BMKG Sebut Sumsel Masuk Kemarau Akhir Juni, Waspada El Nino hingga September

Sumatera Selatan

BMKG Sebut Sumsel Masuk Kemarau Akhir Juni, Waspada El Nino hingga September

Ani Safitri - detikSumbagsel
Rabu, 29 Apr 2026 22:20 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau
Ilustrasi Musim Kemarau (Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790)
Palembang -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi seluruh wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) akan memasuki musim kemarau pada akhir Juni 2026. Fenomena El Nino kategori moderat hingga kuat membayangi periode kering tahun ini, yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan lebih ekstrem hingga September.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Staklim Sumsel Nandang Pangaribowo menjelaskan bahwa transisi musim akan dimulai secara bertahap dari sisi timur.

"Adapun luasan wilayah Sumsel yang akan mengalami periode awal musim kemarau sesuai dengan normal musimnya mulai dari Pesisir Timur wilayah Sumsel seperti Kabupaten OKI, sebagian Muba, dan sebagian OKU Timur," kata Nandang pada detikSumbagsel, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah menyisir wilayah timur, kekeringan diprediksi meluas ke wilayah tengah seperti Palembang, Banyuasin, hingga Muara Enim pada akhir Mei. Nandang menyebutkan bahwa pergerakan ini akan terus berlanjut hingga mencakup seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan pada penghujung bulan Juni mendatang.

ADVERTISEMENT

Masyarakat diminta tidak lengah karena kemarau kali ini dibarengi dengan anomali cuaca yang cukup signifikan. BMKG mendeteksi adanya aktivitas El Nino yang diprediksi akan terus bertahan dan memberikan dampak kering yang lebih terasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Prediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan lebih panjang karena diprediksi ada fenomena El Nino Moderate-Kuat hingga bulan September 2026 nanti," tegasnya.

Nandang merinci bahwa durasi kemarau yang panjang ini berpotensi memicu krisis di berbagai lini kehidupan masyarakat. Sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian utama yang harus segera dimitigasi oleh pemerintah daerah.

"Ancamannya jelas, jika kemarau semakin panjang akan mengancam di banyak sektor, seperti pertanian, perkebunan, kesehatan, sumber daya air, serta karhutla yang berdampak pada sosial ekonomi dan keamanan," tuturnya.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads