adan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan merilis peringatan dini terkait potensi curah hujan tinggi yang diprediksi mencapai puncaknya pada bulan April 2026. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang dapat dipicu oleh intensitas hujan sedang hingga lebat.
Koordinator BMKG Provinsi Sumatera Selatan sekaligus Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan saat ini sedang memasuki fase puncak musim hujan kedua.
"Curah hujan saat puncak musim hujan di bulan April 2026 diprediksi berada pada kategori Curah Hujan Tinggi dengan Intensitas Hujan Sedang hingga Lebat," ungkap Wandayantolis pada detikSumbagsel, Senin (13/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, curah hujan selama April 2026 diprediksi mencapai angka 300 hingga 400 mm. Meskipun intensitasnya tinggi, sifat hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan secara umum masih dikategorikan dalam kategori normal.
Beberapa wilayah di Sumatera Selatan terpantau masuk dalam kategori curah hujan tinggi, di antaranya, Palembang, Prabumulih, PALI, Muara Enim, Musi Rawas Utara bagian timur, dan Musi Rawas bagian utara, Musi Banyuasin bagian selatan, Banyuasin bagian selatan, OKU bagian utara, OKU Timur bagian timur, Ogan Ilir, serta OKI bagian barat.
Sementara itu, wilayah lainnya di Sumatera Selatan diprediksi berada dalam kategori curah hujan Menengah dengan intensitas 200 hingga 300 mm.
Wandayantolis menekankan pentingnya mitigasi karena cuaca ekstrem ini berpotensi mengganggu berbagai sektor kehidupan seperti transportasi, kebencanaan serta kesehatan dan lingkungan.
"Mitigasi sangat penting dilakukan karena cuaca ekstrem ini berpotensi mengganggu berbagai sektor, mulai dari risiko kecelakaan transportasi akibat jarak pandang terbatas, ancaman bencana seperti banjir dan longsor, hingga masalah kesehatan akibat kelembapan udara yang tinggi," ujar Wandayantolis.
Secara global, faktor pengendali iklim ENSO diprediksi tetap berada pada fase Netral hingga pertengahan tahun ini. Namun, Wandayantolis memproyeksikan adanya transisi menuju kondisi El Nino Lemah yang akan mulai terjadi pada semester kedua tahun 2026.
"Pentingnya mewaspadai dan memitigasi potensi dampak kebencanaan hidrometeorologi untuk mengurangi risiko bencana, baik secara materi maupun korban jiwa," tegas Wandayantolis.
Di sisi lain, pada musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, tutupan awan biasanya berkurang di pagi hingga siang hari. Hal ini menyebabkan sinar matahari langsung ke permukaan tanpa penghalang, sehingga suhu mencapai angka 34°C atau lebih.
"Tingginya kelembapan udara (karena sisa uap air musim hujan) ditambah suhu yang panas pada siang hari mengakibatkan malam hari terasa sedikit gerah," ujarnya.
Siswanto menyebut, karena kondisi suhu yang cukup panas hingga mencapai 34°C dan mulai berkurangnya potensi hujan. Hal ini meningkatkan potensi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera Selatan.
"Karhutla biasa terjadi khususnya di sekitar Palembang dan beberapa wilayah lainnya yang memiliki lahan gambut cukup luas memang mulai meningkat secara signifikan," katanya.
Pihaknya pun mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu memantau titik panas.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk Selalu pantau Titik Panas (Hotspot) atau informasi ter-update dari BMKG setempat mengenai sebaran titik panas di wilayah Sumsel," tuturnya.
Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(dai/dai)