Pemkab Banyuasin terus memperkuat komitmen memutus mata rantai penularan tuberkulosis (TBC) melalui inovasi berbasis desa dan pemanfaatan teknologi digital. Upaya itu sebagai bagian dari pencapaian target rencana aksi daerah (RAD) penanggulangan TBC.
Sekretaris Daerah Banyuasin Erwin Ibrahim mengatakan komitmen itu diwujudkan melalui program Desa Siaga TBC yang telah diresmikan 27 November 2025.
"Hingga saat ini, sebanyak 186 dari total 288 desa di Banyuasin telah menyatakan kesiapan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan pendampingan pengobatan pasien TBC di tingkat desa," ujar Erwin, Rabu (8/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Pemkab Banyuasin juga mengembangkan inovasi digital Serambe (Sistem Informasi Berbasis Elektronik) yang berfungsi sebagai platform pemantauan dan pelaporan kasus TBC secara real-time. Melalui sistem ini, pengambilan kebijakan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.
Upaya penanggulangan TBC juga diperkuat melalui optimalisasi pemanfaatan dana desa sesuai Perbup 88/2019, yang diarahkan untuk mendukung program kesehatan masyarakat. Termasuk penanggulangan penyakit lainnya, seperti AIDS, malaria, dan lainnya.
"Program ini meliputi pembinaan kesehatan masyarakat, pengelolaan Posyandu, serta penyediaan layanan kesehatan dasar di desa," katanya.
Tidak hanya itu, sinergi lintas sektor juga terus diperkuat dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari OPD, dunia usaha melalui program CSR, Baznas, hingga BPJS dan kader kesehatan desa. Dukungan yang diberikan antara lain dalam bentuk penyediaan kebutuhan nutrisi serta bantuan ekonomi bagi pasien TBC selama masa pengobatan.
"Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, capaian penanggulangan TBC di Banyuasin menunjukkan tren positif. Pada 2024, realisasi pengobatan mencapai 4.279 kasus dari target 4.027 atau melampaui 100 persen. Sementara pada 2025, tercatat 1.853 kasus dengan tingkat keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate) sebesar 90,19 persen. Untuk tahun ini, direncanakan penemuan 16.090 kasus dengan keberhasilan pengobatan sebanyak 2.977 pasien," jelasnya.
Menurut Sekda, keberhasilan penanggulangan TBC sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak.
"TBC penanggulangan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan pendekatan terpadu serta dukungan inovasi seperti Desa Siaga TBC dan Serambe, kami optimis target eliminasi TBC dapat tercapai," ujarnya.
Menurutnya, dengan luas wilayah Banyuasin mencapai 11.832,99 km² serta kondisi geografis didominasi perairan dan rawa, inovasi berbasis digital dan pemberdayaan masyarakat desa menjadi kunci utama keberhasilan program.
"Melalui berbagai langkah strategi tersebut, Kabupaten Banyuasin terus menunjukkan komitmennya sebagai salah satu daerah dengan praktik terbaik dalam pengendalian TBC berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat di Sumsel," tukasnya.
(dai/dai)