Penyakit campak: Penyebab hingga Bahaya Penularan yang Wajib Kamu Ketahui

Penyakit campak: Penyebab hingga Bahaya Penularan yang Wajib Kamu Ketahui

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Minggu, 08 Mar 2026 03:00 WIB
Ilustrasi Campak pada Anak
Ilustrasi Campak pada Anak (Foto: iStock)
Palembang -

Belakangan ini, isu penyakit campak kembali menjadi sorotan dan perhatian serius di ranah kesehatan. Bukan cuma sekedar tren di media sosial, tapi memang ada peningkatan kasus yang cukup signifikan di berbagai daerah di Indonesia.

Dirilis dari data nasional Kemenkes, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Memasuki 2026 hingga Minggu ke-7, angka kasus kembali muncul dengan 8.224 suspek, 572 terkonfirmasi, dan 4 kematian.

Bahkan ditemukan 21 KLB (Kejadian Luar Biasa) suspek dan 13 KLB terkonfirmasi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat mudah menular melalui udara ketika penderita bernapas, batuk, atau bersin. Meski dapat menyerang siapa saja, anak-anak menjadi kelompok paling rentan, dan jika tidak ditangani dengan tepat, campak dapat berujung pada komplikasi berat hingga kematian.

Karena itu, yuk detikers kita pahami lebih dalam penyebab hingga bahaya penularan penyakit campak agar bisa lebih waspada!

ADVERTISEMENT

Apa Penyebab dan Faktor Risiko Campak ?

Campak bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Penyakit ini disebabkan oleh virus bernama Morbillivirus yang cara kerjanya cukup licik, ia menyerang sel tubuh menggunakan protein khusus yang disebut H-protein.

Begitu virus ini masuk ke tubuh, masa inkubasinya berkisar antara 7 hingga 12 hari sebelum gejala seperti demam, ruam kemerahan, batuk, dan mata merah mulai muncul, yang bikin campak berbahaya, virus ini bisa menular sejak 4 hari sebelum ruam terlihat hingga 4 hari setelahnya, bahkan mampu bertahan di udara dan permukaan benda selama kurang lebih dua jam.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh Ramadhani dkk. dan diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, ada empat faktor risiko utama yang terbukti memperparah penyebaran campak di Indonesia. Yang paling tinggi resikonya ternyata adalah kepadatan hunian, orang yang tinggal di rumah dengan kepadatan tidak memenuhi standar berisiko hampir 4 kali lipat lebih mudah tertular campak.

Ini masuk akal, karena campak menyebar lewat udara, dan ruangan yang sesak tanpa ventilasi baik jadi surga bagi virus untuk berpindah dari satu orang ke orang lain.

Faktor berikutnya adalah pengetahuan ibu tentang campak dan imunisasi. Ibu yang kurang paham soal pentingnya vaksin cenderung tidak membawa anaknya untuk diimunisasi, dan ini terbukti meningkatkan risiko anak terkena campak hampir 4 kali lebih besar.

Status imunisasi sendiri juga menjadi faktor kritis, anak yang belum mendapat vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) berisiko 3,5 kali lebih tinggi tertular.

Tak kalah penting, status gizi anak juga berperan besar. Anak dengan gizi buruk memiliki risiko dua kali lebih tinggi terkena campak dibandingkan anak dengan gizi baik. Ini karena nutrisi yang cukup sangat dibutuhkan tubuh untuk membentuk imunitas yang kuat, termasuk setelah imunisasi. Artinya, menjaga anak tetap bergizi baik bukan hanya soal tumbuh kembang, tapi juga soal perlindungan dari penyakit berbahaya seperti campak.

Gejala dan Bahaya Penularan Campak

Dikutip dari biofarma.co.id, campak tidak datang tiba-tiba tanpa tanda, penyakit ini punya serangkaian gejala yang biasanya muncul bertahap dan sering kali disalahartikan sebagai flu biasa di awal kemunculannya.

Gejala awal yang paling umum dirasakan adalah pilek, batuk, dan sakit tenggorokan yang disertai demam tinggi. Tubuh pun terasa lemas, otot-otot mulai terasa nyeri, dan nafsu makan perlahan menurun. Tidak jarang penderita juga mengalami mual, muntah, hingga diare yang membuat kondisi tubuh semakin melemah.

Salah satu tanda khas campak yang membedakannya dari penyakit lain adalah munculnya bercak putih keabu-abuan pada bagian dalam mulut dan tenggorokan, atau yang dikenal sebagai bercak koplik.

Setelah beberapa hari, gejala ini biasanya diikuti oleh ruam merah yang mulai muncul di wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Mata pun tampak merah dan sensitif terhadap cahaya.

Jika detikers melihat anggota keluarga, terutama anak-anak mengalami kombinasi gejala ini, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan terdekat, karena penanganan dini sangat menentukan proses pemulihan.

Penularan campak bahkan bisa terjadi sebelum gejala terlihat jelas, penderita sudah dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam merah muncul di kulit, dan masih berpotensi menularkan penyakit hingga empat hari setelah ruam tersebut muncul.

Penularannya pun tidak butuh kontak langsung, cukup berada di ruangan yang sama dengan penderita sudah cukup berisiko, karena virus campak mampu bertahan di udara maupun di permukaan benda hingga dua jam lamanya.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang tertular campak. Mereka yang belum mendapatkan vaksin MMR menjadi kelompok paling rentan. Selain itu, tubuh yang kekurangan vitamin A juga berisiko mengalami gejala campak yang jauh lebih parah.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads