Cerita Petani Memulihkan Lahan Kritis Jalur Jelajah Gajah di Bukit Tigapuluh

Jambi

Cerita Petani Memulihkan Lahan Kritis Jalur Jelajah Gajah di Bukit Tigapuluh

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Kamis, 28 Mei 2026 09:31 WIB
Petani menanam bibit pohon yang tak digemari gajah, hasil pengembangan mandiri di kebun miliknya menjadi agroforestri sebagai langkah pemulihan lahan kritis di Bukit Tigapuluh
Foto: Petani menanam bibit pohon yang tak digemari gajah, hasil pengembangan mandiri di kebun miliknya menjadi agroforestri sebagai langkah pemulihan lahan kritis di Bukit Tigapuluh (Dimas Sanjaya)
Tebo -

Ngasila (35), petani perempuan di Tebo, Jambi, trauma menanam kelapa sawit di kebunnya yang berada di kawasan bentang alam Bukit Tigapuluh. Sawit yang ditanamnya selalu gagal tumbuh karena menjadi makanan gajah Sumatera yang membuat konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Sudah empat kali Ngasila bersama suaminya Supri mencoba menanam sawit di lahan miliknya di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kecamatan Sumay, Tebo, empat kali pula harapannya luluh lantak karena tanaman sawitnya dimakan kawanan gajah liar.

"Sudah 4 kali nanam, sudah putus asa gak nanam sawit lagi, kapok," kata Ngasila cerita kepada detikSumbagsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibu rumah tangga dengan satu orang anak itu masih mengingat jelas bagaimana suara ranting patah dan dentuman langkah gajah pada malam hari menjadi mimpi buruk yang terus menghantuinya. Sawit-sawit muda ditanam rata dengan tanah hanya dalam semalam.

"Kalau malam sudah dengar suara pohon tumbang, kami langsung takut, tidak bisa tidur. Besok paginya kebun sudah habis," ujarnya lirih mengingat kejadian.

ADVERTISEMENT

Sepekan setelah Idulfitri 2026 lalu, sekelompok kawanan gajah liar kembali muncul di perkebunan warga Desa Muara Kilis. Gajah memakan pohon-pohon muda di lahan perkebunan warga, termasuk sawit muda milik para petani.

Ngasila, petani perempuan di Tebo, Jambi, memperlihatkan biji kopi dari pohon yang ditanam di sebagian kebun karet miliknyaNgasila, petani perempuan di Tebo, Jambi, memperlihatkan biji kopi dari pohon yang ditanam di sebagian kebun karet miliknya Foto: Dimas Sanjaya

Ngasila dulu menganggap sawit sebagai jalan keluar untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Harga yang menjanjikan membuat banyak warga di desanya berlomba membuka kebun sawit.

Namun, lahan yang ia garap ternyata berada di jalur lintasan gajah Sumatera. Konflik manusia dan gajah di bentang alam Bukit Tigapuluh telah berlangsung selama lebih dari satu dekade terakhir. Kawanan gajah kerap masuk ke perkebunan warga dan memakan tanaman, terutama sawit muda.

Awalnya, Ngasila masih mencoba bertahan. Setelah kebun pertama rusak, ia kembali membeli bibit baru. Ketika rusak lagi, ia mencoba menanam ulang untuk kedua dan ketiga kali. Tetapi hasilnya tetap sama. Pohon-pohon sawit yang baru tumbuh kembali dicabut dan dipatahkan gajah.

"Sudah habis banyak uang. Bibit beli lagi, pupuk beli lagi. Kita mau nanam lagi sudah kehabisan modal, sudah mau berbuah lagi gajah datang. Kita gak tahu kapan datangnya," katanya

Tak lagi menanam sawit, Ngasila kini fokus menjadi petani karet sebagai penopang utama ekonomi keluarga. Ngasila sadar karet pun terkadang tak bisa selalu diandalkan.

Dia pun menanam tanaman lain di kebunnya agar tetap bisa mendapat nilai ekonomi lebih. Konsep agroforestri mulai diliriknya. Dia juga menanam kopi di sebagian lahan karet miliknya.

Selama 2 tahun, dia mulai tekun menanam kopi dan telah membuahkan hasil. Meski belum bisa menjadi penopang utama, hasil perkebunan dari kopi cukup menambah pemasukan agar dapur tetap ngebul.

"Kalau kopi sekarang kita jual Rp50ribu perkilogram sudah menjadi biji. Jual kalau ada yang minta aja sama untuk konsumsi sendiri," ungkapnya.

Ngasila memilih menanam karet dan kopi di sebagian satu hektare lahannya. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, tanaman karet dan kopi lebih jarang dirusak gajah dibanding sawit muda yang dianggap lebih menarik bagi kawanan satwa tersebut.

Kini, pagi-pagi sekali ia sudah berada di kebun karetnya. Dengan pisau sadap di tangan, ia menoreh batang demi batang pohon karet sebelum matahari meninggi. Di sela-sela kebun itu, kopi mulai tumbuh.

Hasilnya memang tidak membuatnya cepat kaya. Namun bagi Siti, setidaknya tanaman itu memberinya rasa tenang. "Kalau kopi gajah memang tidak mau," ujarnya.

Tanaman kopi kini juga menjadi penopang yang dilirik sejumlah petani di lanskap Bukit Tigapuluh. Mereka memagari kebun dengan tanaman kopi yang tak digemari oleh gajah.

Apri, juga salah satu petani di sana melakukan agroforestri dengan menanam pohon buah dan kopi di antara tanaman sawit dan karet. Bagi Apri, keunggulan tanaman kopi bisa menjadi tabungan tahunan bagi para petani.

"Kalau tanaman kopi dia tidak menggqngu tanaman inti khusus sawit dan karet. Dia tetap produksi, sedangkan kopi ini kan ada per musim, jadi bisa jadi tabungan," ujarnya.

Di tengah situasi itu, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia kini tengah menggalakkan program restorasi hutan di lanskap Bukit Tigapuluh. Melalui Program Restorasi Berbasis Masyarakat, WWF memulihkan kembali hutan yang kritis, sembari menguatkan ekonomi warga.

Program ini memiliki dua fokus utama. Pertama, memulihkan lahan kritis, kebun dan lahan milik warga, melalui penanaman kembali. Kedua, mengurangi konflik manusia dan gajah dengan menanam tanaman buah yang tidak disukai gajah sebagai penghalang alami. Di antaranya durian musang king, kopi, kelengkeng pingpong, dan alpukat mentega, tanaman bernilai ekonomi yang juga berfungsi ekologis.

Memulihkan Jalur Jelajah Gajah

Trauma akibat konflik dengan gajah perlahan mengubah cara pandang para petani di bentang alam Bukit Tigapuluh terhadap hutan dan kebun mereka sendiri. Jika dulu sebagian besar warga hanya berpikir bagaimana memperluas lahan sawit, kini mereka mulai mencoba hidup berdampingan dengan satwa liar yang sejak lama melintasi kawasan itu.

Upaya itu dilakukan Kelompok Tani Sepenat Unggul di Desa Muara Kilis, seperti pasangan Ngasila dan Supri, menjadi salah satu petani yang ikut dalam upaya pemulihan jalur jelajah gajah di desanya. Bersama sejumlah petani lain, mereka mulai mengembangkan bibit tanaman hutan secara mandiri.

Bibit-bibit itu terdiri dari tanaman buah seperti durian musangking, kelengkeng, pohon kayu seperti gaharu dan meranti, hingga kopi, yang ditanam dengan metode tumpang sari di lahan kebun mereka.

Kelompok tani itu memiliki greenhouse sebagai tempat pengembangan bibit yang mereka siapkan. Bibit itu mereka semai sendiri secara sederhana menggunakan tanah dan pupuk alami yang juga dukungan WWF Indonesia yang turut mendukung pendampingan 7 kelompok tani di Desa Muara Kilis dan Desa Suo-Suo.

"Kalau bantuan WWF ini 40 batang, tapi kalau mau lebih kami kembangkan sendiri," kata Supri.

Supri, petani memperlihatkan bibit pohon untuk ditanam di kebun mereka yang berada jalur jelajah gajah Sumatera di bentang alam Bukit TigapuluhSupri, petani memperlihatkan bibit pohon untuk ditanam di kebun mereka yang berada jalur jelajah gajah Sumatera di bentang alam Bukit Tigapuluh Foto: Dimas Sanjaya

Cara bertani pun perlahan berubah. Lahan yang sebelumnya hanya ditanami sawit kini dibuat lebih beragam. Pohon kopi ditanam berdampingan dengan tanaman kayu dan buah-buahan hutan. Selain untuk menjaga ekonomi keluarga, pola itu juga diharapkan dapat mengembalikan vegetasi alami yang dulu banyak hilang.

Bagi para petani, metode tumpang sari dianggap lebih aman dibanding membuka lahan sawit monokultur. Selain mengurangi risiko gagal panen total, kebun yang lebih beragam juga dinilai mampu menjaga kondisi tanah dan menyediakan ruang hijau yang lebih baik bagi satwa.

"Kalau cuma satu tanaman, saat harga murah atau rusak, pemasukan susah. Jadi sekarang ada penopang, jeruk, kopi, durian," kata Mujiati (40) petani lain di Desa Muara Kilis.

Di beberapa titik kebun warga, tanaman-tanaman muda mulai tumbuh di antara pohon karet dan kopi. Meski belum sepenuhnya menghilangkan konflik, para petani percaya langkah kecil itu bisa menjadi awal untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam.

Mereka sadar, gajah bukan sekadar satwa liar yang datang merusak kebun. Hewan berbadan besar itu sebenarnya hanya sedang melintasi jalur yang telah mereka gunakan jauh sebelum manusia membuka perkebunan.

Di tengah ancaman konflik yang belum sepenuhnya hilang, para petani di bentang alam Bukit Tigapuluh kini tidak hanya menanam untuk kebutuhan hidup mereka sendiri. Cara petani ini agar manusia dan gajah bisa kembali berbagi ruang di tanah yang sama.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads