Tim DVI Kesulitan Identifikasi Korban Bus ALS, Properti-Gigi Hancur Terbakar

Sumatera Selatan

Tim DVI Kesulitan Identifikasi Korban Bus ALS, Properti-Gigi Hancur Terbakar

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Minggu, 10 Mei 2026 13:00 WIB
Petugas dari Dokpol Polda Sumatera Selatan menggotong kantong berisi jenazah korban kecelakaan bus PO ALS yang terbakar setibanya di RS Bhayangkara Mohamad Hasan Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (7/5/2026). Sebanyak 16 jenazah korban kecelakaan bus PO ALS dengan truk tangki di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan dibawa ke RS Bhayangkara Mohamad Hasan Palembang untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumsel. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom.
Foto: Jenazah korban kecelakaan bus ALS (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Palembang -

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri mengungkap sulitnya proses identifikasi korban kecelakaan maut bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Jalinsum, Muratara, Sumatera Selatan.

Kondisi jenazah yang hangus terbakar membuat sejumlah metode identifikasi seperti pencocokan properti, ciri fisik hingga gigi korban tidak dapat dilakukan secara maksimal. Saat ini, tim DVI hanya berharap pada hasil pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas korban.

Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri, Kombes Wahyu Hidayati mengatakan sebagian besar barang pribadi korban ditemukan terpisah dari tubuh korban saat proses evakuasi di lokasi kejadian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Benda-benda seperti cincin, jam tangan, baju, jaket, dompet itu sebagian besar sudah terlepas dan tidak menempel lagi pada tubuh korban," ujar Wahyu, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Wahyu, tim DVI menemukan sejumlah barang milik korban di lokasi kejadian seperti kepala ikat pinggang, dompet, hingga bagian jam tangan. Namun, seluruh barang tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari jenazah yang mana.

ADVERTISEMENT

"Kita menemukan properti di TKP, tetapi tidak bisa memastikan itu milik jenazah siapa karena tidak melekat pada tubuh korban," katanya.

Wahyu menjelaskan pihak keluarga sebenarnya telah memberikan data antemortem yang cukup lengkap untuk membantu proses identifikasi. Data tersebut mulai dari tahi lalat, tato, warna kulit rambut hingga ciri fisik lainnya.

Namun, karena kondisi jenazah yang rusak berat akibat terbakar membuat ciri-ciri tersebut tidak lagi dapat dikenali.

"Data yang kami terima dari keluarga lengkap, tetapi pada jenazahnya tidak bisa kami temukan karena kondisi jenazah yang sulit untuk dikenali," tuturnya.

Tak hanya itu, metode identifikasi melalui gigi yang selama ini cukup efektif dalam kasus kebakaran juga mengalami kendala. Panas api yang sangat tinggi membuat struktur gigi dan tulang korban menjadi rapuh bahkan hancur.

"Awalnya kami berharap identifikasi bisa dilakukan dari gigi, karena pengalaman sebelumnya cukup membantu. Tetapi dalam kejadian ini panasnya api sangat besar sehingga tulang dan gigi menjadi rapuh dan membuatnya hancur," ujarnya.

"Karena itu, pemeriksaan DNA kini menjadi satu-satunya harapan utama untuk mengungkap identitas korban," ungkapnya.

Wahyu menyebut hingga saat ini tim DVI telah menerima 15 sampel DNA antemortem dari keluarga korban untuk dibandingkan dengan 17 jenazah yang ditemukan.

"Dari 15 sampel AM yang sudah masuk, itu bisa dipakai untuk memeriksa 16 jenazah," katanya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, tim DVI mengidentifikasi 13 korban laki-laki dewasa, tiga perempuan dewasa, dan satu anak-anak. Namun jenis kelamin korban anak tersebut belum dapat dipastikan karena kondisi tubuh yang tidak utuh.

"Untuk jenazah anak-anak kami belum bisa memastikan jenis kelaminnya," ujarnya.

Tim DVI juga menduga satu jenazah anak yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan laporan keluarga yang kehilangan seorang anak bernama Bella. Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan sebelum hasil DNA keluar.

"Kami tidak berani memastikan sebelum sesuai prosedur. Jangan sampai terjadi kesalahan identitas," tegasnya.

Saat ini, seluruh sampel DNA korban dan keluarga masih diperiksa di Laboratorium Forensik Mabes Polri. Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar paling cepat lima hari dan paling lama dua minggu.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads