Infrastruktur dan Sedimentasi Jadi Pemicu Banjir Palembang

Sumatera Selatan

Infrastruktur dan Sedimentasi Jadi Pemicu Banjir Palembang

Mutiara Helia Praditha - detikSumbagsel
Sabtu, 25 Apr 2026 12:00 WIB
Salah satu titik lokasi banjir yang terjadi di Palembang
Foto: Salah satu titik lokasi banjir yang terjadi di Palembang (Welly Jasrial Tanjung)
Palembang -

Pemerintah Kota Palembang melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda Litbang) mengungkap sejumlah faktor yang memperparah banjir di Kota Palembang.

Permasalahan tersebut terjadi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bendung, yang disebabkan oleh kondisi infrastruktur dan lingkungan yang belum optimal, sehingga menghambat aliran air dan memperburuk genangan saat hujan deras.

Kepala Bappeda Litbang Kota Palembang, Korlena, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama adalah tingginya sedimentasi di aliran sungai. Kondisi ini membuat air sulit mengalir menuju pompa yang berfungsi mengendalikan debit air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pompa di Bendung itu ada enam unit, namun tidak beroperasi maksimal karena aliran air terhambat sedimentasi. Debit air yang masuk ke pompa menjadi kecil," ujar Korlena, saat diwawancarai, Kamis (23/4/2026).

Selain sedimentasi, Korlena menyebutkan bahwa drainase yang sempit turut memperparah kondisi banjir. Beberapa saluran air dinilai tidak mampu menampung debit air dalam jumlah besar, terutama saat curah hujan tinggi.

ADVERTISEMENT

Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah jembatan di sepanjang Sungai Bendung yang dinilai terlalu rendah. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air terhambat dan memperlambat pergerakan air menuju titik pembuangan.

"Beberapa jembatan di kawasan Dempo hingga 10 Ilir posisinya terlalu rendah. Ditambah sedimentasi yang tinggi, aliran air jadi tidak lancar," jelasnya.

Permasalahan ini, lanjut Korlena, menjadi bagian dari kajian dalam program nasional yang didukung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta pendanaan dari Bank Dunia. Program tersebut memberikan sejumlah rekomendasi teknis untuk mengurangi risiko banjir.

Rekomendasi itu meliputi pengerukan sedimentasi, perluasan dan pendalaman kolam retensi, serta perkuatan turap di sepanjang aliran sungai. Upaya ini bertujuan agar air dari kawasan tangkapan DAS Bendung dapat mengalir lebih optimal menuju pompa.

Selain faktor teknis, Korlena juga menyinggung adanya kerusakan infrastruktur yang turut memperparah banjir. Salah satunya adalah tanggul atau bagian kolam retensi yang jebol, sehingga air meluap ke jalan.

"Air yang seharusnya dipompa kembali justru meluap ke jalan karena ada yang jebol. Hal ini kadang tidak disadari masyarakat, padahal justru memperparah kondisi banjir," katanya.

Saat ini, Pemerintah Kota Palembang melalui Bappeda Litbang terus melakukan pendampingan terhadap pelaksanaan program penanganan banjir, termasuk membantu penyelesaian persoalan lahan yang masih menjadi kendala.

Proyek tersebut masih dalam tahap proses lelang dengan target penyelesaian pada 2027. Namun, pemerintah berharap pengerjaan dapat diselesaikan lebih cepat apabila seluruh tahapan berjalan lancar.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads