mencakup akidah, ibadah, akhlak, hingga kemasyarakatan dan tetap relevan sepanjang zaman.

Malam 17 Ramadan ini juga memiliki beberapa makna penting, yakni:

  • Makna Spiritual: Dapat memberikan petunjuk hidup bagi umat manusia
  • Makna Sosial : Mampu mengubah struktur masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang lebih beradab.
  • Moralitas : Menekankan pentingnya nilai-nilai kejujuran, keadilan dan kasih sayang.

Nah itulah sejarah malam Nuzulul Quran lengkap dengan hikmah dan makna yang terkandung didalamnya. Semoga bermanfaat ya!

Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker BeritaKlik.com

Halaman 2 dari 4


Simak Video "DPD PDIP Jatim Gelar Peringatan Nuzulul Quran, Said Abdullah Santuni Anak Yatim dan Dhuafa"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads