Ribuan pemudik mulai memadati Stasiun KAI Kertapati, Palembang, pada Sabtu (14/3/2026). Di tengah banyaknya pemudik yang sedang duduk di kursi tunggu, terselip kisah perjuangan para penumpang yang harus war tiket sejak Januari demi bisa pulang ke kampung halaman.
Pantauan detikSumbagsel di lokasi, area ruang tunggu keberangkatan tampak dipadati pemudik. Barang bawaan seperti kardus dan koper menumpuk di sela-sela antrean. Banyak pemudik memenuhi setiap sudut tempat duduk penunggu, bahkan tak sedikit yang terpaksa berdiri menunggu jadwal keberangkatan kereta api (KA).
Antusiasme tahun ini terasa luar biasa. Hal ini terungkap dari pengakuan para penumpang yang sudah mencuri start memesan tiket sejak awal tahun agar tidak kehabisan kuota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi sebagian pemudik, persiapan mudik bukan lagi soal berkemas baju, melainkan adu kecepatan jari di aplikasi pemesanan. Tiket kelas Ekonomi menjadi incaran utama karena harganya yang paling murah.
Sari (28), salah satu pemudik tujuan Lampung, mengaku tidak ingin mengambil risiko. Ia bahkan sudah memantau jadwal sejak tiga bulan lalu.
"Saya sudah standby cari tiket dari bulan Januari kemarin. Alhamdulillah dapat yang Ekonomi, kalau cari di bulan Februari kemungkinan sudah habis, soalnya peminatnya banyak banget," ujar Sari.
Namun, tidak semua pemudik seberuntung Sari. Tingginya permintaan membuat tiket kelas ekonomi habis dalam waktu cepat, menyisakan pilihan kelas yang lebih mahal bagi mereka yang kalah cepat.
Budi (22), pemudik lainnya yang hendak menuju Lampung juga, tampak sedang mengantar temannya yang berhasil mendapat tiket Ekonomi. Sementara Budi sendiri terpaksa mengeluarkan uang lebih banyak karena kebagian kelas Bisnis.
"Niatnya mau ambil yang Ekonomi bareng teman ini biar hemat ongkos, tapi pas saya cek di Februari kemarin sudah penuh semua, merah semua di aplikasi. Daripada saya nggak jadi pulang dan nggak ketemu keluarga, ya akhirnya ambil yang Bisnis saja yang penting ada kursi dan bisa berangkat hari ini," jelas Budi.
Kisah serupa dialami Shanty (25), pemudik tujuan Lubuklinggau. Ia mengaku harus terjaga hingga tengah malam pada Januari lalu demi mengamankan kursi ke arah Lubuklinggau.
"Buat pulang itu tantangannya luar biasa. Saya sudah siap-siap dari Januari, pas jam 12 malam teng langsung pesan. Teman saya yang baru cari di bulan ini (Maret) kemarin sudah tidak kebagian sama sekali, terpaksa cari alternatif travel yang harganya naik dua kali lipat," kata Shanty.
Menjelang jam keberangkatan, kepadatan di Stasiun Kertapati terus meningkat. Bagi para pemudik, meski harus bersaing sejak awal tahun dan berdesakan di ruang tunggu, semua terbayar asalkan bisa merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)